May 27, 2016

Kids Story part 4: Anak-anak dan Tekhnologi

Sejak usia dua tahun Rafa pengenal komputer dan telah faham pengoperasiannya walau masih tingkat dasar. Berbeda dengan Alfie, usia 4 tahun  jarinya masih gegagapan dan tentu saja Alfie lebih mengenal era gadged alias smartphone.

Jamannya PC ada permainan komputer yang masih aku ingat dan sangat digemari Rafa, Tarzan bergelantungan di pohon, menyusuri sungai, hutan dan lembah.

Saat papanya kembali, permainan bertambah, dari area balapan hingga dunia hewan dan kartun. Saat bermain game tentu saja aku memiliki waktu luang yang lebih banyak. Bisa tidur siang tanpa hambatan, selonjoran, nonton tivi tanpa gangguan, sms an, masak, beres beres rumah dengan aman dan lain sebagainya.

Apakah itu menyenangkan? Sekilas iya, anak anteng tanpa grasak grusuk huru hara ngusilin orang tuanya, permainannya bersih, murah meriah dan tidak perlu ke luar rumah. Tapi eitssss..... tunggu dulu!!

Bangun tidur yang terlintas sama si anak adalah game,  makan di suapin sambil nongkrongin game, rewel dikit anteng hanya menyodorin game, sosialisasi berkurang, tidak tertarik dengan permainan lain, temperament dan cepat marah. Kontrol emosi sangat payah, males bergerak dan masih banyak lagi yang lainnya.

Astaga, iya aku punya waktu luang jadi lebih banyak tapi di samping itu aku sedang menanam kerepotanku sendiri di kemudian hari. Ini seperti bom waktu yang akan menghancurkan masa depan anak anak dan keluargaku. Ada yang sungguh tidak beres di samping pemberian dan ke antengan si anak saat bermain game.

Saat mereka rewel tidak karuan, nyalain tivi dan biarkan mereka asik dengan sendirinya, etapi bukannya acara di tivi banyak sampah yang sungguh sangat susah mencari manfaatnya. Belum lagi tayangan-tayangan iklan yang mengajak siapapun melihatnya untuk bertindak konsumtif, seperti di paksa menerima apapun yang ada di dalamnya tanpa memberikan ruang buat penonton untuk protes. Kok bisa bisanya gegara coklat beng beng orang pada pisahan, dan ajaibnya manusia berlomba lomba menjadi hewan *tepokjidat*

Saat anak sedang berada di area yang menurut dia sungguh menyenangkan, rasanya akan terlalu susah jika semua harus aku hentikam seketika. Mulailah peraturan di rumah di tegakkan.

Bermain game hanya saat weekend. Nonton tivi dengan berbatas waktu. Memberi penjelasan kepada anak-anak tentang dampak negatif apabila mereka terlalu lama dengan bahasa yang mudah dan memberi contoh anak-anak yang telah kecanduan game dan tivi.

Sungguh tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa. Mereka sempat protes, menolak dan berulah selama beberapa hari. Aku tetap berpegang teguh, bahwa suatu hari nanti ada masanya kami tidak bisa mengontrol sepenuhnya apa yang mereka lakukan, lihat dan dengarkan. Hanya ketika mereka bertumbuh seperti inilah tugas kami untuk menasehati dan memupuknya lebih dalam dan kuat. Semoga kelak mereka mengerti dan terbawa hingga masa itu tiba.

Setelah pengurangan jam tayang dalam hari, berlanjut pengurangan pemakain dalam hitungan  jam bermain game. Hingga lambat laun mereka sudah tidak meminta. Menonton tivi sebisa mungkin aku dampingi apalagi ada tayangan dengan slogan SU-BO - R (segala umur - bimbingan orang tua - Remaja). Mengganti chanel sendiri apabila ada tayangan kekerasan, mengarah ke pornografi, dan sinetron-sinetron tidak jelas.

Bijak saat memakai smartphone. Bagaimanapun banyak hal positif yang bisa di peroleh dari benda bernama smartphone tersebut. Hanya saat-saat tertentu mereka bermain game, itupun telah memenuhi beberapa persyaratan seperti di larang rebutan apalagi sampai tangisan, main bareng dan hanya sebentar. Tidak ada satu anak satu hape.

Setiap minggu atau bulan, ke toko buku mencari bacaan yang menyenangkan dan bermanfaat. Membacanya bersama-sama dan menggambar. Saat longgar pergi ke taman. Tidak ragu bermain pasir dan lumpur. Ke tempat berbelanja dengan melibatkan mereka memilih barang. Membeli mainan yang lebih menguras otak dan tenaga. Alhamdulillah, dan semoga hingga kelak anak-anak keluar dari zona game dan tivi adicted dan lebih melakukan hal-hal yang bermamfaat.

#OneDayOnePost

May 26, 2016

Kids Story part 3: Hari Pertama Sekolah

"Mama masuk ya!" Pinta Rafa. Akupun menyetujui. Saat itu hanya 3 orang emak yang menemani anaknya hingga di dalam kelas, dan salah satunya adalah saya.

Semula Rafa enggan masuk ke ruangan kelas. Persis saat ia di taman kanak kanak, tidak mudah membawanya masuk ke ruangan. Bahkan berminggu-minggu Rafa hanya bermain di luaran.

Kali inipun demikian, tentu tidak pakai mengamuk. Karna masuk paling belakang, Rafa dapat kursi paling pojok, dan sang emak nangkring di kelas ikut belajar.

Hari ke-dua, sang guru sudah tidak mengijinkan anak-anak di temani hingga ke dalam kelas. Sebagai gantinya, boleh liat di kaca jendela. Rafa langsung keluar memberi pesan padaku "mama di samping jendela ya" dan dakupun manut.

Rafa belajar sambil mengawasiku, dia tidak membolehkanku untuk duduk di pinggiran tembok. Hari itu hanya saya yang berdiri dekat jendela nyaris selama dua jam tanpa pindah posisi.

Pulangnya aku langsung bereksperimen "mama pegelll banget, tolong pijitinnn yaaa" di tambah muka yang  memelas aduhai berharap dia faham. Sungguh pegel, tapi tidak segitu juga kali.

Hari ke tiga, lebih menggembirakan aku di persilakan duduk di teras tapi tidak boleh merubah posisi, kapanpun dia pengen liat, mamanya harus selalu ada. Dan saat itu jendela di tutup menggunakan tirai. Rafa berusaha membuat lubang kecil, sesekali matanya mencariku. Dia sempat di tegur gurunya karna tidak fokus di kelas.

Hari-hari selanjutnya tentu semakin menggembirakan, dia sudah bisa di lepas sebagaimana mestinya.

Giliran Alfie.
Karena ada suatu urusan rutin, aku terpaksa menyekolahkan Alfie di usia lebih muda di bandingkan  kakaknya. Tepat berumur 3 tahun, saat itupun sudah masuk semester ke dua, dan Rafa masih bersekolah di tempat yang sama.

Alfie ditunggui Nini (my mom) selama kurang lebih tiga harian. Selebihnya aku antar dia terus aku tinggal sambil sesekali mengawasi dari luar.

Setiap di tinggal Alfie selalu menangis, dan langsung ditangani gurunya, ajaibnya Alfie menangis hanya ketika melihatku, saat diriku dinyatakan menghilang dia langsung diem dan langsung bisa berbaur dan dapat mengikuti kegiatan sekolah dengan baik.

Apalagi saat jam istirahat dan pulang dia masih bisa bermain dengan kakaknya. Walau dari benih dan rahim yang sama, dua anak dua karakter yang berbeda. Cara menikmati sekolahpun juga berbeda beda.

#OneDayOnePost

May 25, 2016

Kids Story part 2: Bullying

"Di gangguin terus, dimana-mana aku di gangguin!!!" Si kecil nangis kejer-kejer di sambi meratap minta bolos sekolah.

"Dengerin mama yah,  anak nakal biasanya temenan sama anak nakal juga, kalau anak baik temennya banyak dan pasti gurumu selalu membela yang benar, maka kalau kalian para anak baik jangan pernah takut selama berada di jalan yang benar, percayalah mereka yang jail itu bakal takut sendiri gangguin kalian" sang mama berusaha menenangkan.

Alfie terdiam berusaha mencerna. "Cara terbaik untuk melawan mereka yang ngusilin kamu adalah harus lebih hebat dan lebih cerdas. Mereka yang suka jailin kamu akan tertawa terkekeh kekeh dan merasa di atas awan saat tau kamu ngga sekolah"

"Jangan biarkan mereka menguasai sekolahmu, kalian harus bersatu, ayooo kita sekolahh.." aku mulai ber semangat empat lima bak sang proklamator membacakan ikrar kemerdekaan bangsa Indonesia, MERDEKA.

Teringat beberapa waktu yang lalu, sang kakakpun mendapat perlakuan serupa, di ganggu temen yang rata rata bertubuh lebih besar dari dia. Biasanya, sebagai langkah awal aku meminta mereka untuk menghindari tememnya yang kelewat agresif apalagi sampai melakukan hal-hal yang berbahaya, dan selalu bilang kalau mereka tidak suka di perlakukan seperti itu.

Pernah aku lihat sendiri, betapa Rafa berlari terus menghindar saat sang tukang usil berusaha mengganggunya. Semula berhasil, lama kelamaan sang pengganggu mulai merasa kesenengan dan jadi kebiasaan, ketemu Rafa selalu mengejar. Sang ibu seperti cuek, sudahpun berlapor pada guru, tapi si anak itu seperti kebal.

Hingga suatu hari akupun memberi ijin Rafa untuk 'membela diri' tepat saat aku menjemputnya pulang, saat itu Rafa tidak tau aku telah datang. Rafa berlari kencang melawan, entahlah apa yang telah dia lakukan. Si anak yang di kejar lari terbirit-birit, Rafa seperti menahan emosi yang berhari-hari dia pendam, dia mengejar dan terus mengejar. Si anak itu bener-benar ketakutan dan langsung ngumpet di dibelakang ibunya memaksa minta pulang. Aku sendiri langsung memeluk Rafa menenangkan, terlihat amarah yang menjadi-jadi.

Sejak kejadian itu selama di tk tak pernah terdengar lagi dia di gangguin. Se elit atau sebagus apapun sekolahan, bullying akan selalu ada. Aku selalu menekankan sama anak-anak jangan pernah jadi pelaku bully, karna di bully itu sungguh tidak enak akan kebawa dan keingat terus hingga dewasa, apalagi saat kejadian tak ada orang yang mau mendengar keluh kesah kita.

Seorang temanpun pernah berceloteh, anaknya mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari teman-temannya, padahal sekolahnya sudah bertaraf I alias Internasional. Mau sekolah I, U aka Unggulan, dan sejenisnya tidak akan menjamin. Semoga anak-anak kita selalu dalam lindungan Allah, ammiinnn..

Suatu hari Rafa pernah mengadu, dia di ejek temannya dengan sebutan yang kurang menyenangkan. Yeah, bully bukan hanya bersifat kekerasan fisik namun juga secara non fisik seperti ejekan, di fitnah, di jauhin dan lain sebagainya.

Penyebabnya macam-macam, bisa karena ketidaksukaan, miskin, kecil, tak berprestasi, susah bergaul, atau mengalami kejadian yang dianggap memalukan yang membuat orang-orang di sekitarnya punya alasan untuk mem bully, dan masih banyak lagi.

Sebenarnya untuk ukuran anak-anak mereka belum mengerti sepenuhnya tentang apa yang mereka lakukan, mereka hanya tau ketika melakukan sesuatu mereka merasa gembira dan dapat perhatian lebih terkait yang dilakukan tersebut baik atau sebaliknya.

Aku selalu meminta anak-anak berusaha terbuka tentang apapun yang mengganggu mereka baik di sekolah maupun di tempat lain, dan bersama-sama mencari jalan keluarnya. Aku tak mau sesuatu yang mamanya dulu alami harus mereka rasakan juga.

#OneDayOnePost