Showing posts with label keluarga. Show all posts
Showing posts with label keluarga. Show all posts

Jun 12, 2022

Teruntuk my sweatheart, Rafa

(InshaAllah jika kita berumur panjang kau akan membacanya saat ulang tahunmu yang ke 14)

Saat mama menulis ini, kalian telah terlelap semua. Di saat seperti inilah mama lebih jernih berpikir, merenung tentang hal-hal yang kita lewatin sepanjang hari ini.

Mama tau, mama bukanlah sosok yang sempurna, kadang setiap hari mama memaki diri mama sendiri mengapa begitu mudah memarahimu. padahal mama juga tahu kau hanya anak-anak. Maafkan mama.

Kamu tahu sayang? Di dalam hati mama yang paling dalam, saat itu terjadi sesungguhnya mama tidak sedang memarahimu tapi mama marah terhadap diri sendiri yang begitu dangkal kesabarannya.

Mama sedih. Setiap kali pula mama berusaha untuk belajar lebih baik lagi, bertutur kata lebih lembut lagi terhadapmu. Ini tidak gampang, saat emosi kita bertabrakan satu sama lain.

Ajari mama mengasimu sayang.. ajari mama menyayangimu, anakku.

Allah tahu betapa mama sangat sayang padamu, semoga Dia selalu melindungimu, adikmu Alfie, papa dan juga mama. Semoga suatu hari kita berkumpul kembali di surga-Nya.

Anakku, jagalah imanmu selalu. Teruslah belajar sepanjang hayatmu. Bermimpilah yang terbaik dan terindah, Allah melihat itu.

Bumi ini luas, langit terbentang begitu sempurna, bintang di angkasa memijarkan cahayanya. Bagi mama, engkaulah cahaya mata dan hati mama. Tak ada harta yang begitu berharga selain kalian berdua.

Sayang, My baby mama. Semoga Allah melindungi kalian selamanya, di limpahkan segala rahmat-Nya, disehatkan jiwa dan raga, diberkahi setiap usia

Solo, 21 juli 2016
Tertanda mama

Oct 30, 2021

Sedang Menengok Kembali


Apa kabar blogku sayang? meski puluhan media sosial kujelajahi, namun tak pernah bisa membuatku berpaling darimu, eaaaa ... ikie sajak e mau nulis apa sih?

Jadi ceritanya kemampuan menulis saya sepertinya sedang berada di garis cukup rendah. Saya tidak tahu sudah berapa tulisan yang saya ketik, entahlah. Begitu banyak hal yang terlewati selama tidak menjamah layar ini. Jemari saya masih terasa kaku. jadi ini ceritanya semacam pelemasan.

Owiyah, terhitung sejak ramadan tahun 2021 kami tinggal di pedesaan. Desa yang masih banyak pohonnya, burung-burung bertengger, ternak, kebun, dan sejenisnya. Alhamdulillah, walau di desa yang mungkin masih masuk kategori tertinggal, kami dianugerahi tetangga-tetangga yang baik. 

Kenapa pindah? Tempat tinggal terdahulu sudah terlalu ramai, berisik, dan panas. apalagi di masa pandemi ini mengharuskan kita untuk mengurangi aktivitas di luar rumah. Dan pilihan di pedesaan adalah salah satu cara agar tetap calm neng omah.

Sebenarnya pilihan tinggal di desa ini tidak ada niatan ataupun cita-cita sih, hanya saja pas hunting rumah delalah nemunya ya di desa, desa yang tidak terlalu jauh juga dari perbatasan kota Solo.

Belum genap kami menempati rumah di desa, akhirnya corona itu mampir juga ke keluarga kami.

to be countinue ...

Sep 26, 2018

Bom Waktu

“Ma, temenku di rumah punya PS, di hapenya juga banyak game,” ucap Si Sulung saat kami sedang menikmati makan malam bersama.

“Hem.” Saya masih asyik memamah biak.

“Dia di rumah sering ditinggal sendiri.”

Krauk … krauk! Satu kerupuk sukses melewati tenggorokan.

“Mama juga bisa beliin kalian PS.” Masih sambil ngunyah makanan.

“Bener, Ma?” Mata mereka tampak berbinar.

“Iya, beli yang bekas, lima ratus ribu sudah dapat yang bagus. Mahalan dikit satu jutalah.”

“Wah,” tambah semangat mereka.

“Atau hape yang komplit sama game-game nya.”

Mereka saling lirik dan saling menebar senyum.

“Enakan? Murah itu, ditotal-total mentok-mentok dua jutaan lah, mayan buat bertahun-tahun. Enggak perlu Mama langganan majalah anak-anak, beli buku-buku tebel, sampai nyari-nyari mainan edukatif segala. Belum lagi, hampir tiap hari minta dibacaan cerita.

“ Kalian bakal anteng. Mama jamin kalian akan betah di rumah dan bersih selalu. Enggak perlu panas-panasan di luar, nggak perlu kotor-kotoran. Dan lebih ‘aman’. Mama juga enggak perlu muterin kampung ke sana kemari saat kalian lupa makan, lupa solat, bahkan kadang lupa Mama  khawatir nungguin kok enggak pulang-pulang.”

“Iya, Ma?” Semangat empat lima sambil mengibarkan bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan. Mungkin dikiranya Sang Mama sudah berubah jadi kucing anggora yang lucu dan menggemaskan. Padahal biasanya macem singa yang siap menerkam.

“Hu um, Mama juga bakalan enak, bisa pergi  lama bebas hambatan. Nyalon, nyaleg, belanja sendiri tanpa perlu repot-repot ngurusin kalian itu. Bisa tidur siang sambil ngorok, selonjoran, ngobrol haha hihi tanpa ada yang gangguin, nonton filem dan enggak ada itu yang suka bilang ‘Ma bosen Ma bosen’ hingga Mama harus memutar otak bagaimana caranya kalian betah dan mau diem.”

“Beneran nih Ma?”

“Yup, satu tahun, dua tahun, empat tahun, kita akan hidup dalam ketenangan dan kedamaian. Tapi setelah itu—“

Mereka mulai tegang, “Apa Ma?”

“Mama akan sibuk mondar mandir ke dokter mata, jantung, tumbuh kembang anak, bahkan mungkin psikolog dan psikiater. Tidak hanya sibuk, tapi juga mahal. Satu kali bertemu dokter spesialis itu saja minimal 200 ribu rupiah. Belum lagi obat-obatannya, belum lagi terapinya. Dan itu berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, mungkin seumur hidup. Saat itu mungkin mama sudah tidak bisa selonjoran lagi, dan uang papa banyak terkuras buat ngurusin kalian ke dokter.

“Untuk pakai kaca mata saja, kalian harus adaptasi selama minimal satu bulan. Harganya jutaan. Selama satu  bulan itu kalian akan menderita pusing dan enggak enak. Mau?”

Mereka menggeleng.

“Kita hidup itu butuh temen, butuh bersosialisasi. Dan itu ada ilmunya. Kadang kita butuh bertengkar dengan orang kemudian mengerti rasanya gimana disakiti, gimana caranya memaafkan kemudian mengihklaskan. Itu pelajaran seumur hidup. Untuk kuat, kita butuh jatuh berkali-kali. Jatuh sejatuh-jatuhnya kemudian mengerti caranya bangkit. Kita butuh menangis, bahkan mungkin kita  butuh menyendiri, kemudian mengatasi masalah yang sedang dihadapi.

“Di saat-saat tertentu bahkan kita butuh diam, iya diam macem batu. Dan itu butuh latihan. 

“Liat ada orang kesusahan, kita harus berempati, bukannya sibuk selfie. Itu juga  butuh latihan, belum terdapat diaplikasi manapun dan tidak dijual di negara maju sekalipun. Saat kecil inilah rasa-rasa itu harus dilatih, kalau sudah besar susah. Orang yang enggak bisa mengontrol emosinya sendiri akan tumbuh menjadi jiwa yang labil.

“Orang yang tidak terbiasa, akan mudah menyerah kemudian putus asa. Gampang stress, bahkan bisa melukai diri sendiri dan orang lain.

“Kalian tahu kan si Mawar, orang tuanya tidak ada yang bermasalah dengan matanya, tapi lihat Mawar, baru umur enam tahun sudah berkaca mata. Kalian lihat sendiri kan kesehariannya?

“Juga Si Budi, sampai sekarang harus mondar mandir ke psikiater bahkan minum obat seumur hidupnya. Sejak usia dua tahun sudah dibebasin mengenal komputer, dan game-game hape. Sejak kecil terbiasa dikasih enak, tidak tahu caranya menghadapi hidup susah. Kalau tidak di kasih, ngamuk kemudian minggat dari rumah.

“Jadi gimana? Mau Mama fasilitasi?”

“Enggak, Ma.”

“Masih mau Mama batasin, tegur dan bilangin?”

“Masih, Ma. Ampun … Ma.”

“Bersabarlah, otak, tubuh, tangan-tangan kalian, hati dan jiwa kalian kalian masih butuh tumbuh. Bersabarlah, ada saatnya Mama tidak akan pernah bisa melarang kalian lagi. Mama harap saat itu kalian sudah mengerti dan bijak menggunakan apapun. Bersabarlah, orang-orang yang menciptakan karya-karya keren saat ini buah hasil dari kesabaran orang-orang yang mau bersusah payah, belajar dan meredam kesenagan sesaat di masa lalu.”

Dec 12, 2017

Ternyata ....

Jadi tadi sore kita berkunjung ke sebuah mall yang baru buka dan sedang heboh-hebohnya di kota Solo sejak opening beberapa pekan lalu. Setiap weekend, selalu penuh nyesek plus tumpah ruah meluber-luber. Banyak yang bilang sudah tidak bisa menikmati saking banyaknya pengunjung. Beberapa lihat postigan para instagramer menyiratkan suasana lumayan antusias dan ramai.

Kemudian saya berinisiatif untuk berkunjung saat non weekend dan kira-kira saldo gajian orang sudah mulai menipis :D. Kebetulan saya juga punya janji sama si bungsu akan memberikan kado saat dia kelar mempelajari Iqra. Dan itu sudah beberapa pekan. Jadi sekalian nyari.

Anak-anak yang mendengar berita tersebut berlompatan hingga mencapai plafon, ralat, pokok e heboh lah sampai histeris kegirangan. Dan dengan mudah saat diminta bersiap-siap. Hari-hari lain, jangan harap. Minimal satu jam sebelum keberangkatan.

Ba'da Asar kita berangkat. Saat nyampai parkiran cukup longgar. Masih tercium aroma cat. Dilihat dari luar, memang mal tersebut di design cukup mewah dan terkesan 'menarik pengunjung'. Saat di dalam, saya merasa tidak ada yang begitu special ataupun hal-hal yang baru kecuali temboknya yang masih bersih dan counter-counter yang rapi. Khas nuansa mal-mal kebanyakan.

Kita mulai menanyakan counter mainan, salah seorang karyawan menyebutkan lantai atas. Ketika mau ke atas satpam bilang di lantai bawah. Okey, kita ke atas dulu. Ternyata ini area bermain. Yang baru adalah rolcoster yang sedikit (keluar) mengelilingi gedung, patung-patung dinosaurus yang bisa manggut-manggut sambil mengeluarkan auman. Sisanya masih sama seperti kebayakan bermain ala-ala play zone area.

Akhirnya kita ke lantai bawah lagi, untuk menuntaskan tugas utama dulu sebelum bermain. Nah pas di bawah mereka bilang ke atas. Setelah itu ketemu counter mainan tapi kecil sekali dan tidak lengkap. Kemudian kita mampir ke counter roti. Nanya ke mbak roti, katanya di lantai bawah ... alamakkkk, ini karyawannya pada nggak kompak sih. Baiklah ... baiklah, ini masih baru, mungkin mereka tidak hapal. Akhirnya saya iya iya in saja tapi sudah malas nyari. Mending beli roti, kenyang.

Mas Kukuh beli kartu. Mengigat di sini harga per permainan rata-rata sama dengan satu bungkus nasi (nasi kucing, nasi padang, nasi pesel dan nasi-nasi lainnya), kisaran Rp 4900-30.000 jadi mamaknya yang kadang (tapi lebih tepatnya sering) hematnya kambuh ini kemudian berujar kepada anak-anak. "Dalam kartu ini saldonya ada 55ribu. Mama mau kalian pilih satu mainan saja ya. Sementara kalian milih, mama duduk di kursi itu." Kutunjukkan kursi tempat Kang Mas sedang beristirahat. "Nanti kalau sudah ketemu panggil Mama." Anak-anak yang soleh, baik hati dan tidak sombong ini setuju. Ada kali 20 menitan bergerilya mereka muterin nyari, akhirnya manggil. Sebuah permainan tembakan air. Karena Si Sulung mainnya lumayan ahli, berkali-kali dia dapat bonus tambahan waktu sampai pinggang saya pegel nungguin. Sedangkan si bungsu sudah KO di ronde pertama.

Kuserahkan kartu kepada kakanda, "Cuman kepakai 10ribu loo ... hebatkan?" Kerlingku. Coba saja dia yang nangkringin bocah, yakin deh 15 menit kartu sudah maasalamah.

Bagaimana dengan janji hadiahnya? Kebetulan besok harbolnas (Hari Belanja Online Nasional) yes... moga dapat diskon 90 persen hahahhaha..

Mar 13, 2017

Saat Bocah Mengamuk Minta Mainan

Hal yang lumrah apabila bocah-bocah menggunakan senjata andalannya saat menginginkan sesuatu agar terpenuhi. Rasa-rasanya setiap orang tua pernah mengalami ini semua.

Tahapannya, dari menggeret tangan ayah/ibu ke tempat yang di maksud. Kemudian meminta baik-baik dengan rengekan mancjah. Apabila tidak berhasil mulai melipat bibir dengan embun menghiasi kelopak mata. Nada suara semakin kencang sekitar 3 okav. Naikin lagi volomenya sampai 35 (coba liat chanel volome tivi). Kakinya mulai menghentak-hentak. Selanjutnya berteriak, mengamuk, kemudian  bergulig-guling di lantai.

Tentu saja tidak semua anak seperti ini. Ada yang cuman ngambek bentar atau nangis sesaat. Masih banyak kok yang kalem, terus di bilangin baik-baik dia nurut. Tapi tunggu sebentar, coba tanya ortu/pengasuhnya sebelum-sebelumnya gimana? He he he .... bisa saja mereka telah melewati masa itu.

Kebetulan dua bocah saya pernah sampai pada tahap yang berguling-guling (eh yg bungsu ngha pernah dink) dan ngga mau pulang. Jangan tanya bagaimana bentuk muka saya/kami saat pandangan orang-orang saat itu terjadi. Tapi saya selalu berpegang teguh, tidak ada hal apapun yang diturutin kalau menangis.

Bahkan kalau ingin berbicarapun anak-anak biasanya saya suruh nyelesaikan tangisannya baru ngomong. Karena saat menangis hanya membuat semuanya bertambah runyam. Dan juga menuruti keinginan anak saat menangis akan menjadi senjata yang ampuh bagi mereka di kemudian hari, owh... ini sangat berbahaya pemirsah.

Ini yang biasa saya lakukan saat terjadi semisal belum saatnya saya membelikannya mainan.
*Meminta maaf dan memberikan alasan logis kenapa mainan tersebut tidak dibeli. Sebisa mungkin tidak membohongi anak-anak apalagi membodohi mereka  dengan kata-kata yang aneh dan tidak masuk akal, contohnya mainan tersebut tidak di jual.

Saya lebih suka memakai kata semisal karena baru saja membeli mainan, kita bisa membikinnya sendiri, bisa juga harga mainan yang terlalu mahal atau memang kita belum ada dana lebih (paling ngga demen bilang ngga ada uang, karena takut jadi kenyataan hahahhaa). Berhubung mainan bukan kebutuhan pokok jadi hanya sebagai sarana hiburan.

Kalau memang mainan tersebut ada kemungkinan untuk terbeli saya akan bilang "nanti ya, kalau dedek berkelakuan baik dan mama sudah ada uang lebih mama akan belilan."

*Kalau sudah tahap mengamuk, biasanya langsung saya gendong dan bawa pulang tanpa bersuara apapun.

*Kalau dia meronta teramat sangat, saya gendongnya ngga kalah erattt.. eratttt sekali pokoknya.

Sejak usia 6 tahun si sulung sudah tidak pernah mengamuk sampai jungkir balik, paling banter biasanya pasang muka sedih atau sejam sekali nanyain ke mamaknya kapan itu mainan di beli.

Setiap kali ngungkit-ngungkit pengen beli biasanya mamaknya selalu nyisipin "anak cerdas bikin mainannya sendiri." Horayyy...

Oct 5, 2016

Sepeda untuk Alfie




"Mama punya sepeda, papa punya sepeda, aa punya sepeda, dede ngga punya, huwaaaaaaa...." bersedu sedanlah dia meratapi ketiadaanya memiliki sepeda.

Rapa telah berganti sepeda dengan ukuran yang lebih tinggi. Sedangkan sepeda bekasnya sebenarnya masih layak dipergunakan kalau saja kami perbaiki. Pikirku, ini sepeda bekas di beli seharga kurang lebih Rp200ribu dulunya. Di hitung-hitung ongkos buat benarin seperti ganti ban dalam, ban luar plus ganti rantai, roda tambahan, belum lagi service kayanya bakalan nyaingin harga aslinya. Padahal kalau beli yang baru Rp400rb dah dapet tuh.. jadilah antara membenahin sepeda lama atau beli yang baru masih tarik ulur.

Di beberapa kesempatan tertentu Alfie pasti menghubung-hubungkan tentang ketiadaannya memiliki sepeda. Semisal saat aku berceloteh "mainanmu kan udah banyak, Fie. Itu aja kadang susah beresinnya" maka jurus andalannya akan keluar "tapi aku tidak punya sepedaaaa" maka, skak matilah saya.

Hingga pada suatu ketika, Alfie demam. Beberapa hari tidak masuk sekolah dan kurang bersemangat. Maka akupun menjanjikan dia nanti kalau sudah sehat bakalan beli sepeda baru. Saat  dia benar-benar sehat, aku ingin menunaikan janjiku itu. Tapi mas Kukuh kurang berkenan, mengingat Alfie masih terlalu kecil untuk menaiki sepeda. Dulu Rafa kami belikan sepeda saat berusia 6 tahun, dan tentu saja karna Rafa termasuk anak yang begitu lincah dan aktif, sedangkan Alfie belum terlihat se energic Rafa. Setelah negosiasi alot dan pertimbangan siapa yang bakal stand by saat si bocah sepedaan, ijinpun turun. Siapakah orang yang bakal stand by always di sisinya itu selama dalam pelajaran? Siapa lagi kalau bukan  emaknya.

Namun, ketika semua ijin telah di peroleh, belum juga terlaksana membelikan sepeda karna mas kukuh sedang nggak enak badan, lemes, meringkil-meringkil, masuk angin dan pilek. Beberapa hari kemudian Alfie tertular, badannya kembali hangat.

Hari minggu kemarin tepatnya acara keluarga, arisan. Mulanya aku setengah hati untuk mengajak Alfie turut serta, tapi mengingat jaraknya masih di wilayah Solo dan kebetulan yang ketempatan adalah kami rasanya kurang nyaman juga kalau tidak hadir. Pikirku biar Alfie sedikit mendapat udara segar, nanti di acara biar duduk anteng saja.

Pulang acara langsung lewat toko sepeda. Sayang banyak toko yang tutup. Ada yang buka tapi harganya tak kira-kira mahalnya. Kami memiliki toko langganan sepeda yang tidak usah pakai tawar menawar lagi. Akhirnya aku bujuk Alfie untuk bersabar sampai ke esokan harinya.


Hari senin, seperti waktu yang cukup panjang baginya. Jemput Rafa pulang, rombongan langsung meluncur. Sepeda kecil untuk ananda Alfie tersayang telah nangkring di rumah dengan selamat.

#OneDayOnePost

Oct 4, 2016

Pertolongan pertama pada luka knalpot

Sekitar sebulanan yang lalu mungkin menjadi hari yang menyedihkan buat kami sebagai orang tua, trutama yang di rasakan ananda Alfie. Anak umur 5 tahun tersebut mengalami luka bakar di kakinya akibat terkena knalpot yang masih menyala.

Hari jumat Alfie dan Rafa pulang di jam yang sama  dengan lokasi yang terpisah. Pada saat tertentu memang masih bisa salah satu diantara mereka untuk menunggu, karna jaraknya sebenarnya tidaklah terlalu jauh.

Berhubung saat kejadian kami sedang sama-sama longgar, jadilah berbagi anak. Aku jemput Rafa sedangkan papanya jemput Alfie. Mas Kukuh datang lebih awal beberapa detik sebelum aku tiba di rumah. Alfie menangis sangat kencang.

Mas kukuh memakai sepeda motor pinjeman model cowok  yang notaben tanpa pengaman knalpot, tidak seperti sepeda motor pribadi yang aku pakai, motor mstic dengan pelapis knalpot. Alfie buru-buru turun sesaat tiba di halaman, dia ingin segera memperlihatkan hasil karya yang baru dibikin waktu di sekolahan. Sebuah es krem mainan. Walau memakai celana panjang, saat turun kakinya tersingkap dan tepat mengenai kaki belakang kanannya.

Bukan lagi melepuh seperti saat kita tersiram air panas ataupun memegang benda yang membuat kulit kita melepuh. Tapi, kulitnya langsung terkelupas dan memperlihatkan bagian daging berwarna putih seukuran telapak bayi.

Jangan di bayangkan perasaan ibunya saat itu, perih.. sakit. Orang dewasa saja mungkin akan mengerang nyeri. Ya Allah.., aku tak tau lagi apa yang harus ku perbuat untuk meredam sakitnya selain memeluk dan berusaha menenangkannya. Alfie, terus menjerit kesakitan.

Mas kukuh segera membeli perlegkapan perawatan di apotik. Pelajaran, sedialah selalu P3K di rumah terutama untuk luka bakar. Walau telah memiliki beberapa perlengkapan, tapi ternyata sudah lama tidak di periksa selain isinya obat-obatan.

Pertama,  di sisi sisi luka (tidak termasuk bagian daging yg terlihat) dibersihkan dengan menggunakan cairan anti septik. Memberi obat merah, beberapa saat kemudian mengoleskan di permukaan luka dengan salep Bioplacenton. Luka di tutup menggunakan kain kasa yang pori-porinya lebih rapat, dan memperbannya dengan kasa berpori besar.

sekitar 3 hari pertama perban  selalu di ganti. Kain akan menempel di bagian luka, untuk memudahkannya pelepasan perban, kaki si anak harus di guyur menggunakan air hangat. Saat itu aku pura-pura aja mandiin, soalnya kalau keliatan mengguyur langsung bagian luka, Alfie pasti berontak. Jadi saat-saat terakhir, bersiap-siap dengan air hangat yang telah di kasih cairan antiseptik, kemudian di guyurin, byurrr.... dan menangislah dia histeris "mamaaaaa!!!!" Maafkan mama sayang...

4 hari berikutnya, perban di ganti setiap 2 hari. 2 minggu kemudian luka mulai di angin-anginkan agar cepat kering. Sekitar 3 mingguan kalau tidak salah ingat, alhamdulillah.. luka benar-benar kering. Sempat terkena infeksi, menggelembung berisi cairan karna tanpa sengaja di garuk si anak.

Luka di kaki Alfie mungkin membekas dan berangsur-angsur pudar. Tapi luka di hati mamanya.. sampai saat ini masih sangat terasa :(

#OneDayOnePost

Oct 1, 2016

Menumbuhkan minat baca sejak dini

Saya bukan dari keluarga hobi baca. Sejak kecil buku termasuk barang langka, ketersediaannya berada di urutan kesekian setelah urusan pangan sandang papan terpenuhi. Buku yang saya kenal adalah buku pelajaran. Bacaan fiksi penggugah selera adalah majalah bobo, di sewakan oleh teman sebesar Rp 25. Dan inipun saya tak bisa membawanya pulang, karna hanya bisa numpang baca kepada temannya teman yang menyewakan.

Waktu terus berlalu. Saya mulai memahami betapa pentignya membaca. Membaca buku sama dengan mengambil intisari kehidupan seseorang ataupun alam yang telah tersaring dengan sedemian rupa, di bingkai dengan sangat indah hingga berbentuk buku. Saya tidak mau anak-anak mengalami keterlambatan tertarik dengan dunia perbukuan seperti hal orang tuanya di masa silam.

Ketika Rafa lahir  saya mulai mencari-cari buku dongeng. Membacakannya di sela-sela kegiatan terutama pas tidur. Mengajak ke toko-toko buku, pasar loak yang menjual buku bekas, menyediakan buku-buku yang bermanfaat dengan sampul dan gambar yang ceria. Mempersilakannya memilih buku ke sukaan.

Buku mulai terlihat di rumah kami, di atas meja, etalase, kasur, bahkan dapur. Menyisihkan sebagian rejeki untuk membeli buku yang bermanfaat dan di senangi para bocah.

Waktu terus berlalu. Untuk mendapatkan buku sekarang tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Cukup datang ke perpustakaan. Maka ratusan bahkan ribuan buku mungkin bisa kita dapatkan secara gratis.

Hanya buku-buku tertentu saja sekarang saya belikan sebagai koleksi yang sekiranya di baca bisa berulang-ulang. Misalnya Ensiklopedia.

Ibarat menanam, pohon itu mulai tumbuh dan mulai memperlihatkan buahnya walaupun masih sangat ranum. Di usia 8 tahun 2 bulan, untuk pertama kali Rafa, nangkring dan begitu menikmati bacaannya selama 3 jam nonstop. Jeda cuman buat pipis doank dan minum. Sebuah komik Edukasi, Science Up! tentang Kutub utara dan selatan terbitan BIB.

Hari-hari berikutnya, bukan pemandangan asing lagi mendapati dia mojok entah dimana dengan buku kegemarannya. Bahkan buku-buku dengan minim gambarpun mulai di lahapnya. Ada hal lain yang aku perhatikan dan rasakan ketika waktunya banyak di habiskan di buku, yaitu emosinya. Yup, saat tertentu Rafa kadang masih kesulitan mengelola emosi yang meledak-ledak. Namun terlihat sangat jelas, dia mulai terlihat lebih bijaksana mengelola emosinya saat marah ataupun sedih apalagi kalau sedang di tempat umum. Mulai faham dan bisa di ajak bekerja sama dengan baik.

Begitupun Alfie, terlihat menikmati buku yang tersaji. Setiap malam ataupun waktu-waktu tertentu meminta sang emak membacakan buku cerita pilihannya. Begitu antusias saat melihat buku-buku yang baru nyampai, seolah melihat mainan baru di turunkan dari planet lain.

#OneDayOnePost

Aug 12, 2016

Beberapa Pertimbangan Ketika Memilih Sekolah Anak

Setiap keluarga pasti punya pertimbangan tersendiri ketika memilihkan sekolah buat anaknya. Namun satu jawaban utama yang sama, semua menginginkan yang terbaik.

Sebelum masuk sekolah dasar, kebetulan ananda Rafa berusia 6 tahun 1 bulan. Dia aku tawarin mau tetap di taman kanak-kanak setahun lagi apa masuk SD. Dia menjawab mantap kepengen SD. Dia juga udah ta wanti-wanti kalau SD ngga boleh telat, dan bermainnyapun ngga sebanyak waktu TK.

Ada beberapa jenis sekolah yang aku tawarkan padanya, setelah di seleksi dan konsultasi bersama suami tentunya.

Pertama, SD Negeri yang letaknya hanya beberapa meter dari rumah. Masuk setengah delapan pagi pulang awal, tapiiiii... sore kudu wajib TPA, ngga boleh tidak.

Kedua, SDIT. Masuk pagi pulang sampai sore, ngga perlu TPA lagi.

Ketiga, SD Islam tanpa T alias pulangnya masih jam 11an.

Dan di ambillah keputusan pilihan yang terakhir, pertimbangannya di lihat dari:

1. Karakter si anak
Rafa tidak suka berada di sekolah terlalu lama. Dia anaknya gampang bosanan apalagi kalau tempatnya itu-itu aja. Dia lebih senang sesuatu yang mengarah ke olah fisik dan praktik langsung. Dia hanya fokus di mata pelajaran yang di senengin. Kalau ngga disenengin bejimanapun di bujuk rayu, susyahhhh...

2. Karakter kondisi keluarga
Kasarnya sih salah satunya tentang perekonomian. Sekolah elito dengan penunjang sana sini tapi pas bayaran ortunya megap-megap, kan nyesekkk banget, walaupun semisal anak bahagia sentosa di sana.

Nah kebetulan ekonomi kami ini susah di tebak. Berhubung wiraswasta jadi pendapatan kadang di atas, kadang di bawah, kadang nyungsep entah kemana. Kami juga harus siap-siap semisal ekononi memang sedang memprihatinkan, tapi anak-anak tetap mendapatkan pendidikan yang layak. Lagi pula dia masih sekolah dasar, semisal biayanya udah nyaingin perguruan tinggi, rasanya sayang banget.

Pernah suatu ketika di komporin ma mak emak lain "mbakyuu.. demi anak-anak carilah sekolah yang terbaik, ini investasi jangka panjang lho.. masa kita bisa beli kendaraan tapi nyekolahin anak di tempat yang biasa-biasa aja"

Uhukss... mahaf saya mah kagak mempan digituan. Tak maulah sekolah anak sing mentereng tapi entar makannya pake nasi kuah garem doank. Besok bisa jajan, 29 hari kemudian puasa. Jadi kudu win win solution. Anak sekolah, tapi perekonomian keluarga tetap terjaga, damai amann dan sejahtera.. dan semuapun gembira, horeeee...

3. Karakter Sekokahan
Ini masih berhubungan dengan kedua hal tersebut di atas dan tambahnnya adalah Jarak tempuh.
Anak-anak kalau di anter memang cuman nangkring doank sambil menikmati pemandangan alam, tapi itu tetap menguras tenaga. Terlalu jauh bikin si anak capek, jenuh dan yang nganterpun tepar. Targetku tidak boleh lebih dari 3km dari jarak rumah.

Kan ngga lucu banget, sekolah harganya terjangkau, kualitasnya apik, anak juga suka, tapi letaknya di ujung lembah melewati bukit  berbatu, berkelok dan lurus lagi entah di mana.

Kalau bisa udah ada rekomendasi dari orang-orang terdekat yang pernah menyekolahkan anaknya di sana bahkan sampai lulus. Minimal 3 keluarga.

Me: "Rafa lebih suka sekolah waktu Tk apa Sd sekarang?"
Rafa: "Yang sekarang, Ma!" Jawabnya mantap.
Me: "kenapa emangnya?"
Rafa: "Temennya banyakkkkk...!"

Waktu TK Rafa sekelas cuman blas blasan orang di ampu 2 guru. Sekarang 38 murid dengan 1 guru. Tapi dia seneng  asalllll... ojo suwe suwee.. kalau kelamaan dia bakalan ngamuk di rumah.

Tidak ada hal yang muluk banget aku targetkan dari ananda Rafa ketika dia sekolah. Harapanku dia bahagia sekolah, senang belajar, berkawan dengan baik dan menghormati gurunya. Semoga pegalaman dan Ilmu yang dia peroleh selama sekolah membawa kebaikan dan manfaat untuknya kelak.

Setiap anak pintar dan membawa bakat serta rejekinya sendiri-sendiri. Semoga dia mempersembahkan sisi terbaik dari pribadinya. Semoga ya nak..

#OneDayOnePost

Aug 11, 2016

Ketika si Kecil Terserang Flu Singapore

11 June 2016
pukul 10 Am

Alfie mengeluh pusing, badannya terasa hangat. Aku berinisiatif untuk mengajaknya bobo siang.

Siang hari, suhu tubuhnya semakin tinggi hingga menjelang petang. Suhu mencapai 40 derajat. Alfie mulai gelisah, wajahnya tampak megar dan terus mengeluh pusing. Kami memberinya sirup penurun panas.

Hanya bertahan sebentar, suhu tubuh kembali naik.

Minggu pagi, ketika kami periksa bagian tenggorokannya terdapat bercak seperti sariawan. Batinku mengatakan ini mengarah pada gejala Flu Singapore.

Siang hari bercak semakin bertambah di wilayah telapak kaki dan tangan serta bibir. Yup, 100% Flu Singapore.

Alfie mulai mengalami kesulitan menelan makanan dan minuman. Dengan berbagai bujuk rayu beberapa sendok bubur yang aku blender masuk ke perutnya.

Senin dan selasa siang adalah hari dimana puncak betapa susahnya dia menelan sesuatu cairan melalui tenggorokan. Dia menangis, kadang menjerit histeris seolah apapun melewati rongga laksana pisau mengiris-ngiris bagian dalam mulutnya.

Segala macam upaya kami usahakan agar Alfie tidak mengalami dehidrasi. Walaupun susah payah beberapa teguk air madu dan bubur bisa tertelan. Selasa sore makanan yang masuk sudah lebih banyak. Sudah mau mengunyah dan minum jus buah dengan cara di sendokin. Bisa memasukkan makanan dan minuman ke perutnya itu seperti sesuatu banget.

******

Senin malam menjelang tidur, Rafa batuk. Dini hari menjelang saur, badannya terasa hangat. Kamipun membatalkan dia untuk turut saur dan membiarkannya terlelap.

Selasa siang, badannya kembali panas. Ku periksa tenggorokan dan telapak kakinya, nampak bercak merah.

Walaupun aku berusaha menghindarkan dia dari ketularan sang adik, tapi virus itu ternyata begitu kuat.

Sebelum Rafa mengalami masa di mana dia kesusahan menelan makanan dan minuman, sedini mungkin dia kuminta untuk makan dan minum yang bergizi dan banyak. Beruntungnya si anak kali ini patuh, sudah tidak terhitung berapa gelas susu yang dia minum.

****

Daerah Landasan Ulin Banjarbaru saat ini memang sedang epidemi Flu Singapore, kemungkinan besar Alfie mendapatkan virus saat di Bandara Bjb.

Selama anak tidak mengalami dehidrasi akut, penderita Flu Singapore tidak harus di rujuk ke rumah sakit. Dengan penanganan yang tepat Insha Allah dalam tempo 7 hari akan sembuh.

Flu singapore lebih sering menyerang anak usia di bawah 10tahun, namun beberapa info menyebutkan tidak menutup kemungkinan menular kepada orang dewasa.

Beberapa bercak akan mengalami penggelembungan yang berisi air dan pecah, hingga mengakibatkan rasa gatal pada penderita mirip seperti cacar air, bedanya bercak Flu Singapore menyerang pada area rongga mulut, bibir, telapak tangan, kaki, siku, lipatan lipatan dan anus. Beberapa penderita mungkin hanya mengalami di bebebrapa area. Sedangkan cacar air menyerang nyris ke semua permukaan kulit.

Ini adalah kali kedua anak-anak terkena virus Flu Singapore, dulu kami kira mereka terkena sariawan.

#latepost #OneDayOnePost

Jun 16, 2016

Pamit tanpa permisi

Rencananya aku mau beli buah buat persiapan buka. Jarak yang di tenpuh sekitar 2km. Anak-anak sudah pada makan, karna mereka sedang dalam masa penyembuhan dan biar virus flu singapore nya tidak tambah menyebar mereka sengaja aku umpetin di rumah saja.

Saat mau pergi di rumah sedang ada tukang, benerin kran air yang ambrol. Aku hanya mendapati si bungsu Alfie. Akupun pamit padanya, lupa kalau saya masih punya bocah yang berusia 8 tahun sedang asik bermain di toko.

Rencananya memang tidak sekedar beli buah tapi ke klinik skin care. Sudah berbulan-bulan rasanya wajahku belum terkena sentuhan tangan dari mba mba cantik di sana. Sebenarnya tidak terlalu doyan banget ke tempat beginian, tapi sekali-sekali bolehlah. Paling suka totok wajah plus pijetannya, ngeluarin komedo yang numpuk dan tentu saja bisa nyuri-nyuri tidur siang di area bebas hambatan.

Beragkat dari jam 1 sampai jam 3 an. Tetiba di rumah si sulung Rafa langsung ngamuk, mamanya hilang tanpa kabar, ngga ijin, dan tak ada pula pesan dan kesan. Laksana tentara pasukan power rangers, Rafa memberondongiku dengan berbagai intruksi sebagai emak yang paling berdosa se angkasa raya.

Sang emak sudah minta maaf, nawarin segala macam penebusan dosa, meluk-meluk, ngasih kesempatam dia buat ngomel sampai puas, dan lain sebagainya masih tidak mempannn. Sepanjang kegiatannku memasak diiringi alunan syahdu tangisan Rafa yang keluar masuk dapur, duduk di meja makan nyalahin si emak, keluar, masuk lagi dan keluar lagi masih dengan isakannya.

Berlangsung hingga menjelang beduk magrib. Sang emak di minta berjanji dan berikrarrr tidakkk boleh ngulangin lagi.

Ini adalah kali kedua saya lupa pamit sama dia saat mau menghilang. Kali pertama saat ke warung buat belanja, masih satu area dan nasib sayapun sama di tangisin berjam jam lamanya, lebih panjang tangisannya di bandingkan masa kelayapan emaknya. Bukan karna jarak tempuh ataupun berapa lama sang emak pergi tapi pergi tanpa bilang bilang itu bagi Rafa sangat memilukan melebihi penderitaan perang dunia ke dua.

Sejak kecil saat mau pergi atau siapapun yang mau pergi semisah papanya, aku selalu bilang jujur padanya dan menjelaskan ada saatnya dia tidak bisa turut serta walaupu  kadang itu sangat berat. Pergi dengan sebuah tangisan atau amukan sudah biasa tapi lama kelamaan dia faham.

Tangisan adalah bentuk dari kesedihan mereka di tinggal tapi mereka tentu lebih senang orang tuanya tidak membohonginya dengan mengatakan hal-hal yang aneh saat mereka tidak bisa turut serta.

Jujur di depan walau kadang pait tentu melegakan dari pada nyenengin tapi ketahuan ngibulnya.

16june2016

#latepost #OneDayOnePost

May 27, 2016

Kids Story part 4: Anak-anak dan Tekhnologi

Sejak usia dua tahun Rafa pengenal komputer dan telah faham pengoperasiannya walau masih tingkat dasar. Berbeda dengan Alfie, usia 4 tahun  jarinya masih gegagapan dan tentu saja Alfie lebih mengenal era gadged alias smartphone.

Jamannya PC ada permainan komputer yang masih aku ingat dan sangat digemari Rafa, Tarzan bergelantungan di pohon, menyusuri sungai, hutan dan lembah.

Saat papanya kembali, permainan bertambah, dari area balapan hingga dunia hewan dan kartun. Saat bermain game tentu saja aku memiliki waktu luang yang lebih banyak. Bisa tidur siang tanpa hambatan, selonjoran, nonton tivi tanpa gangguan, sms an, masak, beres beres rumah dengan aman dan lain sebagainya.

Apakah itu menyenangkan? Sekilas iya, anak anteng tanpa grasak grusuk huru hara ngusilin orang tuanya, permainannya bersih, murah meriah dan tidak perlu ke luar rumah. Tapi eitssss..... tunggu dulu!!

Bangun tidur yang terlintas sama si anak adalah game,  makan di suapin sambil nongkrongin game, rewel dikit anteng hanya menyodorin game, sosialisasi berkurang, tidak tertarik dengan permainan lain, temperament dan cepat marah. Kontrol emosi sangat payah, males bergerak dan masih banyak lagi yang lainnya.

Astaga, iya aku punya waktu luang jadi lebih banyak tapi di samping itu aku sedang menanam kerepotanku sendiri di kemudian hari. Ini seperti bom waktu yang akan menghancurkan masa depan anak anak dan keluargaku. Ada yang sungguh tidak beres di samping pemberian dan ke antengan si anak saat bermain game.

Saat mereka rewel tidak karuan, nyalain tivi dan biarkan mereka asik dengan sendirinya, etapi bukannya acara di tivi banyak sampah yang sungguh sangat susah mencari manfaatnya. Belum lagi tayangan-tayangan iklan yang mengajak siapapun melihatnya untuk bertindak konsumtif, seperti di paksa menerima apapun yang ada di dalamnya tanpa memberikan ruang buat penonton untuk protes. Kok bisa bisanya gegara coklat beng beng orang pada pisahan, dan ajaibnya manusia berlomba lomba menjadi hewan *tepokjidat*

Saat anak sedang berada di area yang menurut dia sungguh menyenangkan, rasanya akan terlalu susah jika semua harus aku hentikam seketika. Mulailah peraturan di rumah di tegakkan.

Bermain game hanya saat weekend. Nonton tivi dengan berbatas waktu. Memberi penjelasan kepada anak-anak tentang dampak negatif apabila mereka terlalu lama dengan bahasa yang mudah dan memberi contoh anak-anak yang telah kecanduan game dan tivi.

Sungguh tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa. Mereka sempat protes, menolak dan berulah selama beberapa hari. Aku tetap berpegang teguh, bahwa suatu hari nanti ada masanya kami tidak bisa mengontrol sepenuhnya apa yang mereka lakukan, lihat dan dengarkan. Hanya ketika mereka bertumbuh seperti inilah tugas kami untuk menasehati dan memupuknya lebih dalam dan kuat. Semoga kelak mereka mengerti dan terbawa hingga masa itu tiba.

Setelah pengurangan jam tayang dalam hari, berlanjut pengurangan pemakain dalam hitungan  jam bermain game. Hingga lambat laun mereka sudah tidak meminta. Menonton tivi sebisa mungkin aku dampingi apalagi ada tayangan dengan slogan SU-BO - R (segala umur - bimbingan orang tua - Remaja). Mengganti chanel sendiri apabila ada tayangan kekerasan, mengarah ke pornografi, dan sinetron-sinetron tidak jelas.

Bijak saat memakai smartphone. Bagaimanapun banyak hal positif yang bisa di peroleh dari benda bernama smartphone tersebut. Hanya saat-saat tertentu mereka bermain game, itupun telah memenuhi beberapa persyaratan seperti di larang rebutan apalagi sampai tangisan, main bareng dan hanya sebentar. Tidak ada satu anak satu hape.

Setiap minggu atau bulan, ke toko buku mencari bacaan yang menyenangkan dan bermanfaat. Membacanya bersama-sama dan menggambar. Saat longgar pergi ke taman. Tidak ragu bermain pasir dan lumpur. Ke tempat berbelanja dengan melibatkan mereka memilih barang. Membeli mainan yang lebih menguras otak dan tenaga. Alhamdulillah, dan semoga hingga kelak anak-anak keluar dari zona game dan tivi adicted dan lebih melakukan hal-hal yang bermamfaat.

#OneDayOnePost

May 26, 2016

Kids Story part 3: Hari Pertama Sekolah

"Mama masuk ya!" Pinta Rafa. Akupun menyetujui. Saat itu hanya 3 orang emak yang menemani anaknya hingga di dalam kelas, dan salah satunya adalah saya.

Semula Rafa enggan masuk ke ruangan kelas. Persis saat ia di taman kanak kanak, tidak mudah membawanya masuk ke ruangan. Bahkan berminggu-minggu Rafa hanya bermain di luaran.

Kali inipun demikian, tentu tidak pakai mengamuk. Karna masuk paling belakang, Rafa dapat kursi paling pojok, dan sang emak nangkring di kelas ikut belajar.

Hari ke-dua, sang guru sudah tidak mengijinkan anak-anak di temani hingga ke dalam kelas. Sebagai gantinya, boleh liat di kaca jendela. Rafa langsung keluar memberi pesan padaku "mama di samping jendela ya" dan dakupun manut.

Rafa belajar sambil mengawasiku, dia tidak membolehkanku untuk duduk di pinggiran tembok. Hari itu hanya saya yang berdiri dekat jendela nyaris selama dua jam tanpa pindah posisi.

Pulangnya aku langsung bereksperimen "mama pegelll banget, tolong pijitinnn yaaa" di tambah muka yang  memelas aduhai berharap dia faham. Sungguh pegel, tapi tidak segitu juga kali.

Hari ke tiga, lebih menggembirakan aku di persilakan duduk di teras tapi tidak boleh merubah posisi, kapanpun dia pengen liat, mamanya harus selalu ada. Dan saat itu jendela di tutup menggunakan tirai. Rafa berusaha membuat lubang kecil, sesekali matanya mencariku. Dia sempat di tegur gurunya karna tidak fokus di kelas.

Hari-hari selanjutnya tentu semakin menggembirakan, dia sudah bisa di lepas sebagaimana mestinya.

Giliran Alfie.
Karena ada suatu urusan rutin, aku terpaksa menyekolahkan Alfie di usia lebih muda di bandingkan  kakaknya. Tepat berumur 3 tahun, saat itupun sudah masuk semester ke dua, dan Rafa masih bersekolah di tempat yang sama.

Alfie ditunggui Nini (my mom) selama kurang lebih tiga harian. Selebihnya aku antar dia terus aku tinggal sambil sesekali mengawasi dari luar.

Setiap di tinggal Alfie selalu menangis, dan langsung ditangani gurunya, ajaibnya Alfie menangis hanya ketika melihatku, saat diriku dinyatakan menghilang dia langsung diem dan langsung bisa berbaur dan dapat mengikuti kegiatan sekolah dengan baik.

Apalagi saat jam istirahat dan pulang dia masih bisa bermain dengan kakaknya. Walau dari benih dan rahim yang sama, dua anak dua karakter yang berbeda. Cara menikmati sekolahpun juga berbeda beda.

#OneDayOnePost

May 25, 2016

Kids Story part 2: Bullying

"Di gangguin terus, dimana-mana aku di gangguin!!!" Si kecil nangis kejer-kejer di sambi meratap minta bolos sekolah.

"Dengerin mama yah,  anak nakal biasanya temenan sama anak nakal juga, kalau anak baik temennya banyak dan pasti gurumu selalu membela yang benar, maka kalau kalian para anak baik jangan pernah takut selama berada di jalan yang benar, percayalah mereka yang jail itu bakal takut sendiri gangguin kalian" sang mama berusaha menenangkan.

Alfie terdiam berusaha mencerna. "Cara terbaik untuk melawan mereka yang ngusilin kamu adalah harus lebih hebat dan lebih cerdas. Mereka yang suka jailin kamu akan tertawa terkekeh kekeh dan merasa di atas awan saat tau kamu ngga sekolah"

"Jangan biarkan mereka menguasai sekolahmu, kalian harus bersatu, ayooo kita sekolahh.." aku mulai ber semangat empat lima bak sang proklamator membacakan ikrar kemerdekaan bangsa Indonesia, MERDEKA.

Teringat beberapa waktu yang lalu, sang kakakpun mendapat perlakuan serupa, di ganggu temen yang rata rata bertubuh lebih besar dari dia. Biasanya, sebagai langkah awal aku meminta mereka untuk menghindari tememnya yang kelewat agresif apalagi sampai melakukan hal-hal yang berbahaya, dan selalu bilang kalau mereka tidak suka di perlakukan seperti itu.

Pernah aku lihat sendiri, betapa Rafa berlari terus menghindar saat sang tukang usil berusaha mengganggunya. Semula berhasil, lama kelamaan sang pengganggu mulai merasa kesenengan dan jadi kebiasaan, ketemu Rafa selalu mengejar. Sang ibu seperti cuek, sudahpun berlapor pada guru, tapi si anak itu seperti kebal.

Hingga suatu hari akupun memberi ijin Rafa untuk 'membela diri' tepat saat aku menjemputnya pulang, saat itu Rafa tidak tau aku telah datang. Rafa berlari kencang melawan, entahlah apa yang telah dia lakukan. Si anak yang di kejar lari terbirit-birit, Rafa seperti menahan emosi yang berhari-hari dia pendam, dia mengejar dan terus mengejar. Si anak itu bener-benar ketakutan dan langsung ngumpet di dibelakang ibunya memaksa minta pulang. Aku sendiri langsung memeluk Rafa menenangkan, terlihat amarah yang menjadi-jadi.

Sejak kejadian itu selama di tk tak pernah terdengar lagi dia di gangguin. Se elit atau sebagus apapun sekolahan, bullying akan selalu ada. Aku selalu menekankan sama anak-anak jangan pernah jadi pelaku bully, karna di bully itu sungguh tidak enak akan kebawa dan keingat terus hingga dewasa, apalagi saat kejadian tak ada orang yang mau mendengar keluh kesah kita.

Seorang temanpun pernah berceloteh, anaknya mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari teman-temannya, padahal sekolahnya sudah bertaraf I alias Internasional. Mau sekolah I, U aka Unggulan, dan sejenisnya tidak akan menjamin. Semoga anak-anak kita selalu dalam lindungan Allah, ammiinnn..

Suatu hari Rafa pernah mengadu, dia di ejek temannya dengan sebutan yang kurang menyenangkan. Yeah, bully bukan hanya bersifat kekerasan fisik namun juga secara non fisik seperti ejekan, di fitnah, di jauhin dan lain sebagainya.

Penyebabnya macam-macam, bisa karena ketidaksukaan, miskin, kecil, tak berprestasi, susah bergaul, atau mengalami kejadian yang dianggap memalukan yang membuat orang-orang di sekitarnya punya alasan untuk mem bully, dan masih banyak lagi.

Sebenarnya untuk ukuran anak-anak mereka belum mengerti sepenuhnya tentang apa yang mereka lakukan, mereka hanya tau ketika melakukan sesuatu mereka merasa gembira dan dapat perhatian lebih terkait yang dilakukan tersebut baik atau sebaliknya.

Aku selalu meminta anak-anak berusaha terbuka tentang apapun yang mengganggu mereka baik di sekolah maupun di tempat lain, dan bersama-sama mencari jalan keluarnya. Aku tak mau sesuatu yang mamanya dulu alami harus mereka rasakan juga.

#OneDayOnePost

May 24, 2016

Kids Story Part 1: Aktivitas Sebelum Tidur

*Situasi aman kondusif
Jarum jam menunjukkan 8.30 waktu Indonesia bagian Solo.
"Ayo anak anak saatnya persiapan bobo" mulai berbenah mainan, kelar  segera menuju kamar mandi, pipiz, gosok gigi dan mandi.

"Hari ini buku yang mana lagi?" Tawarku dengan sumringah. Masing masing mulai menunjukkan buku yang akan di baca, dari cerita zaman nabi, buku dongeng nusantara, sebelum tidur besutan orang luar, fabel hingga ensiklopedia alam.

Semua mendengarkan dengan seksama, kelar merebahkan diri, baca doa, dan terlelap dengan indah.

*Suasana sedang kurang aman bin ora kondusif dan chaosss..
"15 menit lagi saatnya bobo ya....??!"

"Sekkk maaa..." Rafa masih jumpalitan dengan mainan, kadang masih berlarian, manjatin barang papanya. Si kecil tak kalah bikin huru hara memberantakin mainan, terus saat di suruh bobo dia masih aja beralesan

"aku capeeeee maaaa..,ikie lo kegatelan" sambil terus menggaruk leher yang sebenarnya ngga gatel gatel banget.

Saatnya masuk kamar mandi, Alfie aku papah di bales dengan kakinya yang beronta-ronta minta turun bilang kalau bisa jalan sendiri. Setelah di turunin kaborrr entah kemana. Saat ketemu masukin lagi ganti kakanya yang menghilang. Berlarian ke sana ke mari. Sukses bawa ke duanya ke kamar mandi mereka mulai berantem guyur guyuran plus ledek ledekan.

Saat diminta sikat gigi, Alfie mulai protes "sikat gigi lagi sikat gigi lagi, tiap hari sikat gigi.. capeeeeeee" dia mulai meraung-raung dan melakukan aksi tutup mulut.

Sang kaka masih nurut saatnya di guyur air dia protesss.. "mandi lagi mandi lagiii, tiap hari mandi, mau sekolah mandi, pulang sekolah mandi, mau bobo mandi, bosennnnn" oktav nya tidak kalah melengking dengan teriakan yang bisa menggegerkan tetangga sebelah rumah.

Saat tersentuh sabun, bak ketemu mainan baru mereka mulai cekikikan membuat balon hand made. Di guyur kembali protess. Keluar kamar mandi rusuh dan masih berlarian. Balapan pakai baju, yang kalah cepetpun jadi ahlesan buat geger kembali.

Ketika di tawarin buku yang akan di baca mereka rebutan minta pilihan sendiri yang harus di utamakan. Mamanya sibuk baca anaknya sibokkk ngobroll dan maenn hingga tak sadar tetiba mamanya bilang kelarrr...hohohoho.

Alfie sebenarnya sudah bisa tidur sendiri, sedangkan kakaknya minta di temenin. Dipan tingkatpun kepakai cuman bagian bawah. Jadilah kami pakai bertiga dengan posisi melintang dan kaki sang emak ke tekuk 9.

Kelar? Oh belum, mereka pada lempar-lemparan bantal. Berlompatan ke sana ke mari, cekikikan ngga karuan kadang berakhir dengan tangisan kemudian rusuh lagi sampai cape, sampai sang emak keluar tanduknya. Lelah... tidur dengan posisi nungging dan yang satu telentang mengambil jatah space yg ada.

Emaknya ketiduran dengan posisi ngga karuan, bangun sang encok kembali menyapa.

#OneDayOnePost

May 23, 2016

Hari ke-13 part 3 (end) : Pantai Mororejo, Jepara


Ketika di taman air, aku putuskan untuk tidak ikutan bercebur. Alasan pertama, kebayang entar kelarnya rambutku bakalan basah terus makai kerudung di tambah perjalanan selama 4 jam-an, rasanya ngga nyaman banget. Kedua, pengalaman main di taman air sebelumnya kulitku bentol-bentol gedeeee.. hadewhh.. emak manjyah, padahal pada jaman dahulu kala mandi di empang yang ada toiletnya aman-aman saja.

Aku kebagian dokumentasi sambil ngawasin bocah bocah berkeliaran terus seksi darurat pencari makanan dan cemilan pasukan yang nampak gemeter klaperan setelah puas bermain air.

Ada suatu waktu aku terpisah dengan rombongan, kunikmati saja area tersesatku dengan mengelilingi sekitar. Mataku langsung tertuju debaran ombak di belakang area taman yang asri di hiasi beberapa pohon dan gazebo.

Pantai, yeah aku menenukan pantai. Tak di sangka ternyata Jepara Ocean Park ini satu area dengan pantai. Menikmati pantai dari balik jeruji pagar sungguh tidak leluasa. Aku mencoba mencari pintu keluar tapi tidak ketemu, katanya orang-orang di sana harus keluar taman dulu.


Sesaat sebelum  pulang, kami menyempatkan diri kebelakang. Walau anak-anak masih tampak letih tetapi mereka kembali antusias ketika kaki mulai menyentuh pasir.

Pantai di sini cukup tenang, rasanya nuansa jauh berbeda setelah berada hiruk pikuk dan kebisingin di Ocean Park. Terlihat beberapa perahu di sekitar pantai dan permainan banana boat. Masih satu kelola dengan Ocean Park, tapi sepertinya masih dalam pembentukan dan pemugaran.

Sekitar satu jam lebih kami menikmati angin pantai, akhirnya memutuskan untuk pulang.

Sampai Solo mampir sebentar di warung pak Ndut, mengisi tangki amunisi yang kembali kosong. Sampai rumah mandi lagi dan tepar dengan sukses di kasur masing-masing. Ke esokan paginya badan berasa remuk redam di gebukin orang se er te, pegellll niannn..

#OneDayOnePost
#EdisiCeritaBersambung

May 20, 2016

Hari ke-13 part 2: Jepara Ocean Park


Jepara Ocean Park - Yeaaaa...., pukul 9.30 waktu indonesia bagian Jepara (minggu, 9 Mei), finally rombongan sirkus yang terdiri dari Kang mas Kukuh, om Yoga (adik mas), ananda Rafa, si ganteng Alfie dan saya sing paling ayu dewe tentunya *dilarangprotes*, nyampe di lokasi tujuan. Masih belum terlalu ramai, parkiranpun masih cukup longgar. Luasss banget, dari depan nampak seperti di negeri dongeng Cinderalla ala Disney Land.

Setelah urusan tiket  kelar, kami di berikan gelang digital sebagai ganti tiket. Di Area di larang membawa makanan dan minuman, semuanya akan dititipkan di depan penjaga. Pintu tangga masuk cukup tinggi. Wahana air sangat banyak ragamnya dari ukuran batita sampai orang dewasa, swimming pool. Juga arena permainan lainnya seperti outbond, flying fox, paintball, gokart, jetsky, banana boat, flying kite, water jetpack dan masih banyak lagi.


Jepara Ocean Park termasuk wahana taman air yang baru di resmikan pada tanggal 10 April 2016, berdiri di area se luas 11 hektar, pembangunannya sendiri belum rampung semua mungkin sekitar 90%. Wangi cat nya masih kleyes kleyes.

Di resmikan langsung Bupati Jepara bapak Ahmad Marzuki dan Gubernur Jawa Tengah bapak Ganjar Pranowo.

Letaknya di desa Mororejo rt 04 rw 02, kecamatan Mlonggo, kabupaten Jepara. Dua kilometer dari pantai Bandengan, 15 menitan dari pusat kota.

Selama bulan Mei ini, Ocean Park masih mengadakan promo

PROMO JOP - MEI 2016
TIKET MASUK REGULAR

Senin - Kamis 50k

Jum'at - Minggu / Hari Libur 60k


Tiket Paket Banana Boat

Senin - Kamis 95k

Jum'at - Minggu / Hari Libur 105k



Tiket Terusan Kiddy Play (kora-kora, MiniTrain, FlyingElephent)

Senin - Kamis 65k

Jum'at - Minggu / Hari Libur 75k

Tiket Paket Gokart

Senin - Kamis 90k

Jum'at - Minggu / Hari Libur 100k

Tiket Terusan P. Panjang

Senin - Kamis 65k

Jum'at - Minggu / Hari Libur 75k

Kora-kora 15k

BOMBOM Car 15k
MiniTrain 5k

Paket Pelajar 35k
- paket senin - kamis
- setiap 20 free 1
- kunjungan 14.00 ke atas
sumber fb Jepara Ocean Park

Kritik dan saran buat JOP
1. Walau telah di pasang papan pengumuman segede gaba  di lokasi, tetap saja pengunjung bandel merokok di area tsb, yg lbh miris lagi petugasnyapun kedapatan merokok. Please ini area keluarga yg banyak batita dan balitanya. 

2. Tempat wudhu di moshola,  pria dan wanita menjadi satu. Alangkah baiknya kalau terpisah.

3. Alat seluncuran, mungkin bisa mencontoh alat yg di gunakan Jogja Bay, lebih aman ketika menyentuh air, banyak pengunjung yg kemasukan air ke hidung.

#OneDayOnePost
#EdisiCeritaBersambung

May 19, 2016

Hari ke-13: Perjalanan Menuju Jepara

Walaupun kesepakatannya akan berangkat jam 5 subuh, apa daya segala urusan di dapur dan pernak perniknya baru kelar pukul 5.30 wib.

Minggu pagi yang cerah, langit begitu bersih dengan semilir hembusan bayu. Anak-anak memakai jaket dan celana panjang. Sejak tadi malam anak-anak begitu antusias, manut saat di minta bobo lebih awal dan bangunpun tanpa melakukan pemberontakan sama sekali.

Di hari biasa, saat di minta sikat gigi dan cuci kaki serta pernak perniknya bakal keloncatan ke sana ke mari, masuk kamar mandi yang satu melarikan diri. Saat merebahkan diri tentu di barengin jumpalitan di sambi keluyuran, belum lagi ngedongeng atau baca cerita yang entah keberapa kali harus di ulang-ulang. Dan Alfie tentu saja harus di elus-elus sampai terlelap.

Dalam rangka memenuhi janji kepada Ananda Rafa, saat dia sakit kemarin hari ini, tepatnya Minggu 9 Mei 2016 kami meluncur ke bumi Kartini, Jepara.

Awal perjalanan cukup lenggang, memasuki area perbatasan Solo Porwodadi antrian kendaraan mulai terlihat. Perbaikan jalan aspal memaksa kami untuk lebih bersabar menunggu giliran dari arah berlawanan yang juga memakai jalan yang sama. Tim juru jalan siap sedia mengatur arah lalu lintas agar tidak saling bertabrakan. Walaupun telah tertulis sepeda motor ikut antri ternyata masih banyak penerobos jalan.

Sekitar jam 8 pagi, kami singgah sebentar di pom bensin daerah Grobokan. Alfie dan Rafa sempat tertidur. Pasukan menuju kamar mandi memenuhi panggilan alam. Perbekalan seadanyapun segera di gelar, satu termos kecil nasi putih, telur mata sapi, mie goreng, saos barbeque yang ternyata kelupaan di bawa pasangannya, spagheti instan.

Menu cukup sederhana, tapi semua makan begitu lahap entah karna lapar atau karna tidak ada pilihan lain. Masing-masing mengambil satu porsi dan melahapnya dengan sempurna. Rafapun makan begitu semangat setelah di iming-imingin di Jepara nanti memerlukan stamina ekstra, sedangkan Alfie terlihat kurang bersemangat, aura ngantuknya mungkin masih terasa hanya beberapa suapan saja dia makan.


Perjalanan berlanjut, memasuki kota Demak jalan yan di tempuh cukup sempit. Hanya bisa di lalui satu kendaraan besar dan satu kecil, jika berpapasan sama-sama besar maka salah satu harus mengalah mencari posisi terbaik, terutama saat berpapasan dengan truk atau bus. Kami juga menyaksikan sebuah sedan sekelas Honda Jazz nyungsep ke area halaman rumah penduduk. Kaca depan bagian supir remuk, dan depannya ringsek nyaris separu. Anak-anak kampung nampak mengerumuni mobik tersebut. Sepertinya kecelakaan terjadi pada malam hari, terlihat beberapa polisi mengatur arus lalu lintas.


Di beberapa wilayah, kami melewati aliran anakan sungai dan rawa, uhm.. berasa seperti di Kalimantan. Bahkan gapura-gapura yang bertuliskan kaligrafi arab, menambah suasana Islami di kota ini.

Tibalah saatnya memasuki Kota Jepara. Di sepanjang jalan begitu banyak ukiran kayu khas Jepara, mata pencaharian penduduk setempat memang terkenal sebagai pengusaha mebel. Bahkan drum bekaspun bisa di sulap menjadi kursi tamu yang menawan dan artistik.

Ingin rasanya aku mampir sekedar melepas lelah dan memanjakan mata menikmati ukiran kayu mini yang sekilas terlihat begitu menggoda. Sayang, kendaraan yang kami tumpangi terus melaju hingga sampat ke tempat tujuan 'Ocean Park'

#OneDayOnePost
#EdisiCeritaBersambung

May 18, 2016

Hari ke-7: Kembali ke Sekolah

Di antar papa, mama membawaku ke kantor dengan selembar surat pengunduran dirinya. Mama cukup sedih tapi mama sudah mantap sekali. Saat mama datang, mereka mengucapkan selamat datang kembali, mereka kira mama udah mau bekerja kembali. Mama terus bilang mama tidak akan kerja lagi.

Om Islam sempat kaget kenapa tiba-tiba sekali. Setelah di kasih tau alasannya akhirnya diapun mendukung. Om Islam selama ini sangat berjasa sama mama di kantor, dia selalu melindungi mama, dan memberi kemudahan-kemudahan lainnya, dia juga yang merekomendasikan mama untuk di terima bekerja. Om Islam kemudian membawa aku dan mama menemui pak Abdurahman, anak dari pemilik kantor tempat mama bekerja.

************

Senin, hari pertama aku masuk sekolah setelah hampir seminggu libur. Aku masuk jam 8, mama sengaja datang ke sekolah terlambat agar aku tidak perlu mengikuti upacara bendera. Aku masih lemah dan kurang bersemangat. Kata orang-orang mukaku masih sangat pucat.

Mama menungguiku sepanjang hari di swkolah, aku bisa pulang kapanpun aku mau kalau merasa lelah di sekokah. Jam istirahat aku hanya berjalan-jalan dan melihat teman-temanku bermain. Mata mama tak sedetikpun berkedip mengawasiku saat bermain. Juga saat teman-teman mengajakku bermain benteng, mama bilang ke teman-teman sementara aku jadi penonton dulu.

Hari selasa, aku di antar papa. Saat jam istirahat mama sudah nangkring di depan teras perpustakaan, mama masih terus mengawasiku sampai jam pelajaran usai.

Hari Rabu jadwalku berolah raga. Aku masih bisa mengikuti pemanasan, namun saat semua bersiap-siap menuju lapangan sepak bola, mama meminta ijin kepada pak pelatih, bahwa aku masih masa penyembuhan dan belum bisa ikut. Pak pelatih menginjinkan, jadilah aku nangkring di sekolah sama mama. Karena aku terlihat bosan mama mengajakku ke pasar membeli buah, sudah beberapa hari aku tidak buang air besar. Mama membeli buah pepaya dan melon kesukaanku.

Hari Kamis tanggal merah. Kata papa kapanpun aku sudah terlihat sehat kami akan beragkat ke Jepara. Sayang, kata mama aku belum pulih banget. Selama tanggal merah aku dan adikku hanya di rumah dan bermain di daerah sekitar.

Hari Jumat masih tanggal merah. Kata mama aku udah mendingan, udah mulai jailin mama dan adikku, udah bida lari-lari dan manjatin barang dagangan papa. Mama memastikan hari minggu, kami siap melakukan perjalanan jauh.

Hari Sabtu, mama sudah tidak menungguiku lagi di sekolah.

#OneDayOnePost
#EdisiCeritaBersambung

May 16, 2016

Hari ke-6: Pemulihan

Banyak yang menyayangkan karna tempat kerja mama nyaman sekali, bahkan mama bisa libur kapanpun saat butuh, mama juga udah cinta banget dengan teman-teman di kantor dan suasana kerjanya.

Mama tidak ingin menyesal di kemudian hari karena memberikan pengasuhanku kepada orang lain, mama juga orangnya cemburuan takut aku terlalu dekat dengan pengasuh hingga melupakannya. Kata mama, materi selalu datang dan pergi dan masih bisa di cari, tapi masa kecilku hanya sekali dan tak akan pernah kembali.

*********


Berhari-hari aku tidak keluar rumah, membosankan sekali. Panas tubuhku yang sering naik turun membuatku harus lebih sering beristirahat. Aku juga tidak bisa bersekolah dan bertemu teman-temanku. 

Kalau di hitung-hitung dalam semester ke-dua ini aku ijin selama 3 mingguan. Satu minggu pertama sakit kena cacar, waktu itu di sekolahku lagi ada wabah cacar air, karena aku juga belum pernah kena dan daya tahan tubuhku saat itu lemah, kena deh. Aku juga menularkan penyakit itu ke adik dan ibuku.

Setelah sembuh, dan luka-luka di tubuh serta wajahku mengering aku berangkat ke sekolah. Baru sehari masuk, pulang ke rumah aku panas lagi. Akhirnya aku libur, dua hari berturut-turut panas tubuhku cukup tinggi. Hari ke-3 seluruh badanku memerah. 

Hari ini mama ke sekolah untuk mengambil raportku. Aku peringkat ke 21 dari 39 lhooo... mama dan papa tidak pernah mempersoalkan itu, dimata mereka aku tetap menjadi anak yang cerdas. Mama juga tidak me les kan aku apa-apa, dulu pernah sih ikut tek kwon do, hanya sebulan aku berhenti karna katanya aku tidak fokus. Kata mama aku tidak akan di les in kecuali aku yang minta. Tapi kalau belajar ngaji mama menekankan aku suka tidak suka aku harus bisa, karna ada surat-surat dari Allah yang suatu hari harus aku baca sendiri.

*****

Sabtu sore, teman mama papa, Om Didat dan tante Yosi berkunjung ke Solo. Mereka menginap di hotel Paragon. Ini adalah kunjungan mereka yang ke dua. Aku senang sekali mendengar kata hotel, karna di hotel aku bisa donlowd game sepuasnya dengan pasilitas wifi gratis..ahhhh, moga suatu hari papa memasangkanku wifi sendiri di rumah agar aku tak perlu jauh-jauh ke hotel.

Mama sangat membatasiku bermain game, katanya itu dilakukan karna dia sayang padaku, kalau dia tidak sayang tentu di biarkannya aku bermain sepuasnya, sementara itu dia bisa melakukan aktivitas tanpa gangguan dariku.

****

Papa berjanji padaku, kalau aku sudah sehat dia akan mengajakku ke Ocean Park di Jepara. Papa menunjukkan poto-poto di sana melalui hape nya. Wawww... tempatnya sangat indah, banyak pemandangan bagus dan permainan yang banyak. Kata papa sehari penuh menjelajahi tempat itu tidak akan cukup.

Tidak sabar rasanya bisa segera ke sana. Aku jadi semangat minum obat dan vitamin. Minum susu dan makan juga.

#OneDayOnePost
#EdisiCeritaBersambung