Showing posts with label Amazing of Rafa. Show all posts
Showing posts with label Amazing of Rafa. Show all posts

Jun 12, 2022

Teruntuk my sweatheart, Rafa

(InshaAllah jika kita berumur panjang kau akan membacanya saat ulang tahunmu yang ke 14)

Saat mama menulis ini, kalian telah terlelap semua. Di saat seperti inilah mama lebih jernih berpikir, merenung tentang hal-hal yang kita lewatin sepanjang hari ini.

Mama tau, mama bukanlah sosok yang sempurna, kadang setiap hari mama memaki diri mama sendiri mengapa begitu mudah memarahimu. padahal mama juga tahu kau hanya anak-anak. Maafkan mama.

Kamu tahu sayang? Di dalam hati mama yang paling dalam, saat itu terjadi sesungguhnya mama tidak sedang memarahimu tapi mama marah terhadap diri sendiri yang begitu dangkal kesabarannya.

Mama sedih. Setiap kali pula mama berusaha untuk belajar lebih baik lagi, bertutur kata lebih lembut lagi terhadapmu. Ini tidak gampang, saat emosi kita bertabrakan satu sama lain.

Ajari mama mengasimu sayang.. ajari mama menyayangimu, anakku.

Allah tahu betapa mama sangat sayang padamu, semoga Dia selalu melindungimu, adikmu Alfie, papa dan juga mama. Semoga suatu hari kita berkumpul kembali di surga-Nya.

Anakku, jagalah imanmu selalu. Teruslah belajar sepanjang hayatmu. Bermimpilah yang terbaik dan terindah, Allah melihat itu.

Bumi ini luas, langit terbentang begitu sempurna, bintang di angkasa memijarkan cahayanya. Bagi mama, engkaulah cahaya mata dan hati mama. Tak ada harta yang begitu berharga selain kalian berdua.

Sayang, My baby mama. Semoga Allah melindungi kalian selamanya, di limpahkan segala rahmat-Nya, disehatkan jiwa dan raga, diberkahi setiap usia

Solo, 21 juli 2016
Tertanda mama

Jul 19, 2018

Belajar Arti Kehilangan

Masih di area halaman toko penjual sepatu menuju pulang, bibir si sulung manyun, matanya merah dan berkaca, tangannya bersidekap.
“Ibu-ibu itu yang salah, Ma,” ucapnya merengut.
“Tidak semua orang baik sayang, begitu pula, tidak semua orang jahat,” ucapku berusaha menenangkan. “Kamu pengen ngeratapin lama hingga stres apa di ikhlasin?”
“Itu mainan punyaku satu-satunya,” jawabnya ketus.
“Tahu aja satu-satunya kenapa teledor?”
“Mama nggak bilangin sih!” mukanya terus bersengut.
“Gimana mama mau bilangin, orang sudah hilang gitu.”

Dia masih saja merengut. Ingin menangis tidak tahu apa yang ditangisin.

Tadi malam kami ke pusat penjualan sepatu. Nyariin si sulung sepatu sekolah. Rafa bawa mainan rubrik, hadiah ayahnya waktu ke luar kota dulu. Mainan itu masuk kategori favorit. Sering di bawa kemana-mana. di usia sekitar 7 tahunan berkat bantuan Mas Amin –karyawan toko- juga teturial youtube,  mainan itu telah berhasil dikuasai. Sempat berhenti, dan terbengkalai begitu saja. Hingga beberapa minggu terakhir ini ia kembali memainkannya. Sering dibawa kemana-mana, apalagi perjalanan jauh.

Saat mamanya sibuk mencari sepatu yang cocok, dia sibuk bermain rubrik, sampai ketemu empat pasang sepatu biar dia bisa milih. Sedang asik milih, hingga ketemu yang nyaman dan cocok dia mencoba berlari menyusuri karidor toko. Mamanyapun ke area lain, buat nyari sendalnya yang juga putus dan hilang. Waktu Rafa kembali, kami sudah menduduki area kursi lain.

Saatnya pembayaran dan pulang. Waktu menuju motor, Rafa baru sadar kalau mainannya tertinggal. Dia berusaha mencari ke sana kemari. Mamanya pun ikutan turun dari motor dan membantu mencari. Tapi sayang, mainan itu sungguh tidak terlihat.

“Mbak, ada lihat mainan rubrik nggak ya? Tadi tertinggal,” tanyaku pada seorang pelayan toko. Perempuan berambut panjang lurus rebonding dengan tubuh semampai itu agak bingung. Hingga temannya di sebalah bilang. “Perasaan tadi diambil ibu-ibu, Mbak?” ucapnya.
“Bisa tunjukin ibu-ibu yang mana, ya?”
“Kayanya sudah pulang, Mbak.”
“Oh.”

Akupun pergi dan memberi penjelasan ke Rafa. Jadilah drama keluarga ala Korea.
Saat duduk di bangku sebuah rumah makan, si sulungmelamun, dan matanya mulai berembun.
  
“Dulu papa kehilangan kabel seharga limajuta rupiah,” ceritaku.
“Papakan punya kabel banyak. Itu mainan Rafa satu-satunya,” sahutnya kesal.
“lima juta itu bisa buat beli rubrik hingga ratusan buah.”
“Iya, tapi papa masih punya kabel banyak,” dia tetep ngeyel.
“Untuk mendapatkan laba limajuta itu, papa harus jual barang lebih banyak lagi. mungkin harus berhari-hari atau berminggu-minggu, bisa juga berbulan-bulan.”

Dia diam.

“Kamu tahu rumahnya Om Rizal, kan?” Om Rizal adalah teman Mas.

Ia mengangguk.

“Waktu kita ke pantai kemarin, rumah di seberangnya itu terbakar. Semua barangnya ludessss … desss tak bersisa.”

 “Terbakar kenapa, Ma?” Dia mulai antusias.

“Nyalain  kompor tapi lupa matiin, kemudian ditinggal pergi. Baju-bajunya, perabotan, dapur, mainan, semuanya-semuanya terbakar. Sekarang harus menginap di mesjid, begitu yang mama dengar.”

“Makannya?” potong Rafa.

“Menurut informasi, dikasih tetangga-tetangga yang baik hati.”

Rafa mulai menerima.

“Bisa saja Allah sedang ngasih ujian, bisa saja Allah mau ganti yang lebih baik, bisa saja di dalam sana ada harta yang belum seharusnya milik mereka, bisa saja.. bisa saja, hanya Allah yang tahu.

Kalau meratapi berlama-lama, tidak hanya setress tapi bisa sakit-sakitan dan gila. Jalan satu-satunya, ikhlasin.  Sekarang kamu boleh sedih tapi jangan lama-lama. Anggap saja peringatan. Besok-besok harus lebih hati-hati. Jangan masuk ke lubang yang sama. Pengalaman itu mahal.

Kamu tahu Mamanya Keisya kan?”

Rafa kembali mengangguk.

“Dulu dia kehilangan sepeda motor, padahal sudah dikunci. Yang penting kita harus menjaga dengan baik, hati-hati dan nggak teledor. Setiap kita punya kontrak sendiri-sendiri. kontrak Rafa sama mainan itu, berarti sudah habis. Rafa sama baju inipun ada kontraknya, Rafa sama mama, sama dedek, tapi kita tidak tahu kapan itu akan berakhir,” ucapku sambil memegang bajunya.

“Dulu, pintu garasi toko tidak terkunci, bahkan terbuka sedikit gara-gara teledor. Kalau ada orang jahat, bisa saja dia memasuki toko dan menguras semua isinya. Tapi Allah masih jaga dari orang-orang yang berniat jahat. Setelah itu, papa jadi lebih hati-hati lagi.”

Wajahnya sudah mulai cerah. Hingga tulisan ini ditayangkan, roman mukanya sudah kembali normal. Tapi saya tidak berani mengungkit-ungkit rubriknya, kecuali dia yang mulai.

Dec 12, 2017

Ternyata ....

Jadi tadi sore kita berkunjung ke sebuah mall yang baru buka dan sedang heboh-hebohnya di kota Solo sejak opening beberapa pekan lalu. Setiap weekend, selalu penuh nyesek plus tumpah ruah meluber-luber. Banyak yang bilang sudah tidak bisa menikmati saking banyaknya pengunjung. Beberapa lihat postigan para instagramer menyiratkan suasana lumayan antusias dan ramai.

Kemudian saya berinisiatif untuk berkunjung saat non weekend dan kira-kira saldo gajian orang sudah mulai menipis :D. Kebetulan saya juga punya janji sama si bungsu akan memberikan kado saat dia kelar mempelajari Iqra. Dan itu sudah beberapa pekan. Jadi sekalian nyari.

Anak-anak yang mendengar berita tersebut berlompatan hingga mencapai plafon, ralat, pokok e heboh lah sampai histeris kegirangan. Dan dengan mudah saat diminta bersiap-siap. Hari-hari lain, jangan harap. Minimal satu jam sebelum keberangkatan.

Ba'da Asar kita berangkat. Saat nyampai parkiran cukup longgar. Masih tercium aroma cat. Dilihat dari luar, memang mal tersebut di design cukup mewah dan terkesan 'menarik pengunjung'. Saat di dalam, saya merasa tidak ada yang begitu special ataupun hal-hal yang baru kecuali temboknya yang masih bersih dan counter-counter yang rapi. Khas nuansa mal-mal kebanyakan.

Kita mulai menanyakan counter mainan, salah seorang karyawan menyebutkan lantai atas. Ketika mau ke atas satpam bilang di lantai bawah. Okey, kita ke atas dulu. Ternyata ini area bermain. Yang baru adalah rolcoster yang sedikit (keluar) mengelilingi gedung, patung-patung dinosaurus yang bisa manggut-manggut sambil mengeluarkan auman. Sisanya masih sama seperti kebayakan bermain ala-ala play zone area.

Akhirnya kita ke lantai bawah lagi, untuk menuntaskan tugas utama dulu sebelum bermain. Nah pas di bawah mereka bilang ke atas. Setelah itu ketemu counter mainan tapi kecil sekali dan tidak lengkap. Kemudian kita mampir ke counter roti. Nanya ke mbak roti, katanya di lantai bawah ... alamakkkk, ini karyawannya pada nggak kompak sih. Baiklah ... baiklah, ini masih baru, mungkin mereka tidak hapal. Akhirnya saya iya iya in saja tapi sudah malas nyari. Mending beli roti, kenyang.

Mas Kukuh beli kartu. Mengigat di sini harga per permainan rata-rata sama dengan satu bungkus nasi (nasi kucing, nasi padang, nasi pesel dan nasi-nasi lainnya), kisaran Rp 4900-30.000 jadi mamaknya yang kadang (tapi lebih tepatnya sering) hematnya kambuh ini kemudian berujar kepada anak-anak. "Dalam kartu ini saldonya ada 55ribu. Mama mau kalian pilih satu mainan saja ya. Sementara kalian milih, mama duduk di kursi itu." Kutunjukkan kursi tempat Kang Mas sedang beristirahat. "Nanti kalau sudah ketemu panggil Mama." Anak-anak yang soleh, baik hati dan tidak sombong ini setuju. Ada kali 20 menitan bergerilya mereka muterin nyari, akhirnya manggil. Sebuah permainan tembakan air. Karena Si Sulung mainnya lumayan ahli, berkali-kali dia dapat bonus tambahan waktu sampai pinggang saya pegel nungguin. Sedangkan si bungsu sudah KO di ronde pertama.

Kuserahkan kartu kepada kakanda, "Cuman kepakai 10ribu loo ... hebatkan?" Kerlingku. Coba saja dia yang nangkringin bocah, yakin deh 15 menit kartu sudah maasalamah.

Bagaimana dengan janji hadiahnya? Kebetulan besok harbolnas (Hari Belanja Online Nasional) yes... moga dapat diskon 90 persen hahahhaha..

May 23, 2017

Kakiku Keko

Ritual sebelum bobo cah bocah wajib buang air kecil, gosok gigi dan cuci tangan kaki. Jangan lupa berdoa, horayyyy .... ini kalau sikonnya lagi normal, bejimana kalau di luar daripada itu. Sebut saja si sulung. Kadang bisa ketiduran saat megang pensil, maen petak umpet, bahkan pas sedang duduk anteng tenang damai sentausaaa. Diminta siap-siap bobo, bilangnya nkooo sek ma atau.. iya.. iyaa..iyaaa... sejak 3 jam yang lalu tetiba aja udah merem. Maka ritual wajibnya terlewatih. Haiyahhh...

Jadi kemaren, emaknya yang lagi baik hati karena dapat hadiah piring setelah beli sabun cuci inih akhirnya cuman ngurusin si bungsu. Pas matiin lampu aku ngerasa telapak kakinya Rafa kasar, waduhh ... ini tanah menggumpal pikirku. Akhirnya ngambil kain yang udah dibasahin, kasih penerangan pakai lampu emergency, karena kalau pakai lampu biasa, si bungsu bakalan melek terang benderang lagi.

Kakinya jadi terlihat dengan lebih fokus dan seksama. Kasar tersebut ternyata bukan dari lapisan tanah or debu. Kotor memang tapi tidak seberapa. Gurat gurat tersebut lebih tepatnya karena goresan-goresan. Tidak hanya di telapak kaki, sisi lainnya juga demikian. Ada luka goresan yang baru menutup. Ada luka berbentuk semacam pernah terbelah, dan banyak lagi... banyak lagi. Hikss ....

Selama ini memang dia jarang mengeluh kalau kakinya sakit atau apa, pernah meng 'anduh-anduh' tapi cuman sebentar setelah itu berlarian lagi seolah semuanya biasa biasa saja. Dia memang suka jumpalitan, pelongsoran, bergulung-gulung dan sejenisnya. Adakalanya hanya bertelanjang kaki.

Suatu ketika lagi ketika berlarian menyundul bola, lututnya tersunggkur hingga kulitnya mengelupas dan memamerkan lapisan daging merah yang mengangan dia merintih sakit sebenarnya tapi kemudian kembali tertawa. Ahhh ... kenapa sekarang mamanya yang terasa perih. Kubersihkan perlahan dengan ruapan doa .. semoga Allah selalu melindungi setiap langkahmu,  Cah bagoes mama...

May 22, 2017

Teruntuk Alfie dan Rafa

Duhai belahan hati mama, kita sama-sama meyakini,  Kitab yang paling keren, tanpa cela, ditulis oleh orang-orang keren di masanya itu, bersumber langsung dari Illahi yang terangkum begitu indah dengan diksi-diksi maha sempurna bernama Al Quran. Manusia paling sempurna yang pernah diciptakan dan hadir di tengah umat manusia, bernama Muhammad.

Kau tahu anakku, bacaan paling keren itu yang tiada satu tulisan dan penerbit manapun sanggup menyainginya, bahkan dicetak entah sudah berapa milyar kali, masih banyak orang tidak terima, apalagi meyakininya. Manusia paling sempurna yang sudah dijamin Tuhan masuk surgapun begitu banyak yang membencinya. Hingga sekarang anakku, hingga sekarang.

Apalagi kita.

Kita sering berdebat, tentang apa saja bukan, dan sering mama merasa kalah darimu, karna mama tahu kalian jauh lebih cerdas dari mama. Tapi kau tahu anakku, mama paling menghindari berdebat di depan umum termasuk di dunia maya, khususnya medsos. Saat mama melalukan itu hanya akan ada dua hal yang terlihat, terlihat pintar vs terlihat bodoh. Tentu mama akan lebih tampak dari sisi yang kedua. Kalaupun mama seumpama menang, hatipun senang bagaimana dengan orang yang kita debat, bisa saja yang kita perdebatkan bukannya mendapat pencerahan tapi berdampak sebaliknya. Kita tak pernah benar-benar tahu isi pikiran dan hati seseorang. Bisa saja, bisa saja sikap kita melukai mereka.

Kelak, saat kalian tumbuh lebih dewasa, dari tempat tinggal kita yang fana ini akan kalian temui segala keindahan sekaligus kekejamannya. Akan selalu ada orang yang benci, suka bahkan mungkin menghamba. Akan selalu ada, anakku, akan selalu ada.

Teruslah berbuat baik, walau sering terluka. Mungkin jalan kita tidak selalu lurus, setidaknya kalian tahu arah pulang. Apapun yang kita perbuat, kelak, besok, lusa atau 20 tahun yang akan datang, kalian akan memetik hasilnya. Hasil dari apa yang telah kita perbuat. Mendewasalah, rendah hati dan terus menjadi pembelajar.

With love
Mama

Sep 29, 2016

Kamu anak hebat sayang...

Hari ini ananda Rafa sedikit bermuram durja. Sambil membaca buku komik WHY edisi ikan, mukanya berkerut-kerut. Selidik punya selidik guru agamanya barusan marah-marah di depan kelas. 3 orang anak didiknya menghasilnya nilai mengecewakan. Dan salah satu anak tersebut adalah Rafa, haihsss...

Seperti biasa saat mendengar nilainya yg agak unik, hal pertama kali yang kami lakukan adalah tertawa bersama-sama hahahhaha... kalau udah cape, ta puk puk bentar "besok kita usahakan lebih baik lagi yah.." "gurumu marah karna dia perhatian dan sayang, macam mama inilah.. biasanya juga ngomel-ngomel kalau Rafa ngga nurut" hiburku lagi.

Pelajaran di sekolah sudah sangat berat, janganlah bocah bocah di tambah-tambahin dengan beban yang aneh-aneh apalagi di omelin karna  nilai yang hancur, nambahin les-les yang tidak mereka sukai salah satu memberatkan si anak, juga dompet si ortu tentunya.

Mari kita lihat lagi sisi lainnya Rafa. Agama nilainya hancur? tunggu sebentar. Pelajaran agama ada beberapa cabang.
1.Akidah
2.Akhlak
3. Hijaiyah
5. Kemuhamadiyahan
6. Ibadah.
7. Tahfiz

Yang belum dia kuasai adalah Hijaiyah, alias dia belum lancar baca tulis Hijaiyah/Alqur'an. Sedangkan sisanya masih berada di posisi aman. Dia termasuk anak yang tidak bermasalah dengan teman dan guru-gurunya, dan rajin solat barjamaah di sekolah. Puasa? Dia anak yang doyan banget kalau di ajak puasa. Dalam artian akidah akhlak dan ibadahnya tidak bermasalah. Begitu pula hapalannya,  sejauh ini aman lancar jaya sentosa. Jadi masalahnya cuman satu, balik lagi, dia belum lancar baca tulis Hijaiyah.

Bukankah setiap kekurangan selalu di barengi kelebihan. Mari kita lihat lagi pelajaran lain. IPA dan Bahasa Inggris, sempurnaaa.. 100 untuk kedua mata pelajaran ini. Yup, Rafa suka banget sesuatu yang berhubungan dengan alam, lingkungan, hewan, tumbuh-tumbuhan, elektro, juga angkasa raya.  Beberapa kali kudapati dia ber eksperiment dengan aneka bahan di dapur, toko, kamar mandi. Sabun batangan yang cuman berumur 2 hari akibat polahnya yg konon katanya bikin cairan anti septic, baking sodaku yang tetiba tinggal bungkusnya, sampho sebotol yang berganti jadi cairan bening, ngutak atik mainan remotnya dan masih banyak lagi.

Bacaan yang dia gemaripun seputar dunia tersebut di atas. Dia bisa berbetah-betah melahap buku seputar alam. Dia adalah anak alam.. setidaknya itulah yang kudapati saat itu. Kamu anak hebat, sayang. Jadi apapun engkau kelak, mama ingin kau bahagia. Teruslah semangat, belajar, tidak mudah menyerah. Semoga kelak ilmu yang kau peroleh dapat kau amalkan..dan bermanfaat untuk umat. Mama selalu mendoakanmu yang terbaik, dan semoga Allah melindungimu.

Aug 12, 2016

Beberapa Pertimbangan Ketika Memilih Sekolah Anak

Setiap keluarga pasti punya pertimbangan tersendiri ketika memilihkan sekolah buat anaknya. Namun satu jawaban utama yang sama, semua menginginkan yang terbaik.

Sebelum masuk sekolah dasar, kebetulan ananda Rafa berusia 6 tahun 1 bulan. Dia aku tawarin mau tetap di taman kanak-kanak setahun lagi apa masuk SD. Dia menjawab mantap kepengen SD. Dia juga udah ta wanti-wanti kalau SD ngga boleh telat, dan bermainnyapun ngga sebanyak waktu TK.

Ada beberapa jenis sekolah yang aku tawarkan padanya, setelah di seleksi dan konsultasi bersama suami tentunya.

Pertama, SD Negeri yang letaknya hanya beberapa meter dari rumah. Masuk setengah delapan pagi pulang awal, tapiiiii... sore kudu wajib TPA, ngga boleh tidak.

Kedua, SDIT. Masuk pagi pulang sampai sore, ngga perlu TPA lagi.

Ketiga, SD Islam tanpa T alias pulangnya masih jam 11an.

Dan di ambillah keputusan pilihan yang terakhir, pertimbangannya di lihat dari:

1. Karakter si anak
Rafa tidak suka berada di sekolah terlalu lama. Dia anaknya gampang bosanan apalagi kalau tempatnya itu-itu aja. Dia lebih senang sesuatu yang mengarah ke olah fisik dan praktik langsung. Dia hanya fokus di mata pelajaran yang di senengin. Kalau ngga disenengin bejimanapun di bujuk rayu, susyahhhh...

2. Karakter kondisi keluarga
Kasarnya sih salah satunya tentang perekonomian. Sekolah elito dengan penunjang sana sini tapi pas bayaran ortunya megap-megap, kan nyesekkk banget, walaupun semisal anak bahagia sentosa di sana.

Nah kebetulan ekonomi kami ini susah di tebak. Berhubung wiraswasta jadi pendapatan kadang di atas, kadang di bawah, kadang nyungsep entah kemana. Kami juga harus siap-siap semisal ekononi memang sedang memprihatinkan, tapi anak-anak tetap mendapatkan pendidikan yang layak. Lagi pula dia masih sekolah dasar, semisal biayanya udah nyaingin perguruan tinggi, rasanya sayang banget.

Pernah suatu ketika di komporin ma mak emak lain "mbakyuu.. demi anak-anak carilah sekolah yang terbaik, ini investasi jangka panjang lho.. masa kita bisa beli kendaraan tapi nyekolahin anak di tempat yang biasa-biasa aja"

Uhukss... mahaf saya mah kagak mempan digituan. Tak maulah sekolah anak sing mentereng tapi entar makannya pake nasi kuah garem doank. Besok bisa jajan, 29 hari kemudian puasa. Jadi kudu win win solution. Anak sekolah, tapi perekonomian keluarga tetap terjaga, damai amann dan sejahtera.. dan semuapun gembira, horeeee...

3. Karakter Sekokahan
Ini masih berhubungan dengan kedua hal tersebut di atas dan tambahnnya adalah Jarak tempuh.
Anak-anak kalau di anter memang cuman nangkring doank sambil menikmati pemandangan alam, tapi itu tetap menguras tenaga. Terlalu jauh bikin si anak capek, jenuh dan yang nganterpun tepar. Targetku tidak boleh lebih dari 3km dari jarak rumah.

Kan ngga lucu banget, sekolah harganya terjangkau, kualitasnya apik, anak juga suka, tapi letaknya di ujung lembah melewati bukit  berbatu, berkelok dan lurus lagi entah di mana.

Kalau bisa udah ada rekomendasi dari orang-orang terdekat yang pernah menyekolahkan anaknya di sana bahkan sampai lulus. Minimal 3 keluarga.

Me: "Rafa lebih suka sekolah waktu Tk apa Sd sekarang?"
Rafa: "Yang sekarang, Ma!" Jawabnya mantap.
Me: "kenapa emangnya?"
Rafa: "Temennya banyakkkkk...!"

Waktu TK Rafa sekelas cuman blas blasan orang di ampu 2 guru. Sekarang 38 murid dengan 1 guru. Tapi dia seneng  asalllll... ojo suwe suwee.. kalau kelamaan dia bakalan ngamuk di rumah.

Tidak ada hal yang muluk banget aku targetkan dari ananda Rafa ketika dia sekolah. Harapanku dia bahagia sekolah, senang belajar, berkawan dengan baik dan menghormati gurunya. Semoga pegalaman dan Ilmu yang dia peroleh selama sekolah membawa kebaikan dan manfaat untuknya kelak.

Setiap anak pintar dan membawa bakat serta rejekinya sendiri-sendiri. Semoga dia mempersembahkan sisi terbaik dari pribadinya. Semoga ya nak..

#OneDayOnePost

Aug 11, 2016

Ketika si Kecil Terserang Flu Singapore

11 June 2016
pukul 10 Am

Alfie mengeluh pusing, badannya terasa hangat. Aku berinisiatif untuk mengajaknya bobo siang.

Siang hari, suhu tubuhnya semakin tinggi hingga menjelang petang. Suhu mencapai 40 derajat. Alfie mulai gelisah, wajahnya tampak megar dan terus mengeluh pusing. Kami memberinya sirup penurun panas.

Hanya bertahan sebentar, suhu tubuh kembali naik.

Minggu pagi, ketika kami periksa bagian tenggorokannya terdapat bercak seperti sariawan. Batinku mengatakan ini mengarah pada gejala Flu Singapore.

Siang hari bercak semakin bertambah di wilayah telapak kaki dan tangan serta bibir. Yup, 100% Flu Singapore.

Alfie mulai mengalami kesulitan menelan makanan dan minuman. Dengan berbagai bujuk rayu beberapa sendok bubur yang aku blender masuk ke perutnya.

Senin dan selasa siang adalah hari dimana puncak betapa susahnya dia menelan sesuatu cairan melalui tenggorokan. Dia menangis, kadang menjerit histeris seolah apapun melewati rongga laksana pisau mengiris-ngiris bagian dalam mulutnya.

Segala macam upaya kami usahakan agar Alfie tidak mengalami dehidrasi. Walaupun susah payah beberapa teguk air madu dan bubur bisa tertelan. Selasa sore makanan yang masuk sudah lebih banyak. Sudah mau mengunyah dan minum jus buah dengan cara di sendokin. Bisa memasukkan makanan dan minuman ke perutnya itu seperti sesuatu banget.

******

Senin malam menjelang tidur, Rafa batuk. Dini hari menjelang saur, badannya terasa hangat. Kamipun membatalkan dia untuk turut saur dan membiarkannya terlelap.

Selasa siang, badannya kembali panas. Ku periksa tenggorokan dan telapak kakinya, nampak bercak merah.

Walaupun aku berusaha menghindarkan dia dari ketularan sang adik, tapi virus itu ternyata begitu kuat.

Sebelum Rafa mengalami masa di mana dia kesusahan menelan makanan dan minuman, sedini mungkin dia kuminta untuk makan dan minum yang bergizi dan banyak. Beruntungnya si anak kali ini patuh, sudah tidak terhitung berapa gelas susu yang dia minum.

****

Daerah Landasan Ulin Banjarbaru saat ini memang sedang epidemi Flu Singapore, kemungkinan besar Alfie mendapatkan virus saat di Bandara Bjb.

Selama anak tidak mengalami dehidrasi akut, penderita Flu Singapore tidak harus di rujuk ke rumah sakit. Dengan penanganan yang tepat Insha Allah dalam tempo 7 hari akan sembuh.

Flu singapore lebih sering menyerang anak usia di bawah 10tahun, namun beberapa info menyebutkan tidak menutup kemungkinan menular kepada orang dewasa.

Beberapa bercak akan mengalami penggelembungan yang berisi air dan pecah, hingga mengakibatkan rasa gatal pada penderita mirip seperti cacar air, bedanya bercak Flu Singapore menyerang pada area rongga mulut, bibir, telapak tangan, kaki, siku, lipatan lipatan dan anus. Beberapa penderita mungkin hanya mengalami di bebebrapa area. Sedangkan cacar air menyerang nyris ke semua permukaan kulit.

Ini adalah kali kedua anak-anak terkena virus Flu Singapore, dulu kami kira mereka terkena sariawan.

#latepost #OneDayOnePost

Pada suatu malam

Pembicaraan dengan cah bagoes Rafa beberapa jam yang lalu

Me : Suatu hari, cepat atau lambat untuk waktu sebentar atau lama kelak kita pasti tinggal berpisah, sayang.. Entah itu Rafa sekolah ke luar daerah, entah Rafa sedang camping atau jadi nganten.

Rafa: kalau jadi nganten pastilahhh....

Kami sedang nakan es krem bareng, nyaris keselek sayah.. astaga, cepet banget nyautinnya.

Me: Emang Rafa jadi nganten sama siapa? *coba nahan senyum maksimal*

Rafa: embohhh...

Semoga kelak engkau jadi Imam yang setia, bertanggung jawab dan selalu sayang keluarga ya nak...

#OneDayOnePost

Jun 16, 2016

Pamit tanpa permisi

Rencananya aku mau beli buah buat persiapan buka. Jarak yang di tenpuh sekitar 2km. Anak-anak sudah pada makan, karna mereka sedang dalam masa penyembuhan dan biar virus flu singapore nya tidak tambah menyebar mereka sengaja aku umpetin di rumah saja.

Saat mau pergi di rumah sedang ada tukang, benerin kran air yang ambrol. Aku hanya mendapati si bungsu Alfie. Akupun pamit padanya, lupa kalau saya masih punya bocah yang berusia 8 tahun sedang asik bermain di toko.

Rencananya memang tidak sekedar beli buah tapi ke klinik skin care. Sudah berbulan-bulan rasanya wajahku belum terkena sentuhan tangan dari mba mba cantik di sana. Sebenarnya tidak terlalu doyan banget ke tempat beginian, tapi sekali-sekali bolehlah. Paling suka totok wajah plus pijetannya, ngeluarin komedo yang numpuk dan tentu saja bisa nyuri-nyuri tidur siang di area bebas hambatan.

Beragkat dari jam 1 sampai jam 3 an. Tetiba di rumah si sulung Rafa langsung ngamuk, mamanya hilang tanpa kabar, ngga ijin, dan tak ada pula pesan dan kesan. Laksana tentara pasukan power rangers, Rafa memberondongiku dengan berbagai intruksi sebagai emak yang paling berdosa se angkasa raya.

Sang emak sudah minta maaf, nawarin segala macam penebusan dosa, meluk-meluk, ngasih kesempatam dia buat ngomel sampai puas, dan lain sebagainya masih tidak mempannn. Sepanjang kegiatannku memasak diiringi alunan syahdu tangisan Rafa yang keluar masuk dapur, duduk di meja makan nyalahin si emak, keluar, masuk lagi dan keluar lagi masih dengan isakannya.

Berlangsung hingga menjelang beduk magrib. Sang emak di minta berjanji dan berikrarrr tidakkk boleh ngulangin lagi.

Ini adalah kali kedua saya lupa pamit sama dia saat mau menghilang. Kali pertama saat ke warung buat belanja, masih satu area dan nasib sayapun sama di tangisin berjam jam lamanya, lebih panjang tangisannya di bandingkan masa kelayapan emaknya. Bukan karna jarak tempuh ataupun berapa lama sang emak pergi tapi pergi tanpa bilang bilang itu bagi Rafa sangat memilukan melebihi penderitaan perang dunia ke dua.

Sejak kecil saat mau pergi atau siapapun yang mau pergi semisah papanya, aku selalu bilang jujur padanya dan menjelaskan ada saatnya dia tidak bisa turut serta walaupu  kadang itu sangat berat. Pergi dengan sebuah tangisan atau amukan sudah biasa tapi lama kelamaan dia faham.

Tangisan adalah bentuk dari kesedihan mereka di tinggal tapi mereka tentu lebih senang orang tuanya tidak membohonginya dengan mengatakan hal-hal yang aneh saat mereka tidak bisa turut serta.

Jujur di depan walau kadang pait tentu melegakan dari pada nyenengin tapi ketahuan ngibulnya.

16june2016

#latepost #OneDayOnePost

May 27, 2016

Kids Story part 4: Anak-anak dan Tekhnologi

Sejak usia dua tahun Rafa pengenal komputer dan telah faham pengoperasiannya walau masih tingkat dasar. Berbeda dengan Alfie, usia 4 tahun  jarinya masih gegagapan dan tentu saja Alfie lebih mengenal era gadged alias smartphone.

Jamannya PC ada permainan komputer yang masih aku ingat dan sangat digemari Rafa, Tarzan bergelantungan di pohon, menyusuri sungai, hutan dan lembah.

Saat papanya kembali, permainan bertambah, dari area balapan hingga dunia hewan dan kartun. Saat bermain game tentu saja aku memiliki waktu luang yang lebih banyak. Bisa tidur siang tanpa hambatan, selonjoran, nonton tivi tanpa gangguan, sms an, masak, beres beres rumah dengan aman dan lain sebagainya.

Apakah itu menyenangkan? Sekilas iya, anak anteng tanpa grasak grusuk huru hara ngusilin orang tuanya, permainannya bersih, murah meriah dan tidak perlu ke luar rumah. Tapi eitssss..... tunggu dulu!!

Bangun tidur yang terlintas sama si anak adalah game,  makan di suapin sambil nongkrongin game, rewel dikit anteng hanya menyodorin game, sosialisasi berkurang, tidak tertarik dengan permainan lain, temperament dan cepat marah. Kontrol emosi sangat payah, males bergerak dan masih banyak lagi yang lainnya.

Astaga, iya aku punya waktu luang jadi lebih banyak tapi di samping itu aku sedang menanam kerepotanku sendiri di kemudian hari. Ini seperti bom waktu yang akan menghancurkan masa depan anak anak dan keluargaku. Ada yang sungguh tidak beres di samping pemberian dan ke antengan si anak saat bermain game.

Saat mereka rewel tidak karuan, nyalain tivi dan biarkan mereka asik dengan sendirinya, etapi bukannya acara di tivi banyak sampah yang sungguh sangat susah mencari manfaatnya. Belum lagi tayangan-tayangan iklan yang mengajak siapapun melihatnya untuk bertindak konsumtif, seperti di paksa menerima apapun yang ada di dalamnya tanpa memberikan ruang buat penonton untuk protes. Kok bisa bisanya gegara coklat beng beng orang pada pisahan, dan ajaibnya manusia berlomba lomba menjadi hewan *tepokjidat*

Saat anak sedang berada di area yang menurut dia sungguh menyenangkan, rasanya akan terlalu susah jika semua harus aku hentikam seketika. Mulailah peraturan di rumah di tegakkan.

Bermain game hanya saat weekend. Nonton tivi dengan berbatas waktu. Memberi penjelasan kepada anak-anak tentang dampak negatif apabila mereka terlalu lama dengan bahasa yang mudah dan memberi contoh anak-anak yang telah kecanduan game dan tivi.

Sungguh tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa. Mereka sempat protes, menolak dan berulah selama beberapa hari. Aku tetap berpegang teguh, bahwa suatu hari nanti ada masanya kami tidak bisa mengontrol sepenuhnya apa yang mereka lakukan, lihat dan dengarkan. Hanya ketika mereka bertumbuh seperti inilah tugas kami untuk menasehati dan memupuknya lebih dalam dan kuat. Semoga kelak mereka mengerti dan terbawa hingga masa itu tiba.

Setelah pengurangan jam tayang dalam hari, berlanjut pengurangan pemakain dalam hitungan  jam bermain game. Hingga lambat laun mereka sudah tidak meminta. Menonton tivi sebisa mungkin aku dampingi apalagi ada tayangan dengan slogan SU-BO - R (segala umur - bimbingan orang tua - Remaja). Mengganti chanel sendiri apabila ada tayangan kekerasan, mengarah ke pornografi, dan sinetron-sinetron tidak jelas.

Bijak saat memakai smartphone. Bagaimanapun banyak hal positif yang bisa di peroleh dari benda bernama smartphone tersebut. Hanya saat-saat tertentu mereka bermain game, itupun telah memenuhi beberapa persyaratan seperti di larang rebutan apalagi sampai tangisan, main bareng dan hanya sebentar. Tidak ada satu anak satu hape.

Setiap minggu atau bulan, ke toko buku mencari bacaan yang menyenangkan dan bermanfaat. Membacanya bersama-sama dan menggambar. Saat longgar pergi ke taman. Tidak ragu bermain pasir dan lumpur. Ke tempat berbelanja dengan melibatkan mereka memilih barang. Membeli mainan yang lebih menguras otak dan tenaga. Alhamdulillah, dan semoga hingga kelak anak-anak keluar dari zona game dan tivi adicted dan lebih melakukan hal-hal yang bermamfaat.

#OneDayOnePost

May 26, 2016

Kids Story part 3: Hari Pertama Sekolah

"Mama masuk ya!" Pinta Rafa. Akupun menyetujui. Saat itu hanya 3 orang emak yang menemani anaknya hingga di dalam kelas, dan salah satunya adalah saya.

Semula Rafa enggan masuk ke ruangan kelas. Persis saat ia di taman kanak kanak, tidak mudah membawanya masuk ke ruangan. Bahkan berminggu-minggu Rafa hanya bermain di luaran.

Kali inipun demikian, tentu tidak pakai mengamuk. Karna masuk paling belakang, Rafa dapat kursi paling pojok, dan sang emak nangkring di kelas ikut belajar.

Hari ke-dua, sang guru sudah tidak mengijinkan anak-anak di temani hingga ke dalam kelas. Sebagai gantinya, boleh liat di kaca jendela. Rafa langsung keluar memberi pesan padaku "mama di samping jendela ya" dan dakupun manut.

Rafa belajar sambil mengawasiku, dia tidak membolehkanku untuk duduk di pinggiran tembok. Hari itu hanya saya yang berdiri dekat jendela nyaris selama dua jam tanpa pindah posisi.

Pulangnya aku langsung bereksperimen "mama pegelll banget, tolong pijitinnn yaaa" di tambah muka yang  memelas aduhai berharap dia faham. Sungguh pegel, tapi tidak segitu juga kali.

Hari ke tiga, lebih menggembirakan aku di persilakan duduk di teras tapi tidak boleh merubah posisi, kapanpun dia pengen liat, mamanya harus selalu ada. Dan saat itu jendela di tutup menggunakan tirai. Rafa berusaha membuat lubang kecil, sesekali matanya mencariku. Dia sempat di tegur gurunya karna tidak fokus di kelas.

Hari-hari selanjutnya tentu semakin menggembirakan, dia sudah bisa di lepas sebagaimana mestinya.

Giliran Alfie.
Karena ada suatu urusan rutin, aku terpaksa menyekolahkan Alfie di usia lebih muda di bandingkan  kakaknya. Tepat berumur 3 tahun, saat itupun sudah masuk semester ke dua, dan Rafa masih bersekolah di tempat yang sama.

Alfie ditunggui Nini (my mom) selama kurang lebih tiga harian. Selebihnya aku antar dia terus aku tinggal sambil sesekali mengawasi dari luar.

Setiap di tinggal Alfie selalu menangis, dan langsung ditangani gurunya, ajaibnya Alfie menangis hanya ketika melihatku, saat diriku dinyatakan menghilang dia langsung diem dan langsung bisa berbaur dan dapat mengikuti kegiatan sekolah dengan baik.

Apalagi saat jam istirahat dan pulang dia masih bisa bermain dengan kakaknya. Walau dari benih dan rahim yang sama, dua anak dua karakter yang berbeda. Cara menikmati sekolahpun juga berbeda beda.

#OneDayOnePost

May 25, 2016

Kids Story part 2: Bullying

"Di gangguin terus, dimana-mana aku di gangguin!!!" Si kecil nangis kejer-kejer di sambi meratap minta bolos sekolah.

"Dengerin mama yah,  anak nakal biasanya temenan sama anak nakal juga, kalau anak baik temennya banyak dan pasti gurumu selalu membela yang benar, maka kalau kalian para anak baik jangan pernah takut selama berada di jalan yang benar, percayalah mereka yang jail itu bakal takut sendiri gangguin kalian" sang mama berusaha menenangkan.

Alfie terdiam berusaha mencerna. "Cara terbaik untuk melawan mereka yang ngusilin kamu adalah harus lebih hebat dan lebih cerdas. Mereka yang suka jailin kamu akan tertawa terkekeh kekeh dan merasa di atas awan saat tau kamu ngga sekolah"

"Jangan biarkan mereka menguasai sekolahmu, kalian harus bersatu, ayooo kita sekolahh.." aku mulai ber semangat empat lima bak sang proklamator membacakan ikrar kemerdekaan bangsa Indonesia, MERDEKA.

Teringat beberapa waktu yang lalu, sang kakakpun mendapat perlakuan serupa, di ganggu temen yang rata rata bertubuh lebih besar dari dia. Biasanya, sebagai langkah awal aku meminta mereka untuk menghindari tememnya yang kelewat agresif apalagi sampai melakukan hal-hal yang berbahaya, dan selalu bilang kalau mereka tidak suka di perlakukan seperti itu.

Pernah aku lihat sendiri, betapa Rafa berlari terus menghindar saat sang tukang usil berusaha mengganggunya. Semula berhasil, lama kelamaan sang pengganggu mulai merasa kesenengan dan jadi kebiasaan, ketemu Rafa selalu mengejar. Sang ibu seperti cuek, sudahpun berlapor pada guru, tapi si anak itu seperti kebal.

Hingga suatu hari akupun memberi ijin Rafa untuk 'membela diri' tepat saat aku menjemputnya pulang, saat itu Rafa tidak tau aku telah datang. Rafa berlari kencang melawan, entahlah apa yang telah dia lakukan. Si anak yang di kejar lari terbirit-birit, Rafa seperti menahan emosi yang berhari-hari dia pendam, dia mengejar dan terus mengejar. Si anak itu bener-benar ketakutan dan langsung ngumpet di dibelakang ibunya memaksa minta pulang. Aku sendiri langsung memeluk Rafa menenangkan, terlihat amarah yang menjadi-jadi.

Sejak kejadian itu selama di tk tak pernah terdengar lagi dia di gangguin. Se elit atau sebagus apapun sekolahan, bullying akan selalu ada. Aku selalu menekankan sama anak-anak jangan pernah jadi pelaku bully, karna di bully itu sungguh tidak enak akan kebawa dan keingat terus hingga dewasa, apalagi saat kejadian tak ada orang yang mau mendengar keluh kesah kita.

Seorang temanpun pernah berceloteh, anaknya mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari teman-temannya, padahal sekolahnya sudah bertaraf I alias Internasional. Mau sekolah I, U aka Unggulan, dan sejenisnya tidak akan menjamin. Semoga anak-anak kita selalu dalam lindungan Allah, ammiinnn..

Suatu hari Rafa pernah mengadu, dia di ejek temannya dengan sebutan yang kurang menyenangkan. Yeah, bully bukan hanya bersifat kekerasan fisik namun juga secara non fisik seperti ejekan, di fitnah, di jauhin dan lain sebagainya.

Penyebabnya macam-macam, bisa karena ketidaksukaan, miskin, kecil, tak berprestasi, susah bergaul, atau mengalami kejadian yang dianggap memalukan yang membuat orang-orang di sekitarnya punya alasan untuk mem bully, dan masih banyak lagi.

Sebenarnya untuk ukuran anak-anak mereka belum mengerti sepenuhnya tentang apa yang mereka lakukan, mereka hanya tau ketika melakukan sesuatu mereka merasa gembira dan dapat perhatian lebih terkait yang dilakukan tersebut baik atau sebaliknya.

Aku selalu meminta anak-anak berusaha terbuka tentang apapun yang mengganggu mereka baik di sekolah maupun di tempat lain, dan bersama-sama mencari jalan keluarnya. Aku tak mau sesuatu yang mamanya dulu alami harus mereka rasakan juga.

#OneDayOnePost

May 24, 2016

Kids Story Part 1: Aktivitas Sebelum Tidur

*Situasi aman kondusif
Jarum jam menunjukkan 8.30 waktu Indonesia bagian Solo.
"Ayo anak anak saatnya persiapan bobo" mulai berbenah mainan, kelar  segera menuju kamar mandi, pipiz, gosok gigi dan mandi.

"Hari ini buku yang mana lagi?" Tawarku dengan sumringah. Masing masing mulai menunjukkan buku yang akan di baca, dari cerita zaman nabi, buku dongeng nusantara, sebelum tidur besutan orang luar, fabel hingga ensiklopedia alam.

Semua mendengarkan dengan seksama, kelar merebahkan diri, baca doa, dan terlelap dengan indah.

*Suasana sedang kurang aman bin ora kondusif dan chaosss..
"15 menit lagi saatnya bobo ya....??!"

"Sekkk maaa..." Rafa masih jumpalitan dengan mainan, kadang masih berlarian, manjatin barang papanya. Si kecil tak kalah bikin huru hara memberantakin mainan, terus saat di suruh bobo dia masih aja beralesan

"aku capeeeee maaaa..,ikie lo kegatelan" sambil terus menggaruk leher yang sebenarnya ngga gatel gatel banget.

Saatnya masuk kamar mandi, Alfie aku papah di bales dengan kakinya yang beronta-ronta minta turun bilang kalau bisa jalan sendiri. Setelah di turunin kaborrr entah kemana. Saat ketemu masukin lagi ganti kakanya yang menghilang. Berlarian ke sana ke mari. Sukses bawa ke duanya ke kamar mandi mereka mulai berantem guyur guyuran plus ledek ledekan.

Saat diminta sikat gigi, Alfie mulai protes "sikat gigi lagi sikat gigi lagi, tiap hari sikat gigi.. capeeeeeee" dia mulai meraung-raung dan melakukan aksi tutup mulut.

Sang kaka masih nurut saatnya di guyur air dia protesss.. "mandi lagi mandi lagiii, tiap hari mandi, mau sekolah mandi, pulang sekolah mandi, mau bobo mandi, bosennnnn" oktav nya tidak kalah melengking dengan teriakan yang bisa menggegerkan tetangga sebelah rumah.

Saat tersentuh sabun, bak ketemu mainan baru mereka mulai cekikikan membuat balon hand made. Di guyur kembali protess. Keluar kamar mandi rusuh dan masih berlarian. Balapan pakai baju, yang kalah cepetpun jadi ahlesan buat geger kembali.

Ketika di tawarin buku yang akan di baca mereka rebutan minta pilihan sendiri yang harus di utamakan. Mamanya sibuk baca anaknya sibokkk ngobroll dan maenn hingga tak sadar tetiba mamanya bilang kelarrr...hohohoho.

Alfie sebenarnya sudah bisa tidur sendiri, sedangkan kakaknya minta di temenin. Dipan tingkatpun kepakai cuman bagian bawah. Jadilah kami pakai bertiga dengan posisi melintang dan kaki sang emak ke tekuk 9.

Kelar? Oh belum, mereka pada lempar-lemparan bantal. Berlompatan ke sana ke mari, cekikikan ngga karuan kadang berakhir dengan tangisan kemudian rusuh lagi sampai cape, sampai sang emak keluar tanduknya. Lelah... tidur dengan posisi nungging dan yang satu telentang mengambil jatah space yg ada.

Emaknya ketiduran dengan posisi ngga karuan, bangun sang encok kembali menyapa.

#OneDayOnePost

May 18, 2016

Hari ke-7: Kembali ke Sekolah

Di antar papa, mama membawaku ke kantor dengan selembar surat pengunduran dirinya. Mama cukup sedih tapi mama sudah mantap sekali. Saat mama datang, mereka mengucapkan selamat datang kembali, mereka kira mama udah mau bekerja kembali. Mama terus bilang mama tidak akan kerja lagi.

Om Islam sempat kaget kenapa tiba-tiba sekali. Setelah di kasih tau alasannya akhirnya diapun mendukung. Om Islam selama ini sangat berjasa sama mama di kantor, dia selalu melindungi mama, dan memberi kemudahan-kemudahan lainnya, dia juga yang merekomendasikan mama untuk di terima bekerja. Om Islam kemudian membawa aku dan mama menemui pak Abdurahman, anak dari pemilik kantor tempat mama bekerja.

************

Senin, hari pertama aku masuk sekolah setelah hampir seminggu libur. Aku masuk jam 8, mama sengaja datang ke sekolah terlambat agar aku tidak perlu mengikuti upacara bendera. Aku masih lemah dan kurang bersemangat. Kata orang-orang mukaku masih sangat pucat.

Mama menungguiku sepanjang hari di swkolah, aku bisa pulang kapanpun aku mau kalau merasa lelah di sekokah. Jam istirahat aku hanya berjalan-jalan dan melihat teman-temanku bermain. Mata mama tak sedetikpun berkedip mengawasiku saat bermain. Juga saat teman-teman mengajakku bermain benteng, mama bilang ke teman-teman sementara aku jadi penonton dulu.

Hari selasa, aku di antar papa. Saat jam istirahat mama sudah nangkring di depan teras perpustakaan, mama masih terus mengawasiku sampai jam pelajaran usai.

Hari Rabu jadwalku berolah raga. Aku masih bisa mengikuti pemanasan, namun saat semua bersiap-siap menuju lapangan sepak bola, mama meminta ijin kepada pak pelatih, bahwa aku masih masa penyembuhan dan belum bisa ikut. Pak pelatih menginjinkan, jadilah aku nangkring di sekolah sama mama. Karena aku terlihat bosan mama mengajakku ke pasar membeli buah, sudah beberapa hari aku tidak buang air besar. Mama membeli buah pepaya dan melon kesukaanku.

Hari Kamis tanggal merah. Kata papa kapanpun aku sudah terlihat sehat kami akan beragkat ke Jepara. Sayang, kata mama aku belum pulih banget. Selama tanggal merah aku dan adikku hanya di rumah dan bermain di daerah sekitar.

Hari Jumat masih tanggal merah. Kata mama aku udah mendingan, udah mulai jailin mama dan adikku, udah bida lari-lari dan manjatin barang dagangan papa. Mama memastikan hari minggu, kami siap melakukan perjalanan jauh.

Hari Sabtu, mama sudah tidak menungguiku lagi di sekolah.

#OneDayOnePost
#EdisiCeritaBersambung

May 16, 2016

Hari ke-6: Pemulihan

Banyak yang menyayangkan karna tempat kerja mama nyaman sekali, bahkan mama bisa libur kapanpun saat butuh, mama juga udah cinta banget dengan teman-teman di kantor dan suasana kerjanya.

Mama tidak ingin menyesal di kemudian hari karena memberikan pengasuhanku kepada orang lain, mama juga orangnya cemburuan takut aku terlalu dekat dengan pengasuh hingga melupakannya. Kata mama, materi selalu datang dan pergi dan masih bisa di cari, tapi masa kecilku hanya sekali dan tak akan pernah kembali.

*********


Berhari-hari aku tidak keluar rumah, membosankan sekali. Panas tubuhku yang sering naik turun membuatku harus lebih sering beristirahat. Aku juga tidak bisa bersekolah dan bertemu teman-temanku. 

Kalau di hitung-hitung dalam semester ke-dua ini aku ijin selama 3 mingguan. Satu minggu pertama sakit kena cacar, waktu itu di sekolahku lagi ada wabah cacar air, karena aku juga belum pernah kena dan daya tahan tubuhku saat itu lemah, kena deh. Aku juga menularkan penyakit itu ke adik dan ibuku.

Setelah sembuh, dan luka-luka di tubuh serta wajahku mengering aku berangkat ke sekolah. Baru sehari masuk, pulang ke rumah aku panas lagi. Akhirnya aku libur, dua hari berturut-turut panas tubuhku cukup tinggi. Hari ke-3 seluruh badanku memerah. 

Hari ini mama ke sekolah untuk mengambil raportku. Aku peringkat ke 21 dari 39 lhooo... mama dan papa tidak pernah mempersoalkan itu, dimata mereka aku tetap menjadi anak yang cerdas. Mama juga tidak me les kan aku apa-apa, dulu pernah sih ikut tek kwon do, hanya sebulan aku berhenti karna katanya aku tidak fokus. Kata mama aku tidak akan di les in kecuali aku yang minta. Tapi kalau belajar ngaji mama menekankan aku suka tidak suka aku harus bisa, karna ada surat-surat dari Allah yang suatu hari harus aku baca sendiri.

*****

Sabtu sore, teman mama papa, Om Didat dan tante Yosi berkunjung ke Solo. Mereka menginap di hotel Paragon. Ini adalah kunjungan mereka yang ke dua. Aku senang sekali mendengar kata hotel, karna di hotel aku bisa donlowd game sepuasnya dengan pasilitas wifi gratis..ahhhh, moga suatu hari papa memasangkanku wifi sendiri di rumah agar aku tak perlu jauh-jauh ke hotel.

Mama sangat membatasiku bermain game, katanya itu dilakukan karna dia sayang padaku, kalau dia tidak sayang tentu di biarkannya aku bermain sepuasnya, sementara itu dia bisa melakukan aktivitas tanpa gangguan dariku.

****

Papa berjanji padaku, kalau aku sudah sehat dia akan mengajakku ke Ocean Park di Jepara. Papa menunjukkan poto-poto di sana melalui hape nya. Wawww... tempatnya sangat indah, banyak pemandangan bagus dan permainan yang banyak. Kata papa sehari penuh menjelajahi tempat itu tidak akan cukup.

Tidak sabar rasanya bisa segera ke sana. Aku jadi semangat minum obat dan vitamin. Minum susu dan makan juga.

#OneDayOnePost
#EdisiCeritaBersambung

May 12, 2016

Menjelang Hari ke-6 : Ganti Obat

Darahku di periksa, beberapa jam kemudian hasilnya keluar. Sepertinya aku boleh pulang, tante tante berbaju putih itu hanya memberi pesan pada mama dan papa untuk terus memberiku asi dan berjemur setiap pagi, kalau kuning di kulit dan bola mataku tidak berkurang maka mama dan papa harus membawaku kembali ke rumah sakit. Mama selama ini memang tidak bisa menjemurku, karna setiap pagi udara masih sering berdebu. Beruntung ke esokan paginya cuaca begitu cerah dengan udara yang sangat bersih. Selama beberapa hari setiap pagi mama selalu membawaku ke luar untuk berjemur. 

Satu bulan sebelum cuti mama berakhir, mama memutuskan untuk berhenti bekerja. Sebelumnya ada beberapa pilihan, dirawat asisten rumah tangga ketika mama sedang kerja atau membawa saudara papa untuk membantu merawatku, tapi mama tidak memilih keduanya, mama ingin merawatku sendiri. 

*********

Sejak Jumat malam hingga sabtu sore suhu badan Rafa masih naek turun, berkisar 38.5-39 degres. Antibiotik yang di berikan dokter seperti kebal, tidak ada perbaikan.

Aku teringat ada temen di komunitas ODOP yang masih active bekerja di bidang kesehatan, mba Indri Bunyamin. Aku coba ajak ngobrol, siapa tahu dapat pencerahan.

[10:26 PM 30/04/2016] Mba Indri: Seharusnya ada perkembangan ya ...  krn sdh diberikan antibiotik untuk radangnya

[10:27 PM 30/04/2016] Mba Indri: Cek darah sudah dilakukan tapi normal.

[10:27 PM 30/04/2016] Mba Indri: Benar kata suami mba... besok kalau masih panas cek lab lagi

[10:28 PM 30/04/2016] Mba Indri: Kalau panas tinggi coba gunakan obat panas yg digunakan melalui anus seperti Dumin Rectal Tube

[10:28 PM 30/04/2016] Mba Indri: Tidak ada riwayat kejang?

[10:29 PM 30/04/2016] Mba Indri: Rajin dikompres air hangat2 kuku

[11:01 PM 30/04/2016] ✨Raida✨: Belum pernah kejang mba

[11:02 PM 30/04/2016] ✨Raida✨: Ini bocahnya udah bobo lagi

[11:02 PM 30/04/2016] ✨Raida✨: Apa ada kemungkinan typus mba, mungkin pas di cek dini hari ini jumat itu belum keliatan?

[11:08 PM 30/04/2016] Mba Indri: Kalau thyfus lebih cepat terlihat dari hasil lab widal testnya

[11:09 PM 30/04/2016] Mba Indri: Yg sulit itu DBD karena ada masa2 latent seperti pelana kuda

[11:09 PM 30/04/2016] Mba Indri: Trombosit normal yah?

[11:09 PM 30/04/2016] Mba Indri: Kalau thyfus biasanya disertai dgn keluhan di sal cerna seperti mual, diare, 
Berasa konsultasi ama dokter :)
*****
Sabtu sore suhu Rafa masih panas. Aku laporan ke kang mas kalau Rafa tadi ken**t nya bau banget, dia juga kadang merasa perutnya agak melilit-lilit.

Disinilah mas Kukuh mulai menebak-nebak, apa mungkin yang infeksi bukan tenggorokannya tapi bagian perutnya atau pencernaan. Kalau sampai minggu dia masih demam, mau ngga mau harus di cek ulang, hah?

Setelah beberapa macam pertimbangan akhirnya Mas Kukuh berinisiatif mengganti antibiotik khusus infeksi pencernaan yang biasa di pakai untuk mengobati typus, di minum 3x1 hari di mulai pada sabtu malam.

Tembakan pertama, tidak terlalu keliatan. Dosia ke dua, panas mereda, muka keliatan sayu tapi lebih cerah. Hingga minggu, suhu tubuhnya normal.

May 11, 2016

Hari ke 5 part 4: Mainan baru

Usia  5 hari kulit dan bola mataku menguning. Mama sangat khawatir,  ketika papa sampai rumah dan melihat keadaanku papapun ikut gelisah. Saat itu aku sering mengantuk, terlelap dan aku tidak terlalu ingin menyusu.

Papa segera membawaku ke rumah sakit, banyak sekali orang berbaju putih di tempat itu. Untuk pertama kali urat nadiku ditusuk jarum suntik. Sakit sekali, mereka mengambil darahku. Aku menangis sekeras mungkin, dan untuk pertama kali pula aku mengeluarkan air mata.

*******

Setelah Magrib aku kembali mengingatkan "udah malam lo pa"

"Iya sebentar lagi" jawabnya datar sambil terus membalas pesan-pesan yang masuk lewat bbm di telpon pintarnya.

Sekitar jam 7, pasukan siap-siap berangkat. "Ayooo.. Rafa, Alfie" seru mas Kukuh.

Anak-anak bersorak gembira. Tubuh Rafa yang masih terlihat payah berusaha bangkit dari duduknya. Kupakaikan celana jeans panjang dan sweater. Cukup lama mereka berada di luar,  padahal jarak toko mainan dari tempat kami tidak lebih dari 2km.

Satu jam an lebih akhirnya mereka kembali. Alfie langsung mencariku "mamaaaa... dedek pulang"  sebuah pedang pelastik berwarna putih dengan genggang berbentuk tokoh jepang Ultramen. Ku minta dia untuk meminta beberapa batrey di toko, diapun berlari.

Walaupun bahagia, Rafa terlihat semakin sayu. Suhu tubuhnya terasa hangat. Ketika di luar akupun memberi pesan kepada mas Kukuh untuk membeli termometer di apotik terdekat. Termometer dulu kami miliki telah hancur dan menjadi korban permainan bocah-bocah.

Rafa mengeluarkan sebuah kotak yang tidak terlalu besar dari kantong plastik. Di bukanya kotak tersebut, terlihat beberapa bungkus partikal kecil menyerupai lego. Star Wars, tokoh yang akan dia bangun.

Menjelang tidur, suhunya tetap tinggi 38.7 derajat :(

Antibiotik dari dokter seakan tidak mempan, hati kami kembali gelisah.

Setelah Alfie bobo, aku menyelinap ke tempat tidur Rafa, beruntung Alfie tidak terbangun, semalaman ku peluk dia, hatiku seperti teriris-iris perih.

#OneDayOnePost
#EdisiCeritaBersambung

May 10, 2016

Hari ke-5 part 3: Bocah Usil

Selama dua hari dua malam mama tidak tidur, aku selalu mengajaknya bercanda, bahkan aku selalu ingin tidur digendongannya, saat mama taruh aku di kasur maka aku akan menangis kencang. Saat itu papa lagi dinas malam, pulang ke rumah papa kecapean sekali.

Jangankan untuk tidur, lagi di kamar mandi saja aku sudah merasa kesepian, aku terus memanggilnya, memanggilnya dan terus memanggilnya.

Asi mama akhirnya mulai keluar lebih banyak, tapiii... putingnya jadi lecet dan payudaranyapun membengkak. Saat aku mulai menyusu mama sering merintih kesakitan, mulutku seakan silet yang mengiris-ngiris dadanya. Mama menggigit bibir dan menghentakkan sebelah tangan dan kakinya ke lantai sambil terus menyusuiku, sebagai pelampiasan rasa sakitnya. Seminggu pertama sepertinya perjuangan sangat berat baginya, tapi mama terus semangat.

******

Kurang lebih setengah jam hangat tubuhnya kembali normal, keringat bercucuran membasahi kaosnya. Kurasakan tubuhnya begitu dingin.

"Bukankah mas sudah berjanji membelikannya mainan baru" ucapku mengigatkan mas Kukuh yang terlihat sibuk memeriksa nota-nota barang. Sesekali memasukkan datanya ke dalam komputer.

"Iya nanti habis magrib" jawabnya sambil terus memainkan jari-jarinya di atas keypad, sebelah tangannya lagi memegang erat beberapa nota.

Ku tinggalkan dia, sementara itu Alfie dan Rafa masih terlihat bermain. Kadang-kadang Alfie terlihat begitu simpati terhadap kakanya.namun tak jarang pula ke jailannya membuat Rafa menjerit histeris dan menangis.

Untuk mendapatkan perhatian kakanya, Alfie sering kali bertingkah usil. Semakin Rafa berontak dan mengamuk, bahkan sampai menangis semakin senang dia. Bahkan wajahnya terlihat datar tanpa dosa walau kakanya  sangat berduka akibat polahnya.

Kali ini tentu saja aku berusaha melindungi Rafa yang benar-benar tak berdaya. Tapi entah kenapa susah sekali memarahin Alfie. Tingkahnya yang membuat wajahku kesulitan menampakkan ekspresi serius. Alfie seperti magnet yang memiliki aura kasih sayang, siapapun melihatnya akan merasa teduh, terhibur dan tak kuasa membuat hatinya terluka.

Walaupun aku menegurnya, tapi wajahku selalu dalam keadaan tersenyum dan terlihat bercanda. Agar Alfie tak semakin mengusili kakanya biasanya ku titipkan saja dia sama papanya. Memisahkan mereka sejenak, agar kembali merindu.

#OneDayOnePost
#EdisiCeritaBersambung

May 9, 2016

Hari ke-5 part 2: Labil

Siang hari suhu Rafa naek lagi hingga sore. Kebetulan termometer kami rusak akibat jadi bahan mainan anak-anak. Karena suhunya di rasa tidak kunjung turun, mas Kukuh berinisiatif memberinya serbuk yang di kasih dokter. Serbuk itu di campur air dan di taruh di gelas. Baru saja masuk mulut Rafa, minuman tersebut langsung dimuntahkan.

"Paitttttt ma" Raut wajahnya menyeringai.

"Di campur madu ya" pintaku lagi. Mas Kukuh membelikan madu di apotik terdekat. Kali ini serbuk obat di campur madu dan ditaruh di dalam spit. Lama sekali Rafa memandang spit tersebut. Rasa pahit yang membekas di lidahnya mungkin masih terngiang-ngiang, membuatnya begitu berat untuk menelan kembali.

"Ayooo di coba, itu udah manis" rayuku padanya. Dia masih memandangi serbuk yang telah berubah wujud menjadi setengah jel dan berwarna merah mudah karena bercampur madu rasa strawberry.

"Ayoooo sayang di minum, biar badanmu ngga panas lagi" bujukku lagi.

"Tapi paittttt.."

"Nggaaaa, itu kan udah bercampur madu, ayuuu mama tambahin karamel susunya" ku ambilkan sebutir karamel susu, oleh-oleh mas Kukuh waktu mampir di Garut beberapa pekan yang lalu. Secepat kilat dia memasukkan karamel ke mulut, namun tak jua dia minum obatnya.

Rafa masih meratapi spit obat. Berbagai cara kucoba memintanya untuk meminum obat tersebut "coba dulu dikit, cicipiinnn!!" Kali ini suaraku agak meninggi.  Hampir setengah jam berlalu, dia tetap memegang spit itu tanpa mencoba sedikitpun.

"Sini mama bantuin" pintaku kembali, tapi dia malah menghindar.

"Ngga mauuuu... nanti mama tekan" Rafa bangkit dari kursi teras jaga jarak denganku.

Kesabarannku mulai memudar "itu obat udah tercampur macam-macam, udah di luar terlalu lama nanti ngga bagus lagi" kali ini suaraku naik 3 oktav. Sebenarnya aku tidak tahu pasti apa obat itu memang akan berkurang atau tidak pengaruhnya jika sudah terlalu lama di dalam spit.

"Nanti paitttt maaa... paitttt!!!" Kata-kata ini terus yang di lontarkannya. Sejuta keraguan tergambar dari sorotan matanya. Dia ingin sembuh tapi obat ini terlalu pahit, mungkin seperti itulah pikirannya.

"Coba dulu, muntah ya muntah, yang pasti Rafa udah mau coba, dan kita udah tahu Rafa bisa nelan obat itu atau tidak!"

"Mama tidak tahu, obat ini pahitttt.."

"Cobaaaa, tolongggg di cobaaaa Rafa, kalau tidak mau... sudahhhh mama buang saja sekaliannnn..." kesabaranku benar-benar memudar. Matanya berkaca-kaca, dia tahu mamanya sangat kesal.

Astagfirullah al azimmm, apa yang telah aku perbuat, bagaimana bisa aku sekeras ini padanya, di saat kondisinya sedang lemah tak berdaya. Sejenak aku masih bisa berpikir terang kembali namun  sejenak pula akal pikiran warasku seakan runtuh ketika dia masih memegang spit tanpa mau meminumnya.

"Sudahhhh Rafa, kalau tidak mau tidak usah sekaliannn.. kasihkan mama, ngga usah ada obat-obatan lagi" kekesalanku terus memuncak, ya Allahhh.. apa yang terjadi padaku. Kelelahan fisik atau kekhawatiran yang berlebih membuatku benar-benar tak terkendali. Rafa terlihat sangat takut, dengan memaksakan diri akhirnya dia minum obat itu.

Aku masuk memisahkan diri sejenak darinya. Termenung, betapa teganya aku, bisakah aku lebih lembut dan sabar menghadapinya. Dia hanya anak-anak, dia sedang sakit.