Showing posts with label personal. Show all posts
Showing posts with label personal. Show all posts

Nov 19, 2022

Kucing Kampung Dalam Cerita

Tidak sedikit yang bertanya, kenapa kami tidak memelihara kucing ras aka kucing yang bulunya riwuk-riwuk atau apa pun itu jenisnya dalam istilah pokok’e kucing kelas atas. Saya tidak anti kucing yang dianggap bagus itu, tapi saya yakin kucing jenis seperti itu yang sayang dan memeliharanya pasti banyak. Coba aja mangkal di group-group pecinta kucing, kalau ada open adop dengan kucing imut, lucu menggemaskan, apalagi ras, pasti yang antri banyak, walau opennya baru beberapa menit lalu. Jadi biarlah mereka dipeliara orang yang menginginkannya.

Di samping dari pada itu, kucing kami tidak ada yang dikandang. Mereka (dua kucing kampung saya) semi indoor. Tapi saya tetap punya kandang, dipakai saat-saat tertentu saja, semisal pas sakit, atau selepas mandi. Meski rumah kami ada pagarnya, tetap aja si lanang itu loncat dan senangannya berburu. Sekarang si wedok juga ikut-ikutan loncat, mantau keadaan. Biasanya mereka saya kenyangkan di rumah, saya tidak ingin mereka mencari makan di luaran apalagi sampai mengganggu orang lain, meskipun dari pada itu, tentu saja kami tidak pernah tahu secara pasti apa yang mereka lakukan di luaran sana.

Seandainya kucing kami kucing yang dianggap ras atas itu, apalagi semisal beli dan terjadi sesuatu hal yang sungguh meluluh lantakkan dunia perkucingan (baca mati/hilang) tentu saja nyeseknya double. Tau kan rasanya ditinggal lagi sayang-sayanagnya? Nah itu ditambah dengan harga materi dari kucing itu sendiri. Dan tentu saja, kucing (masih, yang dianggap ras atas) perawatannya selain mahal tentu saja harus lebih dan super telaten kalau mau bentuknya tetap cantik, glowing, lucu dan menggemaskan. Etapi.. kalau ada yang mau ngasih kelas spinx bolehlah saya pertimbangkan hahhaha..

Sajak e, yoo.. kucing kampung pun apabila dipelihara dengan baik dan benar, belum lagi di kasih pakan yang ada embel-embelnya bikin bulu cantik semlohai.. mereka tidak kalah kok sama kucing-kucing ras itu.

*

Kami berusaha merawat dan memelihara mereka semampu yang kami bisa. Memberi makan dan tempat tinggal yang layak, memandikan saat mereka harus mandi, membawa mereka berobat ketika sakit, lalu sisanya kami pasrahkan pada alam.

Seperti anjuran pemerintah, punya anabul cukup dua saja .. yang penting kopen :D

 

 

Nov 3, 2022

Kartini Digital

          

 Oleh: Raida 

            Kartini baru saja lulus sekolah Europeesche Lagere School (Sekolah Dasar untuk orang Eropa. Usianya belum genap 13 tahun. Ia ingin sekali melanjutkan pendidikan, akan tetapi ditentang oleh ayahnya dan diperintahkan untuk menjalani masa pingitan. Masa dimana perempuan diwajibkan untuk tinggal di rumah saja. Namun, Kartini adalah wanita cerdas. Dinding rumah tidak menghalanginya untuk tetap belajar, berkarya, dan bermanfaat khususnya bagi kaum perempuan. Pemikirannya yang kritis serta keresahannya tentang kondisi perempuan pribumi tertuang melalui surat-surat yang ia kirimkan untuk sahabat-sahabatnya di Belanda.

Hal tersebut seakan melempar saya ke masa silam. Tentu dengan kondisi dan era berbeda. Belasan tahun lalu, tepatnya dua bulan setelah menikah, saya diboyong suami ke negara seberang. Ribuan kilometer jauhnya dari kampung halaman. Negara yang memiliki cuaca sangat ekstrim. Negara bagian Timur Tengah, Kuwait. Musim panas, suhu mencapai 60 derajat celcius. Rasanya seperti berhadapan dengan tungku api yang sedang menyala-nyala, apalagi jika harus bepergian pada siang hari.

            Saat itu kami menempati apartemen berlantai enam, mereka menyebutnya flat atau hostel. Komunitas Indonesia di sana masih sangat sedikit, masih jadi golongan minoritas apabila dibandingkan dengan negara India, Bangladesh, Filipina, atau Mesir.

            Tetangga sebelah kamar saya berasal dari Filipina. Walaupun bersebelahan, kami sangat jarang bertemu. Kami hanya dipisahkan tembok, akan tetapi rasanya seperti ada beton begitu lebar membentang. Saat suami harus keluar rumah untuk keperluan bekerja, saya sendirian di kamar. Terasing. Untuk keluar rumah tidak memiliki keberanian. Namun, satu hal yang sangat saya syukuri adalah jaringan internet yang sungguh luar biasa dengan harga yang sangat terjangkau. Apabila di Indonesia, khususnya daerah plosok Kalimantan sana, hanya kalangan tertentu saja yang memiliki fasilitas internet. Berbeda dengan negara Kuwait, internet adalah kebutuhan mutlak. Setiap kamar memiliki fasilitas itu dengan kecepatan mumpuni.

            Kesendirian dan kesepian saya alihkan dengan memiliki sebuah blog pribadi, semacam rumah di dunia maya. Menuangkan segala keresahan, pemikiran, keunikan tinggal di negara orang, atau hanya sekadar kegiatan keseharian. Saya tidak terlalu memikirkan bagaimana tulisan itu ke depannya. Dan saya begitu berbahagia. Semacam ada sesuatu di hati terasa penuh, juga perihal berat menjadi ringan. Saya sepakat, perempuan harus memiliki banyak teman dan sahabat, serta rutin berkomunikasi karena ia perlu ‘memuntahkan’ 20.000 per hari, jika tidak ada kesempatan untuk itu, maka, menulislah, berkaryalah, atau apa pun itu yang tidak hanya membuat hatimu gembira akan tetapi memberi sedikit andil pada dunia. Mungkin seperti inilah yang dulu dirasakan Ibu kita Kartini ketika menjalani masa pingitan.

Beberapa bulan kemudian, seseorang menyapa. Siapa yang menduga kalau ia adalah sahabat sewaktu SMP. Karena dulu tekhnologi komunikasi tidak segencar sekarang, dan kami pun sudah kehilangan kontak selama bertahun-tahun karena dia bersekolah di kota besar. Bahagia tentu saja. Saya seperti berada di negara sendiri dengan terhubungnya sahabat lama. Beberapa pekan kemudian, blog saya seakan memanggil teman lainnya. Saya juga terhubung dengan kerabat-kerabat di kampung halaman. Maka, semakin penuhlah hati saya.

            Tahun berganti, saya melahirkan anak pertama di negeri orang. Jauh dari keluarga, kerabat, dan saudara. Pengalaman yang sungguh tak terlupakan. Apabila di Indonesia kita terbiasa setidaknya dibimbing ibu ataupun mertua, kali ini benar-benar harus berjuang sendiri. Teman-teman sesama Indonesia menjenguk, ada pula yang membantu, tapi tentu saja mereka hanya bisa sebentar lalu kembali ke aktifitas masing-masing.

            Sindrome baby blues pun menyerang. Bisikan-bisikan di luar nalar seakan menghantui. Belum lagi air susu yang tak kunjung keluar. Betapa takutnya saya dengan apa yang akan terjadi kepada bayi saya kala itu. Lalu saya beranikan diri bertanya dengan teman melalui media sosial, karena website pribadinya sangat sering menceritakan seputar dunia parenting.

            Beruntungnya saya bertemu dengan teman yang baik, dan memahami saya sebagai seorang ibu muda. Dibimbingnya saya untuk memberikan asi dengan penuh kasih sayang dan sabar. Dia juga mengajak saya untuk bergabung (mailing list) pada sebuah komunitas perempuan-perempuan Indonesia yang tinggal di berbagai negara.

            Seakan menemukan oase di tengah gurun sahara, seolah Kartini hidup melalui jemari-jemari mereka yang tertuang secara langsung melalui tulisan-tulisan digital mereka, juga video-video yang mereka unggah. Saya seperti ditarik dari kegelapan menuju sebuah tempat yang terang. Semua saling dukung, asah, asih, dan asuh. Banyak ilmu dan pengetahuan yang mereka bagikan, dari perihal pemikiran, seputar dapur, parenting, ataupun sekadar guyon pelepas penat sebagai ibu rumah tangga yang pekerjaannya nyaris menguras energi, pikiran, dan hati sepanjang hari.

            Saya masih ingat dengan sosok Kartini lain yang tinggal di Australia. Ia memiliki beberapa anak, tanpa asisten rumah tangga. Ia bekerja dari dapur rumahnya, dan selalu berkarya. Ia rutin menceritakan kegiatanya, resep-resep warisan keluarga, juga seputar kelincahan juga keusilan putra-putrinya. Ia bahkan mempromosikan kegemarannya yang kemudian menjadikannya sebagai sumber penghasilan. Ia mengelola rumah mayanya dengan sangat baik dan penuh dedikasi. Sepertinya ia telah paham mati tentang pentingnya dunia digital. Ia terus berkarya meski hanya di rumah saja. Setiap singgah saya seperti mendapat booster semangat

            Ada pula sosok Kartini lain yang tinggal di Singapura. Ia menjalankan dunia bisnis di bidang perkulineran melalui website gratisan yang ia kelola dengan sangat baik. Tidak hanya itu, mungkin ia tidak begitu memiliki sahabat di negara tempat ia tinggal, akan tetapi ia memiliki ratusan atau mungkin ribuan sahabat yang menyayangi serta mendukungnya dari seluruh penjuru dunia. Ia senang memasak dan membuat kue. Dapurnya selalu ngebul, tentu saja bukan untuk hemat semata, tetapi sebagai ungkapan kasih sayang kepada keluarga. Tak lama, ia meninggal karena sakit. Tidak hanya keluarganya yang berduka, kami yang selalu menyinggahi rumah mayanya merasa begitu kehilangan.  

            Saya tidak pernah terpikir sebelumnya apabila era digital bisa segencar ini, seperti peluru yang melesat begitu cepat. Apalagi di masa pandemi, digitalisasi adalah kebutuhan mutlak. Setiap kalangan seakan ‘dipaksa’ untuk bersentuhan dan terjung langsung ke lapangan.

Sungguh, jika dulu pena diibaratkan seperti pedang, maka melalui dunia digital  jemari-jemari kita khususnya kaum perempuan adalah salah satu pemegang andil suksesnya peradaban di masa yang akan datang, khususnya di bidang literasi. Literasi digital tidak hanya seputar menulis, membaca, dan mengunggah sesuatu ke media, ia lebih dari itu. Literasi Digital adalah kecakapan menggunakan media digital dengan beretika dan bertanggung jawab untuk memperoleh informasi dan melakukan komunikasi. Baik di bidang ekonomi, sosial, ataupun budaya. Kita juga dituntut untuk bijak memilah antara fakta atau imajinasi semata.

Ia menjadi kebutuhan yang sangat penting karena mampu menjadikan diri kita untuk terus berpikir kritis, kreatif, dan inovatif. Hal tersebut membuat kita dapat memecahkan masalah dengan baik, dan lancar melakukan komunikasi serta sanggup berkolaborasi dengan banyak orang.

Kartini menempatkan pendidikan sebagai harga mati agar masyarakat Indonesia terus berpikiran maju khususnya bagi kaum perempuan. Oleh sebab itu setiap perempuan haruslah pengetahuan dan pendidikan luas.

Perempuan cerdas dan kuat memiliki kemampuan pondasi literasi yaang baik. Sehingga ia mampu untuk menjadi sumber inspirasi terpercaya melalui gagasan-gagasan serta pemikiran-pemikiran yang tertuang melalui media digital. Karena perempuan adalah madrasah pertama untuk putra putrinya kelak. Ialah diharapkan  sebagai garda terdepan mendampingi dan mengenalkan Literasi Digital kepada buah hatinya dan masyarakat sekitanya.

Kartini adalah perempuan kebanggaan Indonesia. Kartini ada karena ia menulis dan berkarya. Kartini abadi dan terus kita kenal karena beliau tidak pernah berhenti berjuang, belajar, dan berdaya semasa hidupnya. Dulu, ia mungkin tidak pernah mengetahui apalagi membayangkan jika tulisannya akan menjadi buku sejarah yang tak pernah lekang oleh waktu.

Sungguh, daster, tembok yang tinggi, aktifitas padat sebagai sesorang istri sekaligus ibu, cuaca ekstrem, pandemi, atau apa pun itu tidak akan pernah membuat kita berhenti untuk terus kreatif dan bermanfaat bagi sesama. Mungkin sebagian atau bahkan banyak dari kita belum bisa berpenghasilan dari itu semua pada saat ini, tapi kelak karya itulah yang akan membuat kita tetap hidup saat tubuh telah tiada. Entah nanti atau seribu tahun lagi.

 

Selesai

 

Oct 26, 2022

Kompor Rasa Mainan

Setelah menggunakan sendiri, akhirnya pertanyaan seputar kompor induksi di kepala saya yang dulunya masih meraba-raba terjawab sudah.

* Apakah jika dipegang pancinya, tangan kita akan tersetrum aliran listrik? Atau saat kita menggunakan sendok besi buat mengaduk, atau masakan yang iseng-iseng kita cemplungin jari karena saking penasarannya.

 

Tidak kesetrum sama sekali pemirsa. Bahkan ganggangnya juga stanless stell, tidak ada hangat sama sekali ketika air mendidih, ini sangatt berbeda apabila dibandingkan  saya merebus menggunakan api gas.

 

*Bagaimana saat memasak airnya tumpah?

Kompor otomatis mati. Dan akan menyala jika kita hidupkan lagi serta tumpahan air kita bersihkan.

 

*Lebih irit mana sama gas?

Kalau pakai tabung melon, mungkin lebih irit gas. Tapi kalau yang pink, saya tidak begitu paham, belum hitung secara spesipik juga. Yang pasti dengan tegangan 1300v sama dengan api gas kekuatan sedang alias tidak sampai keluar api merah, masih ini cuma meraba-raba.

 

*Ada aroma listrik pada makanan?

Tidak sama sekali, akan tetapi saat menggunakan kompor memang ada aroma listrik, ini lebih ke badan kompornya.

 

Siapa saja yang disarankan memakai kompor induksi atau listrik?

1. Yang berhubungan dengan keribetan si tabung gas, semisal:

- Lupa ngisi tabung cadangan

- Tidak bisa masang selang dan pengamannya

- susah bawa

- tempat jualnya jauh.

 

2. Yang malesan bersih-bersih kompor. Maksudnya ini tetap harus kita bersihkan, tapi tentu tidak seribet kompor gas yang memiliki lekukan-lekukan.

 

3. Yang pengen belajar masak. Tingkat keamanan kompor ini jauh lebih tinggi karena bebas api, belum lagi kompornya nggak panas meski kita pegang.

 

4. Karena bentuknya lebih simple, jadi nggak makan tempat apalagi harus nyiapin tempat tabung.

 

5. Masak hanya untuk hidup, maksudnya anggaplah anak kos yang memiliki lahan dan peralahan sedikit namun kudu memasak untuk menyambung tali siturahmi eh nyambung napas maksudnya etapi kudu ijin sama ibu kos yak.. sebelum kau diusir, Nak.

 

6. Masak terus ditinggal tidur. Bisa banget, karena ada timernya, sangat cocok masak kaldu semisal.

 

Sebelum membeli kompor induksi atau listrik sebaiknya pertimbangkan:

1. Tegangan listrik. Bayangkan, dengan 1300v menurut saya sama dengan kompor gas api sedang, maka bagaimana nasib tegangan yang dibawah daripada itu, sedangkan tentu saja bangsa makemak senangnya yang gress..gress.. plung.. cess happp.. mateng. Jika tengangan di rumah anda rendah, maka siapkan dada yang sabar dan lebar untuk memasak menjadi mode slow motin.

 

2. Peralatan masak tidak bisa sembarang, maka kudu di-upgrade yang mendukung untuk kompor induksi atau listrik, karena jika tidak, kompor tidak akan berfungsi. Akan tetapi ada merk, sebut saja Lahome, konon katanya bisa semua jenis peralatan, dari yang enamel, aluminium, kaca, hingga mangkok yang biasanya terbuat dari aluminum foil tipis.

 

Setelah beberapa hari menggunakan kompor induksi kesimpulannya adalah: Kompor ini lebih praktis dan aman, hingga meninggalkan rasa nyaman. Jika dulu rencananya menggunakan kompor induksi untuk cadangan apabila gas tiba-tiba habis, namun ke depannya gas inilah yang  jadai cadangan ketika listrik bermasalah.

 

Saya pribadi tidak bisa memungkiri kalau jaman benar-benar sudah berubah, jika era  mbah-mbah  kita harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menyalakan api tungku, kini anak cucunya tinggal pencat pencit, dan serasa bermain-main saja. Entah ke depannya lagi.. tentu lebih canggih lagi, insya Allah, atau sebaliknya, kembali ke tungku.

Jun 12, 2022

Teruntuk my sweatheart, Rafa

(InshaAllah jika kita berumur panjang kau akan membacanya saat ulang tahunmu yang ke 14)

Saat mama menulis ini, kalian telah terlelap semua. Di saat seperti inilah mama lebih jernih berpikir, merenung tentang hal-hal yang kita lewatin sepanjang hari ini.

Mama tau, mama bukanlah sosok yang sempurna, kadang setiap hari mama memaki diri mama sendiri mengapa begitu mudah memarahimu. padahal mama juga tahu kau hanya anak-anak. Maafkan mama.

Kamu tahu sayang? Di dalam hati mama yang paling dalam, saat itu terjadi sesungguhnya mama tidak sedang memarahimu tapi mama marah terhadap diri sendiri yang begitu dangkal kesabarannya.

Mama sedih. Setiap kali pula mama berusaha untuk belajar lebih baik lagi, bertutur kata lebih lembut lagi terhadapmu. Ini tidak gampang, saat emosi kita bertabrakan satu sama lain.

Ajari mama mengasimu sayang.. ajari mama menyayangimu, anakku.

Allah tahu betapa mama sangat sayang padamu, semoga Dia selalu melindungimu, adikmu Alfie, papa dan juga mama. Semoga suatu hari kita berkumpul kembali di surga-Nya.

Anakku, jagalah imanmu selalu. Teruslah belajar sepanjang hayatmu. Bermimpilah yang terbaik dan terindah, Allah melihat itu.

Bumi ini luas, langit terbentang begitu sempurna, bintang di angkasa memijarkan cahayanya. Bagi mama, engkaulah cahaya mata dan hati mama. Tak ada harta yang begitu berharga selain kalian berdua.

Sayang, My baby mama. Semoga Allah melindungi kalian selamanya, di limpahkan segala rahmat-Nya, disehatkan jiwa dan raga, diberkahi setiap usia

Solo, 21 juli 2016
Tertanda mama

Oct 27, 2018

Doorprize

Beberapa waktu yang lalu, Kang Mas akan pergi menghadiri sebuah peluncuran produk lampu terbaru bersama temannya. “Doain Mas dapat kulkas, ya?” ucapnya sebelum pamit.

“Jangan kulkas lah, Mas. hape saja,” balasku sambil nyengir kuda. Apalagi memang gawai yang aku pegang sering eror. Dia diam. Kuperhatikan lagi undangan yang tertera. Memang ada doorprize di sana. “Ni ada hape kan,” ucapku memperlihatkan undangan itu. Dia masih diam. Hadiah yang terlihat di sana ada kulkas, tivi lcd, setrikaan dan smartphone.

Beberapa jam setelah itu, ada pesan wa masuk. Sebuah foto yang menampakkan si Kang Mas sedang membawa godybag. Kuperhatikan lagi lebih teliti, ada merk nya yang sungguh aku kenal. “Itu Hp ya?” Tidak ada jawaban, mungkin ia masih sibuk.

Sesampai di rumah, benar saja, dia memperoleh Hp Android Sa****g. Sempat terpikir, jangan-jangan dia bekerja sama dengan panitia acara untuk menyenangkan istrinya sing ayu dewe ini (dilarang protes)

Kang Mas bercereita bahwa, hadiah paling besar secara nominal harga adalah Hp yang dia bawa itu dan diberikan di akhir acara. Nah lo, masih meragukan doa seorang istri. Bahkan saat becandapun, malaikat bisa langsung mengaminkannya.  Dan para ibu-ibu bangsa, emak-emak, atau siapapun kita kalau sudah berstatus seorang istri berhati-hatilah dalam berucap, khususnya kepada anak-anak dan suami, meskipun niatnya bercanda. Doain mereka yang baik-baik terus walau hati sedang panas atau lebih baik diam (ngomong ma cermin, saya masih sering soale haks ....)

Dan kalian para suami, kalau kepengen sukses dunia akhirat ta jauh-jauhlah nyari berkah, dimulai dari menyenangkan hati istrimu dulu (jangan lupa ibumu yang pertama), agar apa? Agar yang keluar dari bibir, hati dan pikiran mereka adalah hal-hal kebaikan.

Saya sering memperhatikan suami yang pelit sama istrinya, bahkan menyembunyikan hasil jerih payahnya, rejekinya bakalan segitu-gitu aja. Apalagi sampai menzalimi mereka, hidupnya tidak tenang, dan sering sakit-sakitan. Nggak percaya? Coba aja.

Yuhuuu … Merdeka!


Sep 26, 2018

Bom Waktu

“Ma, temenku di rumah punya PS, di hapenya juga banyak game,” ucap Si Sulung saat kami sedang menikmati makan malam bersama.

“Hem.” Saya masih asyik memamah biak.

“Dia di rumah sering ditinggal sendiri.”

Krauk … krauk! Satu kerupuk sukses melewati tenggorokan.

“Mama juga bisa beliin kalian PS.” Masih sambil ngunyah makanan.

“Bener, Ma?” Mata mereka tampak berbinar.

“Iya, beli yang bekas, lima ratus ribu sudah dapat yang bagus. Mahalan dikit satu jutalah.”

“Wah,” tambah semangat mereka.

“Atau hape yang komplit sama game-game nya.”

Mereka saling lirik dan saling menebar senyum.

“Enakan? Murah itu, ditotal-total mentok-mentok dua jutaan lah, mayan buat bertahun-tahun. Enggak perlu Mama langganan majalah anak-anak, beli buku-buku tebel, sampai nyari-nyari mainan edukatif segala. Belum lagi, hampir tiap hari minta dibacaan cerita.

“ Kalian bakal anteng. Mama jamin kalian akan betah di rumah dan bersih selalu. Enggak perlu panas-panasan di luar, nggak perlu kotor-kotoran. Dan lebih ‘aman’. Mama juga enggak perlu muterin kampung ke sana kemari saat kalian lupa makan, lupa solat, bahkan kadang lupa Mama  khawatir nungguin kok enggak pulang-pulang.”

“Iya, Ma?” Semangat empat lima sambil mengibarkan bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan. Mungkin dikiranya Sang Mama sudah berubah jadi kucing anggora yang lucu dan menggemaskan. Padahal biasanya macem singa yang siap menerkam.

“Hu um, Mama juga bakalan enak, bisa pergi  lama bebas hambatan. Nyalon, nyaleg, belanja sendiri tanpa perlu repot-repot ngurusin kalian itu. Bisa tidur siang sambil ngorok, selonjoran, ngobrol haha hihi tanpa ada yang gangguin, nonton filem dan enggak ada itu yang suka bilang ‘Ma bosen Ma bosen’ hingga Mama harus memutar otak bagaimana caranya kalian betah dan mau diem.”

“Beneran nih Ma?”

“Yup, satu tahun, dua tahun, empat tahun, kita akan hidup dalam ketenangan dan kedamaian. Tapi setelah itu—“

Mereka mulai tegang, “Apa Ma?”

“Mama akan sibuk mondar mandir ke dokter mata, jantung, tumbuh kembang anak, bahkan mungkin psikolog dan psikiater. Tidak hanya sibuk, tapi juga mahal. Satu kali bertemu dokter spesialis itu saja minimal 200 ribu rupiah. Belum lagi obat-obatannya, belum lagi terapinya. Dan itu berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, mungkin seumur hidup. Saat itu mungkin mama sudah tidak bisa selonjoran lagi, dan uang papa banyak terkuras buat ngurusin kalian ke dokter.

“Untuk pakai kaca mata saja, kalian harus adaptasi selama minimal satu bulan. Harganya jutaan. Selama satu  bulan itu kalian akan menderita pusing dan enggak enak. Mau?”

Mereka menggeleng.

“Kita hidup itu butuh temen, butuh bersosialisasi. Dan itu ada ilmunya. Kadang kita butuh bertengkar dengan orang kemudian mengerti rasanya gimana disakiti, gimana caranya memaafkan kemudian mengihklaskan. Itu pelajaran seumur hidup. Untuk kuat, kita butuh jatuh berkali-kali. Jatuh sejatuh-jatuhnya kemudian mengerti caranya bangkit. Kita butuh menangis, bahkan mungkin kita  butuh menyendiri, kemudian mengatasi masalah yang sedang dihadapi.

“Di saat-saat tertentu bahkan kita butuh diam, iya diam macem batu. Dan itu butuh latihan. 

“Liat ada orang kesusahan, kita harus berempati, bukannya sibuk selfie. Itu juga  butuh latihan, belum terdapat diaplikasi manapun dan tidak dijual di negara maju sekalipun. Saat kecil inilah rasa-rasa itu harus dilatih, kalau sudah besar susah. Orang yang enggak bisa mengontrol emosinya sendiri akan tumbuh menjadi jiwa yang labil.

“Orang yang tidak terbiasa, akan mudah menyerah kemudian putus asa. Gampang stress, bahkan bisa melukai diri sendiri dan orang lain.

“Kalian tahu kan si Mawar, orang tuanya tidak ada yang bermasalah dengan matanya, tapi lihat Mawar, baru umur enam tahun sudah berkaca mata. Kalian lihat sendiri kan kesehariannya?

“Juga Si Budi, sampai sekarang harus mondar mandir ke psikiater bahkan minum obat seumur hidupnya. Sejak usia dua tahun sudah dibebasin mengenal komputer, dan game-game hape. Sejak kecil terbiasa dikasih enak, tidak tahu caranya menghadapi hidup susah. Kalau tidak di kasih, ngamuk kemudian minggat dari rumah.

“Jadi gimana? Mau Mama fasilitasi?”

“Enggak, Ma.”

“Masih mau Mama batasin, tegur dan bilangin?”

“Masih, Ma. Ampun … Ma.”

“Bersabarlah, otak, tubuh, tangan-tangan kalian, hati dan jiwa kalian kalian masih butuh tumbuh. Bersabarlah, ada saatnya Mama tidak akan pernah bisa melarang kalian lagi. Mama harap saat itu kalian sudah mengerti dan bijak menggunakan apapun. Bersabarlah, orang-orang yang menciptakan karya-karya keren saat ini buah hasil dari kesabaran orang-orang yang mau bersusah payah, belajar dan meredam kesenagan sesaat di masa lalu.”