Showing posts with label Alfie. Show all posts
Showing posts with label Alfie. Show all posts

Apr 5, 2018

Azan


Alfie: Mama, kenapa di mesjid selalu azan?

Me: itu panggilan waktunya solat, Sayang. Kalau tidak ada azan lagi berarti tidak ada lagi ajakan solat di mesjid.

Alfie: Tidak ada yang solat di mesjid?

Me: bisa jadi.

Alfie: kalau tidak ada yang solat lagi, mesjidnya tutup?

Me: Sepiii dulu, mungkin abis itu tutup. Saat tidak ada kumandang azan, setan-setan akan bergembira dan berkeliaran kemana-mana. Terutama kampung yang enggak dilantunkan azan. Setan sangat benci suara azan, ia lari dan menutup telinga sekuat-kuatnya. Saat tidak ada azan lagi berarti akan lebih mudah ia menggoda kita.

Alfie: Kalau setan menggoda kita?

Me: Tempat kita akan jauh dari berkah. Segala keburukan dan hal-hal maksiat akan lebih mudah menyebar. Makanya mama ingin Dedek sama Aa solatnya di mesjid, biar mesjidnya tidak tutup. Biar selalu ada azan.

Alfie: Mama kenapa enggak solat di mesjid.

Me: Papa enggak ngelarang, tapi lebih suka kalau di rumah, karena tempat terbaik mama di rumah. Anak laki-laki lebih dianjurkan di mesjid, berjamaah.

Alfie: *merenung ...*

Me : *anak soleh* ammiinn.

Feb 10, 2018

Musim Hujan

Me : Ada sepuluh anak, lima anak bawa payung, lima anak nggak bawa payung. Hujan turun dengan lebat. Berapa anak yang pulang kebasahan?

Alfie : Lima, Ma.

Me : Belum betul.

Alfie : Tidak ada, Ma.

Me : Kok bisa?

Alfie :  Satu payung berdua.

Me : Masih belum betul. Nyerah?

Alfie : Iya Ma, nyerah.

Me : Semuanya kebasahan.

Alfie : Lha, kok bisa?

Me : Walau bawa payung, mereka main hujan-hujanan.

Sepanjutnya ...
Me : Ada 10 anak. 8 anak bawa payung. Hujan turun dengan lebat. Berapa anak yang kehujanan?

Alfie : Semuanya.

Me : Belum betul.

Alfie : Kok bisa?

Me : Nyerah?

Alfie : Nggak. 2 anak yang kehujanan.

Me : Masih belum betul.

Alfie : Nyerahhhhh...

Me : Nggak ada yang kehujanan.

Alfie : Kok bisaaaaaa ...?

Me : Satu ikut gurunya terus ngumpet di mantel. Satunya lagi dijemput ayahe pakai mobil.

Alfie : Mamaaaaaaaaaa ...

*suatu siang bersama gerimis hujan yang membasahi atap rumah saat nungguin si sulung pulang sekolah.

Dec 12, 2017

Ternyata ....

Jadi tadi sore kita berkunjung ke sebuah mall yang baru buka dan sedang heboh-hebohnya di kota Solo sejak opening beberapa pekan lalu. Setiap weekend, selalu penuh nyesek plus tumpah ruah meluber-luber. Banyak yang bilang sudah tidak bisa menikmati saking banyaknya pengunjung. Beberapa lihat postigan para instagramer menyiratkan suasana lumayan antusias dan ramai.

Kemudian saya berinisiatif untuk berkunjung saat non weekend dan kira-kira saldo gajian orang sudah mulai menipis :D. Kebetulan saya juga punya janji sama si bungsu akan memberikan kado saat dia kelar mempelajari Iqra. Dan itu sudah beberapa pekan. Jadi sekalian nyari.

Anak-anak yang mendengar berita tersebut berlompatan hingga mencapai plafon, ralat, pokok e heboh lah sampai histeris kegirangan. Dan dengan mudah saat diminta bersiap-siap. Hari-hari lain, jangan harap. Minimal satu jam sebelum keberangkatan.

Ba'da Asar kita berangkat. Saat nyampai parkiran cukup longgar. Masih tercium aroma cat. Dilihat dari luar, memang mal tersebut di design cukup mewah dan terkesan 'menarik pengunjung'. Saat di dalam, saya merasa tidak ada yang begitu special ataupun hal-hal yang baru kecuali temboknya yang masih bersih dan counter-counter yang rapi. Khas nuansa mal-mal kebanyakan.

Kita mulai menanyakan counter mainan, salah seorang karyawan menyebutkan lantai atas. Ketika mau ke atas satpam bilang di lantai bawah. Okey, kita ke atas dulu. Ternyata ini area bermain. Yang baru adalah rolcoster yang sedikit (keluar) mengelilingi gedung, patung-patung dinosaurus yang bisa manggut-manggut sambil mengeluarkan auman. Sisanya masih sama seperti kebayakan bermain ala-ala play zone area.

Akhirnya kita ke lantai bawah lagi, untuk menuntaskan tugas utama dulu sebelum bermain. Nah pas di bawah mereka bilang ke atas. Setelah itu ketemu counter mainan tapi kecil sekali dan tidak lengkap. Kemudian kita mampir ke counter roti. Nanya ke mbak roti, katanya di lantai bawah ... alamakkkk, ini karyawannya pada nggak kompak sih. Baiklah ... baiklah, ini masih baru, mungkin mereka tidak hapal. Akhirnya saya iya iya in saja tapi sudah malas nyari. Mending beli roti, kenyang.

Mas Kukuh beli kartu. Mengigat di sini harga per permainan rata-rata sama dengan satu bungkus nasi (nasi kucing, nasi padang, nasi pesel dan nasi-nasi lainnya), kisaran Rp 4900-30.000 jadi mamaknya yang kadang (tapi lebih tepatnya sering) hematnya kambuh ini kemudian berujar kepada anak-anak. "Dalam kartu ini saldonya ada 55ribu. Mama mau kalian pilih satu mainan saja ya. Sementara kalian milih, mama duduk di kursi itu." Kutunjukkan kursi tempat Kang Mas sedang beristirahat. "Nanti kalau sudah ketemu panggil Mama." Anak-anak yang soleh, baik hati dan tidak sombong ini setuju. Ada kali 20 menitan bergerilya mereka muterin nyari, akhirnya manggil. Sebuah permainan tembakan air. Karena Si Sulung mainnya lumayan ahli, berkali-kali dia dapat bonus tambahan waktu sampai pinggang saya pegel nungguin. Sedangkan si bungsu sudah KO di ronde pertama.

Kuserahkan kartu kepada kakanda, "Cuman kepakai 10ribu loo ... hebatkan?" Kerlingku. Coba saja dia yang nangkringin bocah, yakin deh 15 menit kartu sudah maasalamah.

Bagaimana dengan janji hadiahnya? Kebetulan besok harbolnas (Hari Belanja Online Nasional) yes... moga dapat diskon 90 persen hahahhaha..

May 22, 2017

Teruntuk Alfie dan Rafa

Duhai belahan hati mama, kita sama-sama meyakini,  Kitab yang paling keren, tanpa cela, ditulis oleh orang-orang keren di masanya itu, bersumber langsung dari Illahi yang terangkum begitu indah dengan diksi-diksi maha sempurna bernama Al Quran. Manusia paling sempurna yang pernah diciptakan dan hadir di tengah umat manusia, bernama Muhammad.

Kau tahu anakku, bacaan paling keren itu yang tiada satu tulisan dan penerbit manapun sanggup menyainginya, bahkan dicetak entah sudah berapa milyar kali, masih banyak orang tidak terima, apalagi meyakininya. Manusia paling sempurna yang sudah dijamin Tuhan masuk surgapun begitu banyak yang membencinya. Hingga sekarang anakku, hingga sekarang.

Apalagi kita.

Kita sering berdebat, tentang apa saja bukan, dan sering mama merasa kalah darimu, karna mama tahu kalian jauh lebih cerdas dari mama. Tapi kau tahu anakku, mama paling menghindari berdebat di depan umum termasuk di dunia maya, khususnya medsos. Saat mama melalukan itu hanya akan ada dua hal yang terlihat, terlihat pintar vs terlihat bodoh. Tentu mama akan lebih tampak dari sisi yang kedua. Kalaupun mama seumpama menang, hatipun senang bagaimana dengan orang yang kita debat, bisa saja yang kita perdebatkan bukannya mendapat pencerahan tapi berdampak sebaliknya. Kita tak pernah benar-benar tahu isi pikiran dan hati seseorang. Bisa saja, bisa saja sikap kita melukai mereka.

Kelak, saat kalian tumbuh lebih dewasa, dari tempat tinggal kita yang fana ini akan kalian temui segala keindahan sekaligus kekejamannya. Akan selalu ada orang yang benci, suka bahkan mungkin menghamba. Akan selalu ada, anakku, akan selalu ada.

Teruslah berbuat baik, walau sering terluka. Mungkin jalan kita tidak selalu lurus, setidaknya kalian tahu arah pulang. Apapun yang kita perbuat, kelak, besok, lusa atau 20 tahun yang akan datang, kalian akan memetik hasilnya. Hasil dari apa yang telah kita perbuat. Mendewasalah, rendah hati dan terus menjadi pembelajar.

With love
Mama

Mar 7, 2017

Mesranya Si Bungsu

Inilah beberapa polah dan celoteh si bungsu. Cara dia mengungkapkan perasaannya. Bisa dibilang, dia termasuk sosok yang lebih open walau kadang susah menjelaskan. Seperti bentuk perhatian dan sayangnya kepada mamaknya.

Alfie : Mama ... aku minta dipangku.
Me: Duduk sendiri dulu ya, kan udah agak besar.
Alfie: Aku kedinginan, Ma. Mau dipeluk

Dikesempatan lain. Dia mencabut colokan charge hape yang sedang saya pakai dan kebetulan saat itu juga masih asik asik megang hape. Terus dia berceloteh, "Mama ngga boleh main hape kan lagi di charge."

"Eh iya maaf, Mama lupa." Terus iseng-iseng saya tanyain. "Memang kenapa kalau main hape sambil di charge?"

"Nanti meledak," jawabnya polos.

"Memang kalau meledak, kenapa?"

"Nanti mama ngga ada lagi," sambil melingkarkan kedia tangan memeluk mamaknya.

Si Sulung langsung menyaut, "kalau meledak tangan mama yang ancur, Dek." Aduhh ini seremmm banget.
Terus si bungsu jawab lagi, "Dedek ngga mau tangan mama meledak."

Aihh.. ini pembicaraan mesra apa horor sih jadinya -_-

Nov 9, 2016

Cita cita Alfie

Pada suatu hari Alfie bertanya pada emaknya


Alfie: Mama dulu cita-citanya mau jadi apa?
Me: Mama pengen jadi pramugari biar bisa jalan-jalan terus, juga polisi wanita.

Alfie: Polisi maksudnya?
Me: Iyah, kalau wanita kan jadinya polisi wanita. Tapi ngga kesampeian karna badan mama kecil. Kalau dedek pengennya jadi apa?
Alfie: Tentara hafiz Qur'an


Entah dari mana dia mendapatkan kata-kata ini. Tapi inilah yang sering dia ucapkan kalau berbicara masalah cita-cita. Berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, cita-cita itu belum pernah goyah.

Jadi apapun kelak engkau, semoga selalu di jalan  yang baik, berkah hidup dan bermanfaat bagi umat.  Terus semangat sayang..

Oct 5, 2016

Sepeda untuk Alfie




"Mama punya sepeda, papa punya sepeda, aa punya sepeda, dede ngga punya, huwaaaaaaa...." bersedu sedanlah dia meratapi ketiadaanya memiliki sepeda.

Rapa telah berganti sepeda dengan ukuran yang lebih tinggi. Sedangkan sepeda bekasnya sebenarnya masih layak dipergunakan kalau saja kami perbaiki. Pikirku, ini sepeda bekas di beli seharga kurang lebih Rp200ribu dulunya. Di hitung-hitung ongkos buat benarin seperti ganti ban dalam, ban luar plus ganti rantai, roda tambahan, belum lagi service kayanya bakalan nyaingin harga aslinya. Padahal kalau beli yang baru Rp400rb dah dapet tuh.. jadilah antara membenahin sepeda lama atau beli yang baru masih tarik ulur.

Di beberapa kesempatan tertentu Alfie pasti menghubung-hubungkan tentang ketiadaannya memiliki sepeda. Semisal saat aku berceloteh "mainanmu kan udah banyak, Fie. Itu aja kadang susah beresinnya" maka jurus andalannya akan keluar "tapi aku tidak punya sepedaaaa" maka, skak matilah saya.

Hingga pada suatu ketika, Alfie demam. Beberapa hari tidak masuk sekolah dan kurang bersemangat. Maka akupun menjanjikan dia nanti kalau sudah sehat bakalan beli sepeda baru. Saat  dia benar-benar sehat, aku ingin menunaikan janjiku itu. Tapi mas Kukuh kurang berkenan, mengingat Alfie masih terlalu kecil untuk menaiki sepeda. Dulu Rafa kami belikan sepeda saat berusia 6 tahun, dan tentu saja karna Rafa termasuk anak yang begitu lincah dan aktif, sedangkan Alfie belum terlihat se energic Rafa. Setelah negosiasi alot dan pertimbangan siapa yang bakal stand by saat si bocah sepedaan, ijinpun turun. Siapakah orang yang bakal stand by always di sisinya itu selama dalam pelajaran? Siapa lagi kalau bukan  emaknya.

Namun, ketika semua ijin telah di peroleh, belum juga terlaksana membelikan sepeda karna mas kukuh sedang nggak enak badan, lemes, meringkil-meringkil, masuk angin dan pilek. Beberapa hari kemudian Alfie tertular, badannya kembali hangat.

Hari minggu kemarin tepatnya acara keluarga, arisan. Mulanya aku setengah hati untuk mengajak Alfie turut serta, tapi mengingat jaraknya masih di wilayah Solo dan kebetulan yang ketempatan adalah kami rasanya kurang nyaman juga kalau tidak hadir. Pikirku biar Alfie sedikit mendapat udara segar, nanti di acara biar duduk anteng saja.

Pulang acara langsung lewat toko sepeda. Sayang banyak toko yang tutup. Ada yang buka tapi harganya tak kira-kira mahalnya. Kami memiliki toko langganan sepeda yang tidak usah pakai tawar menawar lagi. Akhirnya aku bujuk Alfie untuk bersabar sampai ke esokan harinya.


Hari senin, seperti waktu yang cukup panjang baginya. Jemput Rafa pulang, rombongan langsung meluncur. Sepeda kecil untuk ananda Alfie tersayang telah nangkring di rumah dengan selamat.

#OneDayOnePost

Oct 4, 2016

Pertolongan pertama pada luka knalpot

Sekitar sebulanan yang lalu mungkin menjadi hari yang menyedihkan buat kami sebagai orang tua, trutama yang di rasakan ananda Alfie. Anak umur 5 tahun tersebut mengalami luka bakar di kakinya akibat terkena knalpot yang masih menyala.

Hari jumat Alfie dan Rafa pulang di jam yang sama  dengan lokasi yang terpisah. Pada saat tertentu memang masih bisa salah satu diantara mereka untuk menunggu, karna jaraknya sebenarnya tidaklah terlalu jauh.

Berhubung saat kejadian kami sedang sama-sama longgar, jadilah berbagi anak. Aku jemput Rafa sedangkan papanya jemput Alfie. Mas Kukuh datang lebih awal beberapa detik sebelum aku tiba di rumah. Alfie menangis sangat kencang.

Mas kukuh memakai sepeda motor pinjeman model cowok  yang notaben tanpa pengaman knalpot, tidak seperti sepeda motor pribadi yang aku pakai, motor mstic dengan pelapis knalpot. Alfie buru-buru turun sesaat tiba di halaman, dia ingin segera memperlihatkan hasil karya yang baru dibikin waktu di sekolahan. Sebuah es krem mainan. Walau memakai celana panjang, saat turun kakinya tersingkap dan tepat mengenai kaki belakang kanannya.

Bukan lagi melepuh seperti saat kita tersiram air panas ataupun memegang benda yang membuat kulit kita melepuh. Tapi, kulitnya langsung terkelupas dan memperlihatkan bagian daging berwarna putih seukuran telapak bayi.

Jangan di bayangkan perasaan ibunya saat itu, perih.. sakit. Orang dewasa saja mungkin akan mengerang nyeri. Ya Allah.., aku tak tau lagi apa yang harus ku perbuat untuk meredam sakitnya selain memeluk dan berusaha menenangkannya. Alfie, terus menjerit kesakitan.

Mas kukuh segera membeli perlegkapan perawatan di apotik. Pelajaran, sedialah selalu P3K di rumah terutama untuk luka bakar. Walau telah memiliki beberapa perlengkapan, tapi ternyata sudah lama tidak di periksa selain isinya obat-obatan.

Pertama,  di sisi sisi luka (tidak termasuk bagian daging yg terlihat) dibersihkan dengan menggunakan cairan anti septik. Memberi obat merah, beberapa saat kemudian mengoleskan di permukaan luka dengan salep Bioplacenton. Luka di tutup menggunakan kain kasa yang pori-porinya lebih rapat, dan memperbannya dengan kasa berpori besar.

sekitar 3 hari pertama perban  selalu di ganti. Kain akan menempel di bagian luka, untuk memudahkannya pelepasan perban, kaki si anak harus di guyur menggunakan air hangat. Saat itu aku pura-pura aja mandiin, soalnya kalau keliatan mengguyur langsung bagian luka, Alfie pasti berontak. Jadi saat-saat terakhir, bersiap-siap dengan air hangat yang telah di kasih cairan antiseptik, kemudian di guyurin, byurrr.... dan menangislah dia histeris "mamaaaaa!!!!" Maafkan mama sayang...

4 hari berikutnya, perban di ganti setiap 2 hari. 2 minggu kemudian luka mulai di angin-anginkan agar cepat kering. Sekitar 3 mingguan kalau tidak salah ingat, alhamdulillah.. luka benar-benar kering. Sempat terkena infeksi, menggelembung berisi cairan karna tanpa sengaja di garuk si anak.

Luka di kaki Alfie mungkin membekas dan berangsur-angsur pudar. Tapi luka di hati mamanya.. sampai saat ini masih sangat terasa :(

#OneDayOnePost

Aug 11, 2016

Ketika si Kecil Terserang Flu Singapore

11 June 2016
pukul 10 Am

Alfie mengeluh pusing, badannya terasa hangat. Aku berinisiatif untuk mengajaknya bobo siang.

Siang hari, suhu tubuhnya semakin tinggi hingga menjelang petang. Suhu mencapai 40 derajat. Alfie mulai gelisah, wajahnya tampak megar dan terus mengeluh pusing. Kami memberinya sirup penurun panas.

Hanya bertahan sebentar, suhu tubuh kembali naik.

Minggu pagi, ketika kami periksa bagian tenggorokannya terdapat bercak seperti sariawan. Batinku mengatakan ini mengarah pada gejala Flu Singapore.

Siang hari bercak semakin bertambah di wilayah telapak kaki dan tangan serta bibir. Yup, 100% Flu Singapore.

Alfie mulai mengalami kesulitan menelan makanan dan minuman. Dengan berbagai bujuk rayu beberapa sendok bubur yang aku blender masuk ke perutnya.

Senin dan selasa siang adalah hari dimana puncak betapa susahnya dia menelan sesuatu cairan melalui tenggorokan. Dia menangis, kadang menjerit histeris seolah apapun melewati rongga laksana pisau mengiris-ngiris bagian dalam mulutnya.

Segala macam upaya kami usahakan agar Alfie tidak mengalami dehidrasi. Walaupun susah payah beberapa teguk air madu dan bubur bisa tertelan. Selasa sore makanan yang masuk sudah lebih banyak. Sudah mau mengunyah dan minum jus buah dengan cara di sendokin. Bisa memasukkan makanan dan minuman ke perutnya itu seperti sesuatu banget.

******

Senin malam menjelang tidur, Rafa batuk. Dini hari menjelang saur, badannya terasa hangat. Kamipun membatalkan dia untuk turut saur dan membiarkannya terlelap.

Selasa siang, badannya kembali panas. Ku periksa tenggorokan dan telapak kakinya, nampak bercak merah.

Walaupun aku berusaha menghindarkan dia dari ketularan sang adik, tapi virus itu ternyata begitu kuat.

Sebelum Rafa mengalami masa di mana dia kesusahan menelan makanan dan minuman, sedini mungkin dia kuminta untuk makan dan minum yang bergizi dan banyak. Beruntungnya si anak kali ini patuh, sudah tidak terhitung berapa gelas susu yang dia minum.

****

Daerah Landasan Ulin Banjarbaru saat ini memang sedang epidemi Flu Singapore, kemungkinan besar Alfie mendapatkan virus saat di Bandara Bjb.

Selama anak tidak mengalami dehidrasi akut, penderita Flu Singapore tidak harus di rujuk ke rumah sakit. Dengan penanganan yang tepat Insha Allah dalam tempo 7 hari akan sembuh.

Flu singapore lebih sering menyerang anak usia di bawah 10tahun, namun beberapa info menyebutkan tidak menutup kemungkinan menular kepada orang dewasa.

Beberapa bercak akan mengalami penggelembungan yang berisi air dan pecah, hingga mengakibatkan rasa gatal pada penderita mirip seperti cacar air, bedanya bercak Flu Singapore menyerang pada area rongga mulut, bibir, telapak tangan, kaki, siku, lipatan lipatan dan anus. Beberapa penderita mungkin hanya mengalami di bebebrapa area. Sedangkan cacar air menyerang nyris ke semua permukaan kulit.

Ini adalah kali kedua anak-anak terkena virus Flu Singapore, dulu kami kira mereka terkena sariawan.

#latepost #OneDayOnePost

May 27, 2016

Kids Story part 4: Anak-anak dan Tekhnologi

Sejak usia dua tahun Rafa pengenal komputer dan telah faham pengoperasiannya walau masih tingkat dasar. Berbeda dengan Alfie, usia 4 tahun  jarinya masih gegagapan dan tentu saja Alfie lebih mengenal era gadged alias smartphone.

Jamannya PC ada permainan komputer yang masih aku ingat dan sangat digemari Rafa, Tarzan bergelantungan di pohon, menyusuri sungai, hutan dan lembah.

Saat papanya kembali, permainan bertambah, dari area balapan hingga dunia hewan dan kartun. Saat bermain game tentu saja aku memiliki waktu luang yang lebih banyak. Bisa tidur siang tanpa hambatan, selonjoran, nonton tivi tanpa gangguan, sms an, masak, beres beres rumah dengan aman dan lain sebagainya.

Apakah itu menyenangkan? Sekilas iya, anak anteng tanpa grasak grusuk huru hara ngusilin orang tuanya, permainannya bersih, murah meriah dan tidak perlu ke luar rumah. Tapi eitssss..... tunggu dulu!!

Bangun tidur yang terlintas sama si anak adalah game,  makan di suapin sambil nongkrongin game, rewel dikit anteng hanya menyodorin game, sosialisasi berkurang, tidak tertarik dengan permainan lain, temperament dan cepat marah. Kontrol emosi sangat payah, males bergerak dan masih banyak lagi yang lainnya.

Astaga, iya aku punya waktu luang jadi lebih banyak tapi di samping itu aku sedang menanam kerepotanku sendiri di kemudian hari. Ini seperti bom waktu yang akan menghancurkan masa depan anak anak dan keluargaku. Ada yang sungguh tidak beres di samping pemberian dan ke antengan si anak saat bermain game.

Saat mereka rewel tidak karuan, nyalain tivi dan biarkan mereka asik dengan sendirinya, etapi bukannya acara di tivi banyak sampah yang sungguh sangat susah mencari manfaatnya. Belum lagi tayangan-tayangan iklan yang mengajak siapapun melihatnya untuk bertindak konsumtif, seperti di paksa menerima apapun yang ada di dalamnya tanpa memberikan ruang buat penonton untuk protes. Kok bisa bisanya gegara coklat beng beng orang pada pisahan, dan ajaibnya manusia berlomba lomba menjadi hewan *tepokjidat*

Saat anak sedang berada di area yang menurut dia sungguh menyenangkan, rasanya akan terlalu susah jika semua harus aku hentikam seketika. Mulailah peraturan di rumah di tegakkan.

Bermain game hanya saat weekend. Nonton tivi dengan berbatas waktu. Memberi penjelasan kepada anak-anak tentang dampak negatif apabila mereka terlalu lama dengan bahasa yang mudah dan memberi contoh anak-anak yang telah kecanduan game dan tivi.

Sungguh tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa. Mereka sempat protes, menolak dan berulah selama beberapa hari. Aku tetap berpegang teguh, bahwa suatu hari nanti ada masanya kami tidak bisa mengontrol sepenuhnya apa yang mereka lakukan, lihat dan dengarkan. Hanya ketika mereka bertumbuh seperti inilah tugas kami untuk menasehati dan memupuknya lebih dalam dan kuat. Semoga kelak mereka mengerti dan terbawa hingga masa itu tiba.

Setelah pengurangan jam tayang dalam hari, berlanjut pengurangan pemakain dalam hitungan  jam bermain game. Hingga lambat laun mereka sudah tidak meminta. Menonton tivi sebisa mungkin aku dampingi apalagi ada tayangan dengan slogan SU-BO - R (segala umur - bimbingan orang tua - Remaja). Mengganti chanel sendiri apabila ada tayangan kekerasan, mengarah ke pornografi, dan sinetron-sinetron tidak jelas.

Bijak saat memakai smartphone. Bagaimanapun banyak hal positif yang bisa di peroleh dari benda bernama smartphone tersebut. Hanya saat-saat tertentu mereka bermain game, itupun telah memenuhi beberapa persyaratan seperti di larang rebutan apalagi sampai tangisan, main bareng dan hanya sebentar. Tidak ada satu anak satu hape.

Setiap minggu atau bulan, ke toko buku mencari bacaan yang menyenangkan dan bermanfaat. Membacanya bersama-sama dan menggambar. Saat longgar pergi ke taman. Tidak ragu bermain pasir dan lumpur. Ke tempat berbelanja dengan melibatkan mereka memilih barang. Membeli mainan yang lebih menguras otak dan tenaga. Alhamdulillah, dan semoga hingga kelak anak-anak keluar dari zona game dan tivi adicted dan lebih melakukan hal-hal yang bermamfaat.

#OneDayOnePost

May 26, 2016

Kids Story part 3: Hari Pertama Sekolah

"Mama masuk ya!" Pinta Rafa. Akupun menyetujui. Saat itu hanya 3 orang emak yang menemani anaknya hingga di dalam kelas, dan salah satunya adalah saya.

Semula Rafa enggan masuk ke ruangan kelas. Persis saat ia di taman kanak kanak, tidak mudah membawanya masuk ke ruangan. Bahkan berminggu-minggu Rafa hanya bermain di luaran.

Kali inipun demikian, tentu tidak pakai mengamuk. Karna masuk paling belakang, Rafa dapat kursi paling pojok, dan sang emak nangkring di kelas ikut belajar.

Hari ke-dua, sang guru sudah tidak mengijinkan anak-anak di temani hingga ke dalam kelas. Sebagai gantinya, boleh liat di kaca jendela. Rafa langsung keluar memberi pesan padaku "mama di samping jendela ya" dan dakupun manut.

Rafa belajar sambil mengawasiku, dia tidak membolehkanku untuk duduk di pinggiran tembok. Hari itu hanya saya yang berdiri dekat jendela nyaris selama dua jam tanpa pindah posisi.

Pulangnya aku langsung bereksperimen "mama pegelll banget, tolong pijitinnn yaaa" di tambah muka yang  memelas aduhai berharap dia faham. Sungguh pegel, tapi tidak segitu juga kali.

Hari ke tiga, lebih menggembirakan aku di persilakan duduk di teras tapi tidak boleh merubah posisi, kapanpun dia pengen liat, mamanya harus selalu ada. Dan saat itu jendela di tutup menggunakan tirai. Rafa berusaha membuat lubang kecil, sesekali matanya mencariku. Dia sempat di tegur gurunya karna tidak fokus di kelas.

Hari-hari selanjutnya tentu semakin menggembirakan, dia sudah bisa di lepas sebagaimana mestinya.

Giliran Alfie.
Karena ada suatu urusan rutin, aku terpaksa menyekolahkan Alfie di usia lebih muda di bandingkan  kakaknya. Tepat berumur 3 tahun, saat itupun sudah masuk semester ke dua, dan Rafa masih bersekolah di tempat yang sama.

Alfie ditunggui Nini (my mom) selama kurang lebih tiga harian. Selebihnya aku antar dia terus aku tinggal sambil sesekali mengawasi dari luar.

Setiap di tinggal Alfie selalu menangis, dan langsung ditangani gurunya, ajaibnya Alfie menangis hanya ketika melihatku, saat diriku dinyatakan menghilang dia langsung diem dan langsung bisa berbaur dan dapat mengikuti kegiatan sekolah dengan baik.

Apalagi saat jam istirahat dan pulang dia masih bisa bermain dengan kakaknya. Walau dari benih dan rahim yang sama, dua anak dua karakter yang berbeda. Cara menikmati sekolahpun juga berbeda beda.

#OneDayOnePost

May 25, 2016

Kids Story part 2: Bullying

"Di gangguin terus, dimana-mana aku di gangguin!!!" Si kecil nangis kejer-kejer di sambi meratap minta bolos sekolah.

"Dengerin mama yah,  anak nakal biasanya temenan sama anak nakal juga, kalau anak baik temennya banyak dan pasti gurumu selalu membela yang benar, maka kalau kalian para anak baik jangan pernah takut selama berada di jalan yang benar, percayalah mereka yang jail itu bakal takut sendiri gangguin kalian" sang mama berusaha menenangkan.

Alfie terdiam berusaha mencerna. "Cara terbaik untuk melawan mereka yang ngusilin kamu adalah harus lebih hebat dan lebih cerdas. Mereka yang suka jailin kamu akan tertawa terkekeh kekeh dan merasa di atas awan saat tau kamu ngga sekolah"

"Jangan biarkan mereka menguasai sekolahmu, kalian harus bersatu, ayooo kita sekolahh.." aku mulai ber semangat empat lima bak sang proklamator membacakan ikrar kemerdekaan bangsa Indonesia, MERDEKA.

Teringat beberapa waktu yang lalu, sang kakakpun mendapat perlakuan serupa, di ganggu temen yang rata rata bertubuh lebih besar dari dia. Biasanya, sebagai langkah awal aku meminta mereka untuk menghindari tememnya yang kelewat agresif apalagi sampai melakukan hal-hal yang berbahaya, dan selalu bilang kalau mereka tidak suka di perlakukan seperti itu.

Pernah aku lihat sendiri, betapa Rafa berlari terus menghindar saat sang tukang usil berusaha mengganggunya. Semula berhasil, lama kelamaan sang pengganggu mulai merasa kesenengan dan jadi kebiasaan, ketemu Rafa selalu mengejar. Sang ibu seperti cuek, sudahpun berlapor pada guru, tapi si anak itu seperti kebal.

Hingga suatu hari akupun memberi ijin Rafa untuk 'membela diri' tepat saat aku menjemputnya pulang, saat itu Rafa tidak tau aku telah datang. Rafa berlari kencang melawan, entahlah apa yang telah dia lakukan. Si anak yang di kejar lari terbirit-birit, Rafa seperti menahan emosi yang berhari-hari dia pendam, dia mengejar dan terus mengejar. Si anak itu bener-benar ketakutan dan langsung ngumpet di dibelakang ibunya memaksa minta pulang. Aku sendiri langsung memeluk Rafa menenangkan, terlihat amarah yang menjadi-jadi.

Sejak kejadian itu selama di tk tak pernah terdengar lagi dia di gangguin. Se elit atau sebagus apapun sekolahan, bullying akan selalu ada. Aku selalu menekankan sama anak-anak jangan pernah jadi pelaku bully, karna di bully itu sungguh tidak enak akan kebawa dan keingat terus hingga dewasa, apalagi saat kejadian tak ada orang yang mau mendengar keluh kesah kita.

Seorang temanpun pernah berceloteh, anaknya mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari teman-temannya, padahal sekolahnya sudah bertaraf I alias Internasional. Mau sekolah I, U aka Unggulan, dan sejenisnya tidak akan menjamin. Semoga anak-anak kita selalu dalam lindungan Allah, ammiinnn..

Suatu hari Rafa pernah mengadu, dia di ejek temannya dengan sebutan yang kurang menyenangkan. Yeah, bully bukan hanya bersifat kekerasan fisik namun juga secara non fisik seperti ejekan, di fitnah, di jauhin dan lain sebagainya.

Penyebabnya macam-macam, bisa karena ketidaksukaan, miskin, kecil, tak berprestasi, susah bergaul, atau mengalami kejadian yang dianggap memalukan yang membuat orang-orang di sekitarnya punya alasan untuk mem bully, dan masih banyak lagi.

Sebenarnya untuk ukuran anak-anak mereka belum mengerti sepenuhnya tentang apa yang mereka lakukan, mereka hanya tau ketika melakukan sesuatu mereka merasa gembira dan dapat perhatian lebih terkait yang dilakukan tersebut baik atau sebaliknya.

Aku selalu meminta anak-anak berusaha terbuka tentang apapun yang mengganggu mereka baik di sekolah maupun di tempat lain, dan bersama-sama mencari jalan keluarnya. Aku tak mau sesuatu yang mamanya dulu alami harus mereka rasakan juga.

#OneDayOnePost

May 24, 2016

Kids Story Part 1: Aktivitas Sebelum Tidur

*Situasi aman kondusif
Jarum jam menunjukkan 8.30 waktu Indonesia bagian Solo.
"Ayo anak anak saatnya persiapan bobo" mulai berbenah mainan, kelar  segera menuju kamar mandi, pipiz, gosok gigi dan mandi.

"Hari ini buku yang mana lagi?" Tawarku dengan sumringah. Masing masing mulai menunjukkan buku yang akan di baca, dari cerita zaman nabi, buku dongeng nusantara, sebelum tidur besutan orang luar, fabel hingga ensiklopedia alam.

Semua mendengarkan dengan seksama, kelar merebahkan diri, baca doa, dan terlelap dengan indah.

*Suasana sedang kurang aman bin ora kondusif dan chaosss..
"15 menit lagi saatnya bobo ya....??!"

"Sekkk maaa..." Rafa masih jumpalitan dengan mainan, kadang masih berlarian, manjatin barang papanya. Si kecil tak kalah bikin huru hara memberantakin mainan, terus saat di suruh bobo dia masih aja beralesan

"aku capeeeee maaaa..,ikie lo kegatelan" sambil terus menggaruk leher yang sebenarnya ngga gatel gatel banget.

Saatnya masuk kamar mandi, Alfie aku papah di bales dengan kakinya yang beronta-ronta minta turun bilang kalau bisa jalan sendiri. Setelah di turunin kaborrr entah kemana. Saat ketemu masukin lagi ganti kakanya yang menghilang. Berlarian ke sana ke mari. Sukses bawa ke duanya ke kamar mandi mereka mulai berantem guyur guyuran plus ledek ledekan.

Saat diminta sikat gigi, Alfie mulai protes "sikat gigi lagi sikat gigi lagi, tiap hari sikat gigi.. capeeeeeee" dia mulai meraung-raung dan melakukan aksi tutup mulut.

Sang kaka masih nurut saatnya di guyur air dia protesss.. "mandi lagi mandi lagiii, tiap hari mandi, mau sekolah mandi, pulang sekolah mandi, mau bobo mandi, bosennnnn" oktav nya tidak kalah melengking dengan teriakan yang bisa menggegerkan tetangga sebelah rumah.

Saat tersentuh sabun, bak ketemu mainan baru mereka mulai cekikikan membuat balon hand made. Di guyur kembali protess. Keluar kamar mandi rusuh dan masih berlarian. Balapan pakai baju, yang kalah cepetpun jadi ahlesan buat geger kembali.

Ketika di tawarin buku yang akan di baca mereka rebutan minta pilihan sendiri yang harus di utamakan. Mamanya sibuk baca anaknya sibokkk ngobroll dan maenn hingga tak sadar tetiba mamanya bilang kelarrr...hohohoho.

Alfie sebenarnya sudah bisa tidur sendiri, sedangkan kakaknya minta di temenin. Dipan tingkatpun kepakai cuman bagian bawah. Jadilah kami pakai bertiga dengan posisi melintang dan kaki sang emak ke tekuk 9.

Kelar? Oh belum, mereka pada lempar-lemparan bantal. Berlompatan ke sana ke mari, cekikikan ngga karuan kadang berakhir dengan tangisan kemudian rusuh lagi sampai cape, sampai sang emak keluar tanduknya. Lelah... tidur dengan posisi nungging dan yang satu telentang mengambil jatah space yg ada.

Emaknya ketiduran dengan posisi ngga karuan, bangun sang encok kembali menyapa.

#OneDayOnePost

May 10, 2016

Hari ke-5 part 3: Bocah Usil

Selama dua hari dua malam mama tidak tidur, aku selalu mengajaknya bercanda, bahkan aku selalu ingin tidur digendongannya, saat mama taruh aku di kasur maka aku akan menangis kencang. Saat itu papa lagi dinas malam, pulang ke rumah papa kecapean sekali.

Jangankan untuk tidur, lagi di kamar mandi saja aku sudah merasa kesepian, aku terus memanggilnya, memanggilnya dan terus memanggilnya.

Asi mama akhirnya mulai keluar lebih banyak, tapiii... putingnya jadi lecet dan payudaranyapun membengkak. Saat aku mulai menyusu mama sering merintih kesakitan, mulutku seakan silet yang mengiris-ngiris dadanya. Mama menggigit bibir dan menghentakkan sebelah tangan dan kakinya ke lantai sambil terus menyusuiku, sebagai pelampiasan rasa sakitnya. Seminggu pertama sepertinya perjuangan sangat berat baginya, tapi mama terus semangat.

******

Kurang lebih setengah jam hangat tubuhnya kembali normal, keringat bercucuran membasahi kaosnya. Kurasakan tubuhnya begitu dingin.

"Bukankah mas sudah berjanji membelikannya mainan baru" ucapku mengigatkan mas Kukuh yang terlihat sibuk memeriksa nota-nota barang. Sesekali memasukkan datanya ke dalam komputer.

"Iya nanti habis magrib" jawabnya sambil terus memainkan jari-jarinya di atas keypad, sebelah tangannya lagi memegang erat beberapa nota.

Ku tinggalkan dia, sementara itu Alfie dan Rafa masih terlihat bermain. Kadang-kadang Alfie terlihat begitu simpati terhadap kakanya.namun tak jarang pula ke jailannya membuat Rafa menjerit histeris dan menangis.

Untuk mendapatkan perhatian kakanya, Alfie sering kali bertingkah usil. Semakin Rafa berontak dan mengamuk, bahkan sampai menangis semakin senang dia. Bahkan wajahnya terlihat datar tanpa dosa walau kakanya  sangat berduka akibat polahnya.

Kali ini tentu saja aku berusaha melindungi Rafa yang benar-benar tak berdaya. Tapi entah kenapa susah sekali memarahin Alfie. Tingkahnya yang membuat wajahku kesulitan menampakkan ekspresi serius. Alfie seperti magnet yang memiliki aura kasih sayang, siapapun melihatnya akan merasa teduh, terhibur dan tak kuasa membuat hatinya terluka.

Walaupun aku menegurnya, tapi wajahku selalu dalam keadaan tersenyum dan terlihat bercanda. Agar Alfie tak semakin mengusili kakanya biasanya ku titipkan saja dia sama papanya. Memisahkan mereka sejenak, agar kembali merindu.

#OneDayOnePost
#EdisiCeritaBersambung

Mainan Alfie



Alfie: dedek bosennn, mainannya itu itu terusss...
Me: Mainanmu udah banyak fie, dulu mama malah ngga punya mainan sama sekali, mama kalau pengen punya mainan ya bikin.

Alfie: beliin mainannnn maaaaa...
Me: lihat mainanmu ada di mana-mana, sebagian udah ngga ke urus, sebagian nganggur

Alfie: tapi dedek mau mainan baru
Me: baiklah kalau Alfie sudah bosan dengam mainan lama, dedek boleh milih mainan baruuu apaaaa aja, tapiii.... mainan yg dedek beli harus seharga mainan lama dan masih layak, nah.. mainan yang lama itu akan kita sedekahkan kepada anak yang tidak punya mainan. Kan lumayan banyak pahalanya, pasti anak itu senang karna di kasih mainan.

Alfie: lhaaaa kenapa harus di kasihkan
Me: karna mainan lama udah ngga di urus lagi, itu liat pedang perasaan baru minggu kemarin, rubrik, hot whell dan apalagi tuh..

Alfie: tapi dedek masih pengen mainan itu
Me: katanya udah boseenn
Alfie: huwaaaaaaaa.....

Menangislah dia sesegukan antara pengen mainan baru dan sayang melepas mainannya yang lama. Selama Rafa sakit memang beli mainan jadi lebih sering, belum lagi beberapa hari sebelumnyapun papanya pulang dari luar kota bawain mainan juga. Karena jadi kebiasaann jadilah Alfie berasa dapat mainan baru itu adalah keharusan.

Akupun sedikit kelimpungan, karna kepolosan dan kelucuannya itu pulalah aku sukar berkata tidak. Sebenarnya mainan yang di inginkannyapun kadang hanya mainan murah bahkan harganya berkisar 1000-10.000an, baginya yang penting mainannya baru dan nambah terus.

Alfie: Aa jugaaa
Me: iya, aa juga kalau pengen mainan baru berarti harus menyumbangkan mainan lamanya yang masih layak dan harganya sama, biar rumah kita ngga sesak karna kepenuhan mainan.

Selama beberapa jam sampai tulisan ini dibikin, Alfie tidak pernah mengungkit mainan baru lagi

May 7, 2016

Hari ke-5: Masih Demam

Keesokan harinya setelah aku lahir, papa dan mama membawaku pulang. Aku masih rewel dan menangis terus. Air susu mama sedikit sekali. Saat itu papa udah menyerah mau dibelikannya aku susu formula. Mama menolak, kalau papa sampai beli berarti usaha mama akan sedikit berkurang. Mama bertekat untuk menyusuiku.

Beruntung ada temen mama yang baik dan perhatian, namanya tante Dita, dia orang pertama yang ngasih suport ke mama untuk terus berusaha. Tante Dita juga yang bilangin ke mama kalau lambungku itu sebenarnya masih kecil sekali, bahkan bayi yang lahirnya sehat mampu bertahan 2x24jam tanpa di beri asi. Kalau aku rewel, karna asi itu mudah sekali di cerna jadi mudah aku serap dan pasti rasanya enakkk banget, rasanya seperti apa yang mama makan.

******

Tanpa sadar akupun terlelap. Jam 5 subuh alarm membangunkanku. Langsung ku kirim pesan lewat bbm
Me: Gimana hasilnya mas?

Tidak terbaca, seharusnya kalau tidak ada antrian panjang hasilnya sudah keluar. Ada apa? Mungkinkah belum keluar. Jam 5.30am suara deru mobil memasuki garasi. Sedikit banyak hatiku langsung bersorak gembira "Alhamdulillah tidak mondok, kemungkinan besar bukan dbd"

Rafa lebih dulu keluar dan duduk di kursi  teras, aku langsung menanyainya "bagaimana? Apa kata dokter?"

"Bukan db dan juga thypus ma" jawab Rafa.

Hatiku semakin sumringah "lha terus apa?"

"Ngga tau" Rafa hanya mengangkat bahunya.
Saat pengambilan darah suhu tubuhnya 38.6 derajat celsius. Dan dia masih aktif juga mau makan dan minum walau sedikit.

Dokterpun bingung, kira-kira apa yang sedang di alami Rafa. Kemudian dia meresepkan puyer diberikan andai saja panasnya tidak kunjung hilang.

*****
"Ma, pegang kepalaku ma, panas juga kaya Aa" pagi-pagi sebelum berangkat sekolah Alfie bikin polah. Punggung tangannya mengisyaratkan padaku untuk memeriksa ke adaannya.

Akupun memegang keningnya, secepat kilat mundur berekspresi kaget "waww.. mama nyetrummm, Fie"

"Jadi dedek libur hari ini ya ma" kata Alfie sembari melempar senyum nakalnya.

"Sakit itu ngga enak, Fie"

"Enakkk.... bisa libur terus" celotehnya menimpali.

"Ngapain punya mainan banyak, duitnya bermilyar-milyar tapi sakit, jangankan sekolah, mainpun susah" jawabku tak mau kalah "mending sehat gini, walau duit seadanya, bisa main puas dan jalan-jalan kemana-mana, tau tidak tadi pagi Aa di ambil darahnya"

"Opooo iyooooo?" mulut monyongnya menyosor seakan meledekku dengan opsi tidak percaya.

"Ayooo kita lihat" kamipun menuju kamar. Rafa masih tertidur pulas. Plestar penutup lukanya masih nampak terlihat. Alfie yang melihat hal tersebut sejenak terdiam.

"Oooooo bener ih..." setelah itu diapun tak berkata-kata, nurut saat aku mulai mempersiapkan keberangkatannya ke sekolah.

#OneDayOnePost
#EdisiCeritaBersambung

Apr 26, 2016

Kali Pucung Adventure



Hari miladnya Alfie kemarin bertepatan pada hari minggu, hari yang sama saat dia lahir dulu. Jadi rencananya kita mau specialin dengan nanya langsung ke si anak “dedek pengen apa? Mau di ajak kemana?”
Ternyata keinginan Alfie sangat sederhana, dia pengen di ajak ke tempat permainan di Goro Assalam. Anak-anak memang termasuk jarang banget maen maen macem ini, apalagi kalau ikut emaknya yang ada malah di ajak ke sawah, taman atau tempat-tempat berlumpur lainnya. Beda hal saat maen bareng papanya, lebih bersih dikitlah dan boros tentunya.
Akhirnya kita berinisiatif buat nyari yang adem-adem daerah Tawangmangu, dan diputuskan untuk maen air sapuas'e di kali pucung. Sebelum ke tkp kita isi bbm tubuh dulu, maklum sarapannya baru sebungkus roti, jadi di perjalanan perut berasa meronta-ronta minta di isi.
Kali Pucung masih satu kampung dengan Kemuning, tempatnya perkebunan teh. Dimana ini? Saya sendiri kurang ngerti, sepertinya melewati pasar Kemuning, lurus dan berbelok-belok. Sudah ada papan petunjuk arah di sana, jadi lebih mudah mencari lokasi.
Kami mampir di rumah makan Kemuning, menurut info dari narasumber yang tidak mau disebutkan namanya, singkong goreng di tempat ini terkenal sangat enak. Benar saja, saat barisan singkong itu datang di meja hingga satu gigitan telah menyentuh lidah uhhmmmmn…masha Allahhh, yummmyyyyy banget. Cuaca dingin di temanin singkong hangat yang masih mengepul dengan rasa gurih yang luar biasa… bener-bener perpectoooo, enakoooo bin lazissstoooo. Harga satu porsi singkong Rp10.000, di makan 3 orang dewasa dan 2 orang anak kecil, nikmat banget.
Puas menikmati santapan ala kadarnya rombongan berangkat menuju Kali Pucung yang berjarak sekitar 300an meter dari Rumah Makan Kemuning.
Kali ini aku hanya kebagian dokomentasi, tidak terjun ke sungai. Kali Pucung Adventure adalah arum jeram mini dengan aliran sungai yang lebih tenang. Jadi para penumpang bisa duduk manis anteng di atas ban yang telah di ikat bersamaan sambil menikmati pemandangan alam yang masih sangat asri di temani seorang pemandu. Beberapa tempat melewati terowongan gelap alias bawah jembatan yang sempit, dan satu daerah lagi akan menurunin aliran air yang cukup deras, selebihnya saya tidak menyaksikan lagi karna memilih untuk mengungsi di kebun teh. Lebar kali bervariasi ada sekitar 1-4 meteran.
Harga tiket Rp15.000 untuk jarak pendek dan Rp25.000 untuk jarak yang lebih panjang. Jarak tempuh sekitar 30 sampai 45 menitan
#OneDayOnePost




Apr 24, 2016

My Baby

Hari ini, hari yang sama tepat 5 tahun yang lalu. Mama masih ingat saat kamu bersiap-siap lahir ke dunia ini. Jam 11 malam, tanda-tanda itu terlihat. Bercak darah, kontraksi setiap satu jam sekali.

Mama memiliki kebiasaan membersihkan rumah saat malam hari kala itu, tapi saat mama tau kamu akan lahir itu berarti tidak ada lagi yang membersihkan rumah kita untuk beberapa hari. Mama mencuci semua baju, ngepel lebih sering. Mama ingin saat pulang, di rumah tidak terlalu berantakan. Kamu tahu sayang papa saat itu sangat sibuk sekali. Toko masih baru dan masih terus di rintis, kadang papa kerja sampai jam 2 dini hari, besok paginya kerja lagi, mama tidak mau membebani nya dengan urusan rumah tangga juga.

Tepat jam 3 dini hari, saat kontraksi semakin sering mama membangunkan papa dan mas Rafa. Mereka masih sangat tertidur pulas. Papa bersiap mengantar mama ke rumah sakit Yarsis. Semua perlengkapan telah mama siapin sejak usiamu 8 bulanan. Maafin mama ya nak, baju bajumu banyak yang bekas kakakmu. Masih banyak yang layak pakai, kita juga sedang harus berhemat.

Sekitar jam 4 pagi kita sampai di rumah sakit, saat itu hanya ada dokter umum dan beberapa perawat. Sebagian dari mereka terlihat mengucek ngucek mata. Walau di ruangan UGD tapi malam itu nampak sepi. Ketika di periksa mama udah pembukaan 4. Mama segera di pindah ke ruang bersalin. Semula mama berada di ruang bersama yang terdiri dari 4 bed, tapi papamu sepertinya tidak tega, akhirnya kita di pindah ke ruang sendiri. Ruangan kita ada tivinya, ac dan juga kursi tunggu.

Setiap beberapa menit sekali, perawat memeriksa kondisi mama. Papa dan mas Rafa setia di samping kita. Semakin lama kontraksi semakin cepat dan sakit, mama sungguh merintih ke sakitan. Perawat itu juga menganjurkan mama untuk pipis dan bab ke kamar mandi. Adakalanya mama tidak bisa jalan, saat kontraksi itu datang.

Papa tidak ingin mas rafa melihat keadaan mama, akhirnya papa pamit sebentar ke kebak keramat dimana om nana tinggal untuk menemani mas Rafa. Mama sendirian di ruang bersalin untuk waktu yang lama. Saat ketuban sudah pecah mama tak boleh ke luar ruangan lagi. Kontraksi semakin cepat dan semakin cepat, pembukaanpun semakin banyak. Sungguh nak, mama ngerasa ketika pembukaan itu naik mama seperti memiliki 10 nyawa, dan ketika pembukaan datang 1 nyawa mama telah di ambil. Mama sempat berpikir, apa mama akan mati? Sakit sekali sayang. Tapi kamu tau, mama rela menukar nyawa mama asal mama tau kalau kamu akan selamat lahir ke dunia. Tapi pikiran itu segera mama tepis. Mama ingin hidup sayang, mama ingin merawatmu, memberimu asi, dan mama ingin melihat anak-anak mama tumbuh sehat dan bahagia.

Saat papamu datang, saking tersiksanya, mama ingin melahirkan dengan cara ILA, pasti mama tidak akan menderita seperti sekarang ini. Tapi para perawat itu meyakinkah bahwa mama pasti bisa melewati semua ini dengan baik.

Posisi mama sudah sangat tidak nyaman, miring ke kiri, ke kanan, terlentang. Sesekali papamu memijiti punggung mama. Tak terasa air mata mengalir, ya Allahhhh sakit sungguh luar biasa.

Jam setengah 8 mereka bilang pembukaan semakin banyak, tapi dokter tak kunjung datang. Setengah sembilan, mama tau saatnya kamu lahir, mama ingin sekali mengeluarkanmu, namun perawat perawat itu melarang mama untuk 'ngeden' sungguh mama ingin sekali melakukan itu, tolonggg jangan di tahan, mama merasa itulah saatnya dan para perawat itu malah menutup kaki mama. Saat bu dokter datang, kontraksi itu sedang tidak ada tapi bu dokter menyuruh mama buat 'ngeden' sepertinya setengah kepalamu sudah keluar dan berhenti di daerah hidung, merekapun menarikmu dengan paksa, seketika itu pula mama menjerit dan menangis luar biasa untuk beberapa saat, mungkin teriakan mama bisa terdengar ke seluruh ruangan rumah sakit, kemudian semuanya hilang, sakit itu lenyap tertutupi dengan suara tangisanmu.

"Alhamdulillahhh.... assalamualaikum anakku.."

5 tahun sudah berlalu, terimakasih untuk segala moment yang kita ukir bersama sayang. We love you so much apapun adanya kamu. Semoga Allah selalu melindungimu, memberimu kesehatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Walaupun sekarang kau bukan 'baby' lagi tapi, tapi di hati mama kamu akan selalu jadi 'my baby' anak kesayangan mama :)

#OneDayOnePost

Apr 22, 2016

Ketiduran

Magrib telah lewat, saatnya ngasih makan si kecil. Dari tadi sore Alfie ngemut dodol garut kesenangannya. Aku perhatiin dia juga mengantuk. Kang mas ada urusan keluar sebentar, anak-anak mau ikut, kurang satu jam sudah nyampai rumah dan Alfie tertidur di jok belakang. Dwuhhhh sedihhhh banget dia  terlelap dan melewatkan jatah malamnya.

Beberapa bulan terakhir ini memang si kecil  susah di ajak tidur siang, kalaupun mau kadang suka ke sorean. Lhadalah mboboinnya itu lama pakai bangetttz. Emaknya kelelep anaknya masih melek. Pas bisa bobo susah banget di bangunin padahal udah sore bahkan kadang menjelang magrib. Nah setelah itu siap-siap deh begadang. Jadi kalau udah asar lewat mending di tahan aja ngga bobo sekalian, dengan resiko setelah magrib bobo dan setelah isya bangun, nahhhh... kalau dah gini, alamat jam begadangnya malah tambah panjang.

Sempat terlintas di full day in aja di sekolahan, sudah beli juga kasur seperti punya teman temannya. Harapanku biar dia bisa bobo di jam yang lebih baik, bangun tidur langsung di jemput. Tapi Rafa menolak, dia ngga mau adiknya kelamaan di sekolah katanya sepi di rumah tanpa Alfie. Aku sendiri sebenarnya ngga tega, pernah suatu hari aku telat menjemputnya, Alfie maen sendiri di luar sambil ngelamun gitu.. hiksss sedih juga liatnya. lagipula Alfie kan kalau mau bobo harus di 'elus-elus' dulu.

Bila mereka tidur dalam keadaan perut kosong ataupun sedang ngambek or sedih maka sepanjang malam pula si emak melankolis inih akan merasa sedih dan bersalah, paling tidak sampai mereka bangun, makan yang banyak dan ceria kembali.

Apr 6, 2016

Tanpa popok dan bebas ompol

Dulu Rafa sampai usia 8 bulan masih menggunakan popok. Kadang popok kain namun lebih sering menggunakan sekali pakai. Makin gede perasaan semakin boros, karna pipisnya semakin banyak dan tentu saja berarti pemakaian popok semakin sering. Sehari saja di kumpulin sampah popoknya sekantong plastik besar.

Suatu hari aku liat seorang ibu yang membiarkan bayinya ompol. Jadi dia dipipisin gitu terus ganti deh semuanya. Dan ternyata banyak banget ibu ibu seperti itu, mereka malah heran kenapa aku pakaiin popok sepanjang hari.

Wokeh, demi menjaga lingkungan tetap asri dan kemashalatan ekonomi keluarga, mari kita mulai 'tatur' si bocah. Menurut bahasa jawa *tolong koreksi jika salah* tatur adalah toilet training ala wong jawa, yang membiasakan anak anak buat belajar pipis di tempatnya.

Malam pertama
Kasur banjir, berhubung kasur masih bungkusan jadi aman, apesnya diriku yang kebagian lebih berat kena genangan air lebih banyak. Dua duanya ganti baju sehabis di bilas juga ganti spray. Yah tengah malam pada bilas bilasan, trus sodorin nenen, meremm lagi si bocah.

Malam kedua
Sama, masih banjir menggenang. Apakah selama banjir si anak rewel? Dia hanya gelisah karna celananya yang basah, tapi setelah di ganti bisa merem dengan indahnya. Ini berlangsung kurang lebih selama seminggu.

Minggu kedua
Si anak terbangun, tapi ngga ompol. Langsung aku gendong ke kamar mandi. Dalam keadaan merem, dia pipis. Balik lagi ke kasur, kasih nenen, merem deh. Dalam satu malam bisa 3-4 kali ke kamar mandi.

Semakin lama, rutinitas ke kamar mandi semakin berkurang. Usia 1 tahun 2 bulan, Rafa sudah full tidak di boyong ke kamar mandi. Jadi sebelum bobo dipipisin dulu, pagi sesaat dia bangun langsung ajak ke kamar mandi. Jadwal agak kacau saat cuaca dingin, ini pengecualian. Sebelum pagi menjelang bahkan dini hari harus segera ke kamar mandi sebelum terlambat, juga kalau si anak sedang minum sangat banyak.

Di siang hari, sejak pipis pertama biasanya aku perhatiin kalau sudah 3 jam berikutnya langsung aku tawarin buat ke kamar mandi, kalau belum tunggu setengah atau satu jam lagi.

Semenjak itu, sampai usianya sekarang dia selalu bilang kalau mau pipis. Di usianya 6 tahunan dia pernah ompol, waktu aku tanya, katanya kirain udah di toilet, soalnya dalam mimpinya sedang berada di depan toilet hahahha...

Anak kedua, lebih pengalaman neh. Usia 3 bulan udah aku tatur. Hanya pakai popok kalau pergi itu juga kain. Umur 9 bulanan sudah benar benar lepas. Cape dan ngantuk jadi kendala utama, lagian kok rajin bangettt yakkk... tapiiii... hasilnya, puasss banget, kasur bebas ompol, ngga ada celana dan baju baju yang bau pesing, lantai juga Insha Allah bebas najis dan yang passsssstiiiiiii.....!!!!!! hemat dwunk, bolehlah harga popok dan sabun buat nyuci itu sebagai gantinya di pakai buat ke salon or manggil tukang pijit, mayan banget kan?

#OneDayOnePost