Oct 27, 2018

Doorprize

Beberapa waktu yang lalu, Kang Mas akan pergi menghadiri sebuah peluncuran produk lampu terbaru bersama temannya. “Doain Mas dapat kulkas, ya?” ucapnya sebelum pamit.

“Jangan kulkas lah, Mas. hape saja,” balasku sambil nyengir kuda. Apalagi memang gawai yang aku pegang sering eror. Dia diam. Kuperhatikan lagi undangan yang tertera. Memang ada doorprize di sana. “Ni ada hape kan,” ucapku memperlihatkan undangan itu. Dia masih diam. Hadiah yang terlihat di sana ada kulkas, tivi lcd, setrikaan dan smartphone.

Beberapa jam setelah itu, ada pesan wa masuk. Sebuah foto yang menampakkan si Kang Mas sedang membawa godybag. Kuperhatikan lagi lebih teliti, ada merk nya yang sungguh aku kenal. “Itu Hp ya?” Tidak ada jawaban, mungkin ia masih sibuk.

Sesampai di rumah, benar saja, dia memperoleh Hp Android Sa****g. Sempat terpikir, jangan-jangan dia bekerja sama dengan panitia acara untuk menyenangkan istrinya sing ayu dewe ini (dilarang protes)

Kang Mas bercereita bahwa, hadiah paling besar secara nominal harga adalah Hp yang dia bawa itu dan diberikan di akhir acara. Nah lo, masih meragukan doa seorang istri. Bahkan saat becandapun, malaikat bisa langsung mengaminkannya.  Dan para ibu-ibu bangsa, emak-emak, atau siapapun kita kalau sudah berstatus seorang istri berhati-hatilah dalam berucap, khususnya kepada anak-anak dan suami, meskipun niatnya bercanda. Doain mereka yang baik-baik terus walau hati sedang panas atau lebih baik diam (ngomong ma cermin, saya masih sering soale haks ....)

Dan kalian para suami, kalau kepengen sukses dunia akhirat ta jauh-jauhlah nyari berkah, dimulai dari menyenangkan hati istrimu dulu (jangan lupa ibumu yang pertama), agar apa? Agar yang keluar dari bibir, hati dan pikiran mereka adalah hal-hal kebaikan.

Saya sering memperhatikan suami yang pelit sama istrinya, bahkan menyembunyikan hasil jerih payahnya, rejekinya bakalan segitu-gitu aja. Apalagi sampai menzalimi mereka, hidupnya tidak tenang, dan sering sakit-sakitan. Nggak percaya? Coba aja.

Yuhuuu … Merdeka!


Sep 26, 2018

Bom Waktu

“Ma, temenku di rumah punya PS, di hapenya juga banyak game,” ucap Si Sulung saat kami sedang menikmati makan malam bersama.

“Hem.” Saya masih asyik memamah biak.

“Dia di rumah sering ditinggal sendiri.”

Krauk … krauk! Satu kerupuk sukses melewati tenggorokan.

“Mama juga bisa beliin kalian PS.” Masih sambil ngunyah makanan.

“Bener, Ma?” Mata mereka tampak berbinar.

“Iya, beli yang bekas, lima ratus ribu sudah dapat yang bagus. Mahalan dikit satu jutalah.”

“Wah,” tambah semangat mereka.

“Atau hape yang komplit sama game-game nya.”

Mereka saling lirik dan saling menebar senyum.

“Enakan? Murah itu, ditotal-total mentok-mentok dua jutaan lah, mayan buat bertahun-tahun. Enggak perlu Mama langganan majalah anak-anak, beli buku-buku tebel, sampai nyari-nyari mainan edukatif segala. Belum lagi, hampir tiap hari minta dibacaan cerita.

“ Kalian bakal anteng. Mama jamin kalian akan betah di rumah dan bersih selalu. Enggak perlu panas-panasan di luar, nggak perlu kotor-kotoran. Dan lebih ‘aman’. Mama juga enggak perlu muterin kampung ke sana kemari saat kalian lupa makan, lupa solat, bahkan kadang lupa Mama  khawatir nungguin kok enggak pulang-pulang.”

“Iya, Ma?” Semangat empat lima sambil mengibarkan bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan. Mungkin dikiranya Sang Mama sudah berubah jadi kucing anggora yang lucu dan menggemaskan. Padahal biasanya macem singa yang siap menerkam.

“Hu um, Mama juga bakalan enak, bisa pergi  lama bebas hambatan. Nyalon, nyaleg, belanja sendiri tanpa perlu repot-repot ngurusin kalian itu. Bisa tidur siang sambil ngorok, selonjoran, ngobrol haha hihi tanpa ada yang gangguin, nonton filem dan enggak ada itu yang suka bilang ‘Ma bosen Ma bosen’ hingga Mama harus memutar otak bagaimana caranya kalian betah dan mau diem.”

“Beneran nih Ma?”

“Yup, satu tahun, dua tahun, empat tahun, kita akan hidup dalam ketenangan dan kedamaian. Tapi setelah itu—“

Mereka mulai tegang, “Apa Ma?”

“Mama akan sibuk mondar mandir ke dokter mata, jantung, tumbuh kembang anak, bahkan mungkin psikolog dan psikiater. Tidak hanya sibuk, tapi juga mahal. Satu kali bertemu dokter spesialis itu saja minimal 200 ribu rupiah. Belum lagi obat-obatannya, belum lagi terapinya. Dan itu berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, mungkin seumur hidup. Saat itu mungkin mama sudah tidak bisa selonjoran lagi, dan uang papa banyak terkuras buat ngurusin kalian ke dokter.

“Untuk pakai kaca mata saja, kalian harus adaptasi selama minimal satu bulan. Harganya jutaan. Selama satu  bulan itu kalian akan menderita pusing dan enggak enak. Mau?”

Mereka menggeleng.

“Kita hidup itu butuh temen, butuh bersosialisasi. Dan itu ada ilmunya. Kadang kita butuh bertengkar dengan orang kemudian mengerti rasanya gimana disakiti, gimana caranya memaafkan kemudian mengihklaskan. Itu pelajaran seumur hidup. Untuk kuat, kita butuh jatuh berkali-kali. Jatuh sejatuh-jatuhnya kemudian mengerti caranya bangkit. Kita butuh menangis, bahkan mungkin kita  butuh menyendiri, kemudian mengatasi masalah yang sedang dihadapi.

“Di saat-saat tertentu bahkan kita butuh diam, iya diam macem batu. Dan itu butuh latihan. 

“Liat ada orang kesusahan, kita harus berempati, bukannya sibuk selfie. Itu juga  butuh latihan, belum terdapat diaplikasi manapun dan tidak dijual di negara maju sekalipun. Saat kecil inilah rasa-rasa itu harus dilatih, kalau sudah besar susah. Orang yang enggak bisa mengontrol emosinya sendiri akan tumbuh menjadi jiwa yang labil.

“Orang yang tidak terbiasa, akan mudah menyerah kemudian putus asa. Gampang stress, bahkan bisa melukai diri sendiri dan orang lain.

“Kalian tahu kan si Mawar, orang tuanya tidak ada yang bermasalah dengan matanya, tapi lihat Mawar, baru umur enam tahun sudah berkaca mata. Kalian lihat sendiri kan kesehariannya?

“Juga Si Budi, sampai sekarang harus mondar mandir ke psikiater bahkan minum obat seumur hidupnya. Sejak usia dua tahun sudah dibebasin mengenal komputer, dan game-game hape. Sejak kecil terbiasa dikasih enak, tidak tahu caranya menghadapi hidup susah. Kalau tidak di kasih, ngamuk kemudian minggat dari rumah.

“Jadi gimana? Mau Mama fasilitasi?”

“Enggak, Ma.”

“Masih mau Mama batasin, tegur dan bilangin?”

“Masih, Ma. Ampun … Ma.”

“Bersabarlah, otak, tubuh, tangan-tangan kalian, hati dan jiwa kalian kalian masih butuh tumbuh. Bersabarlah, ada saatnya Mama tidak akan pernah bisa melarang kalian lagi. Mama harap saat itu kalian sudah mengerti dan bijak menggunakan apapun. Bersabarlah, orang-orang yang menciptakan karya-karya keren saat ini buah hasil dari kesabaran orang-orang yang mau bersusah payah, belajar dan meredam kesenagan sesaat di masa lalu.”

Jul 19, 2018

Belajar Arti Kehilangan

Masih di area halaman toko penjual sepatu menuju pulang, bibir si sulung manyun, matanya merah dan berkaca, tangannya bersidekap.
“Ibu-ibu itu yang salah, Ma,” ucapnya merengut.
“Tidak semua orang baik sayang, begitu pula, tidak semua orang jahat,” ucapku berusaha menenangkan. “Kamu pengen ngeratapin lama hingga stres apa di ikhlasin?”
“Itu mainan punyaku satu-satunya,” jawabnya ketus.
“Tahu aja satu-satunya kenapa teledor?”
“Mama nggak bilangin sih!” mukanya terus bersengut.
“Gimana mama mau bilangin, orang sudah hilang gitu.”

Dia masih saja merengut. Ingin menangis tidak tahu apa yang ditangisin.

Tadi malam kami ke pusat penjualan sepatu. Nyariin si sulung sepatu sekolah. Rafa bawa mainan rubrik, hadiah ayahnya waktu ke luar kota dulu. Mainan itu masuk kategori favorit. Sering di bawa kemana-mana. di usia sekitar 7 tahunan berkat bantuan Mas Amin –karyawan toko- juga teturial youtube,  mainan itu telah berhasil dikuasai. Sempat berhenti, dan terbengkalai begitu saja. Hingga beberapa minggu terakhir ini ia kembali memainkannya. Sering dibawa kemana-mana, apalagi perjalanan jauh.

Saat mamanya sibuk mencari sepatu yang cocok, dia sibuk bermain rubrik, sampai ketemu empat pasang sepatu biar dia bisa milih. Sedang asik milih, hingga ketemu yang nyaman dan cocok dia mencoba berlari menyusuri karidor toko. Mamanyapun ke area lain, buat nyari sendalnya yang juga putus dan hilang. Waktu Rafa kembali, kami sudah menduduki area kursi lain.

Saatnya pembayaran dan pulang. Waktu menuju motor, Rafa baru sadar kalau mainannya tertinggal. Dia berusaha mencari ke sana kemari. Mamanya pun ikutan turun dari motor dan membantu mencari. Tapi sayang, mainan itu sungguh tidak terlihat.

“Mbak, ada lihat mainan rubrik nggak ya? Tadi tertinggal,” tanyaku pada seorang pelayan toko. Perempuan berambut panjang lurus rebonding dengan tubuh semampai itu agak bingung. Hingga temannya di sebalah bilang. “Perasaan tadi diambil ibu-ibu, Mbak?” ucapnya.
“Bisa tunjukin ibu-ibu yang mana, ya?”
“Kayanya sudah pulang, Mbak.”
“Oh.”

Akupun pergi dan memberi penjelasan ke Rafa. Jadilah drama keluarga ala Korea.
Saat duduk di bangku sebuah rumah makan, si sulungmelamun, dan matanya mulai berembun.
  
“Dulu papa kehilangan kabel seharga limajuta rupiah,” ceritaku.
“Papakan punya kabel banyak. Itu mainan Rafa satu-satunya,” sahutnya kesal.
“lima juta itu bisa buat beli rubrik hingga ratusan buah.”
“Iya, tapi papa masih punya kabel banyak,” dia tetep ngeyel.
“Untuk mendapatkan laba limajuta itu, papa harus jual barang lebih banyak lagi. mungkin harus berhari-hari atau berminggu-minggu, bisa juga berbulan-bulan.”

Dia diam.

“Kamu tahu rumahnya Om Rizal, kan?” Om Rizal adalah teman Mas.

Ia mengangguk.

“Waktu kita ke pantai kemarin, rumah di seberangnya itu terbakar. Semua barangnya ludessss … desss tak bersisa.”

 “Terbakar kenapa, Ma?” Dia mulai antusias.

“Nyalain  kompor tapi lupa matiin, kemudian ditinggal pergi. Baju-bajunya, perabotan, dapur, mainan, semuanya-semuanya terbakar. Sekarang harus menginap di mesjid, begitu yang mama dengar.”

“Makannya?” potong Rafa.

“Menurut informasi, dikasih tetangga-tetangga yang baik hati.”

Rafa mulai menerima.

“Bisa saja Allah sedang ngasih ujian, bisa saja Allah mau ganti yang lebih baik, bisa saja di dalam sana ada harta yang belum seharusnya milik mereka, bisa saja.. bisa saja, hanya Allah yang tahu.

Kalau meratapi berlama-lama, tidak hanya setress tapi bisa sakit-sakitan dan gila. Jalan satu-satunya, ikhlasin.  Sekarang kamu boleh sedih tapi jangan lama-lama. Anggap saja peringatan. Besok-besok harus lebih hati-hati. Jangan masuk ke lubang yang sama. Pengalaman itu mahal.

Kamu tahu Mamanya Keisya kan?”

Rafa kembali mengangguk.

“Dulu dia kehilangan sepeda motor, padahal sudah dikunci. Yang penting kita harus menjaga dengan baik, hati-hati dan nggak teledor. Setiap kita punya kontrak sendiri-sendiri. kontrak Rafa sama mainan itu, berarti sudah habis. Rafa sama baju inipun ada kontraknya, Rafa sama mama, sama dedek, tapi kita tidak tahu kapan itu akan berakhir,” ucapku sambil memegang bajunya.

“Dulu, pintu garasi toko tidak terkunci, bahkan terbuka sedikit gara-gara teledor. Kalau ada orang jahat, bisa saja dia memasuki toko dan menguras semua isinya. Tapi Allah masih jaga dari orang-orang yang berniat jahat. Setelah itu, papa jadi lebih hati-hati lagi.”

Wajahnya sudah mulai cerah. Hingga tulisan ini ditayangkan, roman mukanya sudah kembali normal. Tapi saya tidak berani mengungkit-ungkit rubriknya, kecuali dia yang mulai.