Jan 13, 2018

Sebuah Masa yang Telah Pergi

Tubuh laki-laki berbadan tinggi yang kini duduk bersandar di sebuah kursi besi, tampak kusut. Seorang perempuan dengan rambut dikucir kuda mendekat. Entah berapa lama sosok yang pernah sangat dengan perempuan itu terakhir kali membersihkan tubuh. Mata elang yang dulu cerah seolah redup.

Mereka duduk berhadapan dipisah sebuah meja panjang dan saling diam. Mata sang perempuan menatap dalam. Tak ada lagi genangan yang biasa membasahi pipinya. Buliran kristal itu telah mengering, tak ada yang tersisa. Ia bergeming tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

“Maafkan aku.” Suara laki-laki itu terdengar bergetar.

“Aku sudah memaafkanmu.”

“Kembalilah, kita mulai dari awal lagi.”

“Aku memaafkanmu, bukan berarti menerimamu kembali dan melupakan semua yang pernah terjadi. Kau yang meminta untuk pergi.”

“Aku sangat menyesal.”

“Aku sudah mengikhlaskan semuanya.”

“Aku mohon, berilah kesempatan untuk terakhir kali.’

“Ini bukan kata-kata pertama yang pernah engkau ucapkan.”

“Aku mohon.” Laki-laki itu mengiba bahkan menangis, tapi tidak merubah segalanya. Asa itu telah pergi … asa itu telah mati, terkubur bersama luka yang bersemayam begitu dalam.
***

Sepengal catatan dari kisah nyata yang entah kapan akan kelar. Jemari saya seolah ikut bergetar setiap kali ingin menuangkan kisah mereka. Sebuah hubungan yang rumit dengan luka-luka membersamai. Tetapi, dari merekalah saya belajar menghargai sebuah hubungan, kesempatan dan pengabdian.

Di tempat lain, seorang pemuda begitu terpukul meratapi pusara kedua orang tuanya. Dunia bisa saja ia beli, namun seluruh yang ia punya bahkan tidak bisa membeli kebersamaan walau hanya untuk satu hari.

Dulu, ada seorang ibu yang memiliki banyak anak. Lelah terus mendera,  berharap anaknya cepat besar dan mandiri agar ia bisa menikmati hari-hari dengan rumah yang selalu rapi, cucian yang tidak menggunung dan ocehan yang senantiasa meangganggu waktu istirahatnya. Bisa berkumpul  bersama sahabat tanpa ada hambatan.

Waktu begitu cepat berlalu. Kaki-kaki anaknya yang dulu mungil merangkak ke sana ke mari telah kuat dan kokoh. Mereka telah berlari, sangat jauh. Tangan-tangannya serupa kepakan sayap. Mereka telah pergi, dan hanya sesekali kembali. Ocehan-ocehan yang selalu mengganggu dulu menjadi hal yang sangat dirindukan. Bahkan ia rela lebih lelah dari dulu, hanya untuk melihat anak-anak berada di dekatnya. Ia rela rumahnya lebih berantakan bahkan beratus-ratus kali lipat dan dengan riang hati ia bersihkan agar bisa menghidu aroma tubuh sang buah hati yang pernah ia lahirkan.

Apa yang paling kau sesali, rindukan dan ingin sekali dilakukan saat belahan jiwamu, pergi?

Apa yang ingin kau perbuat seandainya Tuhan memberi kesempatan satu hari saja mengembalikan orang yang paling kau kasihi?

Apa yang ingin kau katakan ketika berada di pembaringan dengan kesakitan yang  terus mendera, kepada mereka yang pernah kau abaikan dan tersakiti?

Masih adakah kesempatan itu? Jika YA, lakukan sekarang. Kelak, ketika masa itu telah terhenti, walau ia memutuskan pergi, dan Tuhan memintanya atau saat kau kembali, tidak ada lagi yang harus di sesali. Hanya sebuah senyuman dan ucapan terima kasih yang terus menghiasi.

Jan 5, 2018

Daun Kering

Bahkan daun kering pada ranting di atas pohon gersang di kelilingi tanah tandus tidak akan luruh tanpa seijin-Nya.
Sayap boleh patah sebelah atau tercerabut keduanya, tapi burung masih memiliki kedua kaki untuk berlari. Jikapun kakinya sakit dan berdarah ia tetap bisa berenang. Jikapun diharuskan bersandar, ia mungkin berkicau. Matanya akan berubah setajam elang.
Ia tidak akan pernah benar-benar diam. Ia percaya suatu hari, langit memanggilnya kembali
Sepasang sayap seputih malaikat membawanya ke angkasa.

Dec 12, 2017

Ternyata ....

Jadi tadi sore kita berkunjung ke sebuah mall yang baru buka dan sedang heboh-hebohnya di kota Solo sejak opening beberapa pekan lalu. Setiap weekend, selalu penuh nyesek plus tumpah ruah meluber-luber. Banyak yang bilang sudah tidak bisa menikmati saking banyaknya pengunjung. Beberapa lihat postigan para instagramer menyiratkan suasana lumayan antusias dan ramai.

Kemudian saya berinisiatif untuk berkunjung saat non weekend dan kira-kira saldo gajian orang sudah mulai menipis :D. Kebetulan saya juga punya janji sama si bungsu akan memberikan kado saat dia kelar mempelajari Iqra. Dan itu sudah beberapa pekan. Jadi sekalian nyari.

Anak-anak yang mendengar berita tersebut berlompatan hingga mencapai plafon, ralat, pokok e heboh lah sampai histeris kegirangan. Dan dengan mudah saat diminta bersiap-siap. Hari-hari lain, jangan harap. Minimal satu jam sebelum keberangkatan.

Ba'da Asar kita berangkat. Saat nyampai parkiran cukup longgar. Masih tercium aroma cat. Dilihat dari luar, memang mal tersebut di design cukup mewah dan terkesan 'menarik pengunjung'. Saat di dalam, saya merasa tidak ada yang begitu special ataupun hal-hal yang baru kecuali temboknya yang masih bersih dan counter-counter yang rapi. Khas nuansa mal-mal kebanyakan.

Kita mulai menanyakan counter mainan, salah seorang karyawan menyebutkan lantai atas. Ketika mau ke atas satpam bilang di lantai bawah. Okey, kita ke atas dulu. Ternyata ini area bermain. Yang baru adalah rolcoster yang sedikit (keluar) mengelilingi gedung, patung-patung dinosaurus yang bisa manggut-manggut sambil mengeluarkan auman. Sisanya masih sama seperti kebayakan bermain ala-ala play zone area.

Akhirnya kita ke lantai bawah lagi, untuk menuntaskan tugas utama dulu sebelum bermain. Nah pas di bawah mereka bilang ke atas. Setelah itu ketemu counter mainan tapi kecil sekali dan tidak lengkap. Kemudian kita mampir ke counter roti. Nanya ke mbak roti, katanya di lantai bawah ... alamakkkk, ini karyawannya pada nggak kompak sih. Baiklah ... baiklah, ini masih baru, mungkin mereka tidak hapal. Akhirnya saya iya iya in saja tapi sudah malas nyari. Mending beli roti, kenyang.

Mas Kukuh beli kartu. Mengigat di sini harga per permainan rata-rata sama dengan satu bungkus nasi (nasi kucing, nasi padang, nasi pesel dan nasi-nasi lainnya), kisaran Rp 4900-30.000 jadi mamaknya yang kadang (tapi lebih tepatnya sering) hematnya kambuh ini kemudian berujar kepada anak-anak. "Dalam kartu ini saldonya ada 55ribu. Mama mau kalian pilih satu mainan saja ya. Sementara kalian milih, mama duduk di kursi itu." Kutunjukkan kursi tempat Kang Mas sedang beristirahat. "Nanti kalau sudah ketemu panggil Mama." Anak-anak yang soleh, baik hati dan tidak sombong ini setuju. Ada kali 20 menitan bergerilya mereka muterin nyari, akhirnya manggil. Sebuah permainan tembakan air. Karena Si Sulung mainnya lumayan ahli, berkali-kali dia dapat bonus tambahan waktu sampai pinggang saya pegel nungguin. Sedangkan si bungsu sudah KO di ronde pertama.

Kuserahkan kartu kepada kakanda, "Cuman kepakai 10ribu loo ... hebatkan?" Kerlingku. Coba saja dia yang nangkringin bocah, yakin deh 15 menit kartu sudah maasalamah.

Bagaimana dengan janji hadiahnya? Kebetulan besok harbolnas (Hari Belanja Online Nasional) yes... moga dapat diskon 90 persen hahahhaha..