Apr 7, 2018

Tidak Apa-apa

Tidak apa-apa hari ini sebagai loper koran, tukang bersih-bersih, buruh cuci, ataupun asisten rumah tangga. Selama pekerjaan itu halal, jangan berkecil hati apalagi rendah diri. Tapi jangan lama-lama. Sejatinya memang hidup seperti roda pedati, kadang di bawah kadang di atas. Kadang ringsek kadang diinjeek. Teruslah berputar dan merangkak ke atas. Jangan lupa sekali-kali lihatlah ke bawah. Lihatlah sudah berapa jauh meninggalkan kenangan. Kelak, saat semua terlewati, semua kepayahan dan kesusahan akan menjadi moment yang menggelitik untuk dikenang.

Hari ini, mungkin mereka menghina, tidak mau berteman,  bahkan menjauh. Adakalanya menzolimi karena kekurangan ataupun kelemahan yang melekat pada diri kita. teruslah berjuang di jalan kebaikan. Tidak perlu terlalu sibuk memikirkan apa yang telah mereka perbuat. Fokus saja dengan mereka yang menyayangi secara tulus.

Orang yang kita sayang dengan sepenuh jiwa berhianat, kekasih pergi tanpa kabar, teman menusuk dari belakang, hal-hal yang kita jaga pergi dengan cara yang menyakitkan. Sakit hatikah? Wajar. Pengen nangis sampai guling-guling? Silakan. Meratap-ratap kenapa nasib sebegitu menyedihkan? Boleh. Tapi jangan lama-lama. Jangan lupa untuk bangkit, tersenyum dan jadilah pribadi yang lebih kuat.

Kita kecewa dan sakit hati sebegitu besar karena menggenggamnya terlalu erat. Ada waktu dimana ia harus dilepaskan walau perih menyayat-nyayat. Kelak di kemudian hari yang entah kapan, kita baru akan menyadari begitulah caranya Tuhan menyayangi kita. Kita dipertemukan dengan orang-orang yang salah hingga bisa menghargai orang-orang  benar. Kita dikasih kegagalan agar lebih memahami arti perjuangan dan pencapaian. Tuhan tempatkan kita di tempat yang semestinya dan memberikan kado terindah walau bungkusnya bagi kita kadang tidak sempurna.

Salammm ....

Hidup Hemat Ala Wong Solo

Belasan tahun yang lalu, tepatnya saat kurs sekitar Rp 10.000/dolar. Itulah awal-awal menginjakkan kaki di kota Solo. Saya sempat nge-kost selama kurang lebih satu-dua minggu bersama kumpulan mahasiswi. Saat itu mereka mengajak saya untuk masak bersama dengan harga patungan Rp 15.000 untuk dua kali makan dalam sehari. Jelas saja saya kaget, limabelas ribu rupiah seminggu? Enggak salah hitung neh?

Saya manut, makan siang pertama menunya nasi, sayur bening plus tempe goreng. Murah meriah dan bergizi. Masaknya bareng-bareng.

Hingga beberapa tahun kemudian saya resmi menjadi warga Solo raya. Di tempat penjualan sayur mentah dan pernak perniknya kadang saya memerhatikan. Apa saja yang mereka beli. Satu kresek plastik cukup besar isinya lumayan penuh tapi mereka hanya membayar sekitaran Rp 20 ribuan.  Isinya sayur hijau 2-3 ikat, tempe berpapan-papan besar, satu bungkus tahu, bumbu instan dan satu buntelan kecil cabe.

Tentu saja ini tidak berlaku bagi semua penduduk Solo, tapi menurut saya ini adalah salah satu bentuk hidup sederhana dan hemat.

Berdasarkan sumber koran Jawapos pada bulan november tahun 2017,
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menegaskan bahwa penetapan UMK 2018 untuk 35 kabupaten/kota berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015, untuk kota Solo UMK Rp 1.668.700.

Di beberapa perusahaan swasta bahkan masih ada yang memberikan upah yang lebih kecil dari UMK, Rp 500.000-1.000.0000. Seperti yang dituturkan oleh kerabat saya yang bergerak dibidang outsourcing penyedia jasa keamanaan kantor - satpam. Upah mereka sekitar Rp 750.000. Saya sempat bertanya, apa mereka bekeluarga? Jika iya, bagaimana mereka bisa menghidupi keluarga sehari-hari. Apa istrinya kerja? Anaknya sekolah? Ia menjawab gaji segitu cukup. Istrinya tidak bekerja dan anaknya tetap sekolah, dan ia menggunakan sepeda motor.

Bagaimana caranya?  Dengan menyederhanakan hidup. Anak bersekolah di SD Negeri.  Dan hanya sekali-sekali membeli lauk hewani.

Solo memang masih terkenal dengan kuliner murah meriah. Menurut saya harus sedikit diralat, karena lebih tepat jika menjadi 'Solo masih banyak memiliki wisata kuliner yang murah meriah,' tapi untuk kuliner high class juga uaaakehhh. Tapi lagi, warung-warung yang ramai plus bejubel rata-rata dimiliki warung dengan harga standarisasi nasional untuk wilayah Solo, enak dan bergizi.

Kalau tidak sempat memasak sendiri alias ala-ala mahasiswi super sibuk misalkan. Satu orang untuk urusan makan, dengan uang Rp 10.000 bisa bertahan hidup selama satu hari, insha Allah tanpa obat mag dan  tolak angin.

Begini caranya:
Pilihan menu pagi adalah: nasi liwet, soto seger, cabuk rambak, gendar pecel. Di beberapa tempat harganya masih bisa ditemukan Rp 3.000

Untuk makan siang: Nasi sayur plus tempe, sukur-sukur ada sambalnya. Rp 4.000.

Makan Malam: Soto atau sego kucing. Sego kucing adalah nasi yang dibungkus dengan ukuran kecil bertemanan sejumput ikan bandeng dan sambel. Harganya Rp 3.000.

Bisa juga masak nasi sendiri, sayur di warung seharga Rp 2000 - Rp 3000, sudah bisa buat 2-3 orang. Dan lauknya kembali kepada tahu dan tempe, kisaran harga Rp 500-Rp 1000 per potong.

Warung-warung di atas dapat dijumpai di area sekolahan, pabrik dan emperan-emperan jalan.

Apr 5, 2018

Memilih Pemimpin

Sebentar lagi musim pilkada, dilanjut pilpres. Oh, rasanya baru kemarin saat perang urat syaraf di beranda-beranda. Bahkan unfolow plus unfriend massal terjadi di medsos.  Oh, rasanya baru kemarin saat media dan iklan gencar mengkampanyekan idolanya. Haish ... ternyata usia saya semakin tua saja.

Sebenarnya saya masuk kategori paling males bahas politik. Sepertinya tidak ada juga keluarga saya yang terjun ke dunia ini. Politik bagi saya lebih sering keberpihakan, berubah-ubah dan runyem bin mumet. Tapi sebagai warga yang berusaha baik, tentu saya harus memilih terbaik dari paling balik juga sebaliknya.

Saya termasuk yang tidak bersuara di permukaan sebelah manakah keberpihakan yang saya tentukan. Senetral netralnya seseorang pasti ia ada kecendrungan memilih satu di antaranya. Menjaga hubungan kekeluargaan, pertemanan dan silaturahmi adalah hal jauh lebih utama. Walau mungkin berbeda pendapat dan pilihan. Tidak apa-apa berbeda tapi kita tetap Indonesia. Toh di dalam bilik suara hanya kita dan Tuhan yang tahu. Kalau ada temen dan saudara sedang koar-koar tentang idola mereka dan kebetulan kelak ia bukan pililihan kita, dengerin saja. Jangan dibantah apalagi diperunyam. Kadang mereka hanya butuh didengarkan.

Saya menganggap memilih pemimpin seperti memilih pasangan hidup dengan jangka waktu tertentu, dan pilihan itu akan dimenangkan oleh voting suara terbanyak keluarga. Saat pilihan seperti yang diinginkan, berbahagialah tapi jangan berlebihan apalagi sampai merendahkan keluarga yang kalah. Karena pilihan kita itu juga manusia bukan dewa. Kelak pasti akan tampak sesuatu yang bisa saja bertentangan dengan harapan.

Tapi semisal yang terjadi malah sebaliknya, seseorang yang terpilih adalah sosok yang tidak kita sukai jangan pula berlebihan hingga buta segalanya. Yang tampak hanyalah kejelekan dan kejelakan. Kacamata menjadi buram bahkan awan putih terlihat hitam. Jangan...

Ada beberapa sikap yang bisa ditempuh saat itu terjadi:
1. Yo wess ben, piye meneh .. jalanin saja. Toh siapapun pemimpinnya kalau kita nggak gawe yooo ora mangan. Kalau ora sinau yoo ora pinter, Iya toh? Live must go on, move on broh....

2. Memaki-maki dan terus mencari kejelekan, berharap bisa mendapatkan pasukan kemudian kita merasa puas. Dan terus memuja pilihan yang kalah. Membanding-bandingkan. Terus saja seperti itu, tiba-tiba kita semakin tua. Mendekati pemilu, hayokkk digodok meneh.

3. Dukung dan awasi. Jika itu bersifat baik dan demi kemashalatan masyarakat, bangsa dan negara, dukunglah. Bagaimanapun ia akan tampil di luar dan membawa nama Indonesia tempat kita lahir, besar dan mungkin kelak kembali. Yang berdiri di pemerintahan bukan presiden semata, atau gubernur, walikota tapi sebuah tim. Mereka mewakili kita. Jadilah warga yang baik, kalau tidak bisa minimal tidak menjadi warga yang nyebelin.

Bilang malu lah jadi warga Indonesia, bilang Indonesia beginilah begitulah... terus membanding-bandingkan dengan negara luar, bikin meme meme aneh, tapi tetep menghirup udara indonesia, masih makan beras indonesia, masih tidur di atas rumah yang didirikan di tanah Indonesia, terus koar-koar Indonesia jelek. Ora isin opo?

Yang bilang Indonesia itu jelek, saya yakin karena kebanyakan nonton berita politik dan kriminal. Matiin hape dan tivinya sejenak. Minimal ganti canel yang ngademin. Cobalah sering-sering tongkrongin wisata dan travel plus kuliner tanah air. Betapa Indahnya bumi kita ini. Mari kita jaga bersama-sama.

Salam Merdeka!