Apr 1, 2016

My activity (2) Pesona Sungai Maron, Pacitan

Setelah pensiun dini dari rumah sakit negeri seberang, kang mas memutuskan untuk berwira usaha sendiri. Jatuh bangun, nyungsep bahkan terjungkal di awal-awal merintis usaha telah di jalani. Kerja dari pagi hingga pagi kembali. Sampai sekarangpun masih di lakoni. Dengan keyakinan dan ke uletannya, sedikit sedikit buah hasil karyanya mulai kami cicipi. Setiap minggu dia berusaha mengajak kami ke tempat yang indah, walau kadang hanya ke luar rumah dan mengajak anak anak bermain di taman.

*****


Minggu kemarin, kami mengunjungi Pantai Ngiroboyo, Pacitan. Anak-anak sangat senang berada di pantai. Menyaksikan deburan ombak dan sepuasnya bermain pasir.

Mengambil jalur Sokuharjo, berangkat mulai pukul 10 pagi. Segala persiapan dan bekal,  tak lupa mainan anak anak biar mereka tidak terlalu jenuh selama di kendaraan. Kurang lebih 3 jam perjalanan tanpa henti kami tiba di lokasi. Sekitar 3 kilometer sebelum pantai, kami harus melewati jalan yang cukup sempit dan terjal, bahkan hanya bisa di lewati satu kendaraan roda empat. Ketika berpapasan dengan mobil lainnyan, maka salah satu harus mengalah mundur sampai mendapatkan jalan lebih untuk memberi kesempatan yang lain lewat. Di sana sudah ada beberapa anggota masyarakat  bersiaga di tempat tempat rawan. Bahkan anak-anakpun ikut serta sambil membawa 'celengan' untuk di beri sumbangan ala kadarnya.

Birunya laut seakan menyambut kedatangan kami. Cuaca cukup terik saat kami tiba, namun tidak menyurutkan kegembiraan anak-anak. Sempat beristirahat sebentar kemudian mas Kukuh memutuskan untuk segera menyusuri sungai.

Inilah salah satu tujuan utama wisata yang di sajikan di Pantai ini. Menyusuri Sungai Maron dengan perahu bermotor. Mulanya kami berniat berbarengan dengan yang lain, berhubung perahu bisa di tumpangi hingga 8 orang, *bisa hemat juga maksudnya* Lama menunggu ternyata orang orang sudah berombongan masing masing, akhirnya kami memboking satu perahu sendiri. 100 ribu rupiah untuk satu perahu, kami siap di antar menikmati pemandangan di aliran sungai Maron.

Karna sedang pasang, air berwarna coklat susu. Kata pak Perahu, di hari biasa air jauh lebih jernih. Kicauan burung dengan pemandangan pohon kelapa di sepanjang pinggiran sungai, dan beraneka ragam tumbuh-tumbuhan seakan mengingatkanku dengan kampung halaman nenek di Hulu Sungai, Negara, Kalimantan. Sesekali ku ceburkan kaki dan tanganku ke sungai, anak-anak begitu gembira, menjadi pengalaman tersendiri pertama kali menaiki perahu bermotor.
Kurang lebih 1 jam perjalalan pulang pergi kami tiba kembali di pinggir pantai. Pantai dengan pasir besi cukup membuat telapak kaki seperti berjalan di atas belanga panas, yeahhh... sangat panas. Aku memesan es kelapa muda utuh dan makan siang ala kadarnya. Di sini tidak ada yang jualan menu seafood, atau mungkin karna sedang tidak berlayar.

Kami bergantian menunggui bocah bocah  bermain pasir yang seakan tak mengenal kata lelah. Ombak cukup tinggi, membuatku harus selalu siap siaga jangan sampai bocah bocah keluyuran mendekati ujung pantai.

Penduduk di daerah sini sangat ramah terhadap wisatawan. Mereka tak segan segan menolong, mereka juga sangat menjaga lingkungan. Ikan ikan di jaring dengan cara tradisional seperti pancing dan jala. Tidak boleh satupun yang menggunakan setrum, putas ataupun sejenisnya. Sepertinya juga mereka cukup gaul, ada slogan slogan yang terpasang diantaranya "air sumber kehidupan", "mari jaga lingkungan" dan yang paling ku ingat hinga sekarang "selamatkan anak cucu kita dari bahaya kurang piknik" yeaaaa...  slogan terakhir ini harus kita kampanyekan sampai pelosok bumi nusantara.
Sekitar jam 5 sore, kamipun memutuskan untuk kembali pulang.

#OneDayOnePost

13 comments:

Indri Mulyani Bunyamin said...

Tulisan sekali duduk ini? Keren... ngalir dan bisa membuatku seolah2 ada di sana... keren mba

Indri Mulyani Bunyamin said...

Tulisan sekali duduk ini? Keren... ngalir dan bisa membuatku seolah2 ada di sana... keren mba

Wiwid Nurwidayati said...

iya..tulisan sekali duduk kok keren ya
garuk-garuk kerudung. Masih perlu rentang waktu lama untuk bisa seperti itu

HERU WIDAYANTO said...

Keren ...
Pingin kesana agh

lisa lestari said...

duuuhh kalau posting suatu tempat, aku pengeeen kesana

Raida said...

Tenanannnn mba, keknya meragukan kalau termasuk keren deh :p

masih perlu bertapa 7 purnama dan mandi 7 mata air dari negara berbeda *ngarep* baru bisa di bilang keren beneran :(


Btw, aslinya ngga duduk tapi sambil tengkurapan dan selonjoran biar kelar untuk menuntaskan edisi selanjutnya :D

Raida said...

Tulisan mba Wiwid jauh lebih bagusss, aku masih sering belepotan dan menulis sa karep dewe, yang penting hari kerja bisa nyetor dengan amann hehhe

Raida said...

Mari laksanakan...*lempar senyum*

Raida said...

ayuuuukkk mbaa, aku siap jadi bodyguard biar ngga di ganggu ikan hiu kepala item :D

Sasmitha A. Lia said...

weww?? ini tulisan sekali duduk??

mbak Raidaaaaaaaaa... ajarin aku nulis sekeren ini dalam sekali duduk..T_T

Raida said...

Udah punya bahan di otak, poto di edit jauh2 hari jadi tinggal ngetik :D

Kerennnnnn????? masihhhhh jaohhhhhhh....huwaaa...

Fika AJ said...

Jadi, pantai atau sungai toh, Mbak?

Bingung aku.

Apa aku kurang piknik, ya? -,-

Raida said...

Disana ada aliran sungai yang bernama Sungai Maron, dan mengarah ke pantai Ngiroboyo tapi masih berada di satu wilayah. Bayangkanlah huruf L, begitulah kira2 posisinya hehehe..