May 19, 2016

Hari ke-13: Perjalanan Menuju Jepara

Walaupun kesepakatannya akan berangkat jam 5 subuh, apa daya segala urusan di dapur dan pernak perniknya baru kelar pukul 5.30 wib.

Minggu pagi yang cerah, langit begitu bersih dengan semilir hembusan bayu. Anak-anak memakai jaket dan celana panjang. Sejak tadi malam anak-anak begitu antusias, manut saat di minta bobo lebih awal dan bangunpun tanpa melakukan pemberontakan sama sekali.

Di hari biasa, saat di minta sikat gigi dan cuci kaki serta pernak perniknya bakal keloncatan ke sana ke mari, masuk kamar mandi yang satu melarikan diri. Saat merebahkan diri tentu di barengin jumpalitan di sambi keluyuran, belum lagi ngedongeng atau baca cerita yang entah keberapa kali harus di ulang-ulang. Dan Alfie tentu saja harus di elus-elus sampai terlelap.

Dalam rangka memenuhi janji kepada Ananda Rafa, saat dia sakit kemarin hari ini, tepatnya Minggu 9 Mei 2016 kami meluncur ke bumi Kartini, Jepara.

Awal perjalanan cukup lenggang, memasuki area perbatasan Solo Porwodadi antrian kendaraan mulai terlihat. Perbaikan jalan aspal memaksa kami untuk lebih bersabar menunggu giliran dari arah berlawanan yang juga memakai jalan yang sama. Tim juru jalan siap sedia mengatur arah lalu lintas agar tidak saling bertabrakan. Walaupun telah tertulis sepeda motor ikut antri ternyata masih banyak penerobos jalan.

Sekitar jam 8 pagi, kami singgah sebentar di pom bensin daerah Grobokan. Alfie dan Rafa sempat tertidur. Pasukan menuju kamar mandi memenuhi panggilan alam. Perbekalan seadanyapun segera di gelar, satu termos kecil nasi putih, telur mata sapi, mie goreng, saos barbeque yang ternyata kelupaan di bawa pasangannya, spagheti instan.

Menu cukup sederhana, tapi semua makan begitu lahap entah karna lapar atau karna tidak ada pilihan lain. Masing-masing mengambil satu porsi dan melahapnya dengan sempurna. Rafapun makan begitu semangat setelah di iming-imingin di Jepara nanti memerlukan stamina ekstra, sedangkan Alfie terlihat kurang bersemangat, aura ngantuknya mungkin masih terasa hanya beberapa suapan saja dia makan.


Perjalanan berlanjut, memasuki kota Demak jalan yan di tempuh cukup sempit. Hanya bisa di lalui satu kendaraan besar dan satu kecil, jika berpapasan sama-sama besar maka salah satu harus mengalah mencari posisi terbaik, terutama saat berpapasan dengan truk atau bus. Kami juga menyaksikan sebuah sedan sekelas Honda Jazz nyungsep ke area halaman rumah penduduk. Kaca depan bagian supir remuk, dan depannya ringsek nyaris separu. Anak-anak kampung nampak mengerumuni mobik tersebut. Sepertinya kecelakaan terjadi pada malam hari, terlihat beberapa polisi mengatur arus lalu lintas.


Di beberapa wilayah, kami melewati aliran anakan sungai dan rawa, uhm.. berasa seperti di Kalimantan. Bahkan gapura-gapura yang bertuliskan kaligrafi arab, menambah suasana Islami di kota ini.

Tibalah saatnya memasuki Kota Jepara. Di sepanjang jalan begitu banyak ukiran kayu khas Jepara, mata pencaharian penduduk setempat memang terkenal sebagai pengusaha mebel. Bahkan drum bekaspun bisa di sulap menjadi kursi tamu yang menawan dan artistik.

Ingin rasanya aku mampir sekedar melepas lelah dan memanjakan mata menikmati ukiran kayu mini yang sekilas terlihat begitu menggoda. Sayang, kendaraan yang kami tumpangi terus melaju hingga sampat ke tempat tujuan 'Ocean Park'

#OneDayOnePost
#EdisiCeritaBersambung

2 comments:

Na said...

Perjalanan bayar hutang ke Rafa ini namanya. 😀😀😀

Sakifah Ismail said...

Pantes yg paling semangat Rafa :-D