May 5, 2016

Hari ke-3 part 2: Radang tenggorokan?

Menurut perkiraan dokter, aku akan lahir pada tanggal 24 Juni 2008. Rencananya mama akan ngambil cuti 10 hari sebelumnya, mama ingin lebih lama bersamaku ketika lahir. Tapi aku ingin memberi kejutan special buat mama dan papa. 

Sebelum aku terlahir ke dunia banyak sekali teman-teman mama di tempat kerja yang perhatian dan sayang. Mama sudah menganggap mereka seperti keluarga sendiri. Kadang aku merasakan hangat-hangat jemari mengelus-ngelus dinding rumahku. Ada yang geli ada yang berdecak kagum dan juga ada yang takut. Maklum saja mama wanita pertama yang ketahuan hamil di tempat itu. Teman-teman mama kebanyakan laki-laki, sedangkan perempuan masih banyak yang single.

****************

Menjelang jam 12 siang, saatnya menjemput Alfie. Langsung di tagih sama dia "ayoooo ma, nyari mainan"

Semenjak Rafa sakit, Alfie menjadi malas berangkat sekolah "maaaa.. aku mau libur, nunggu sabtu itu masih lama" rengeknya suatu hari ketika mengetahui kakaknya tidak masuk sekolah . Berbagai macam cara dan upaya membujuknya agar berangkat dan berbagai alasan pula ia pakai agar bisa holiday di rumah. Bahkan luka lama di kakipun di ungkit kembali "maaa.. ini looo sakit" mukanya sesekali meringis, pandai sekali ini bocah.

Baiklah mama menyerah, karna toko mainan hanya berjarak beberapa meter dari sekolah, jadi ke sekolah di janjiin pulangnya beli mainan. Saat Alfie sekolah, tentu aku bisa maksimal bersama Rafa. Hanya dalam kondisi tertentu kami lebih longgar membelikan mereka mainan. Setiap kali mereka (seringnya sih Alfie) menginginkan mainan, biasanya langsung aku doktrin "punya mainan banyak itu emang keren, tapi anak hebat bisa bikin mainannya sendiri"

****

Sampai rumah batinku begitu gelisah, bagaimana Rafa sekarang. Di ambil darahnya kah? Atau hanya di kasih resep. Perutku berasa mual, pikiranku berkecamuk, melayang ke mana-mana, waktu terasa sangat lambat. Ku biarkan Alfie yang sedari tadi sibuk dengan mainan barunya. Ya Allah.... separuh jiwaku seakan berada tidak pada tempatnya. Walaupun jam makan siang telah tiba, aku sungguh kehilangan nafsu makan, menunggu dan terus menunggu.

Ku ambil hp, ada notif panggilan tak terjawab dari line mas Kukuh. Segera ku foto mainan yang baru kami beli tadi, sekantong plastik kecil bombik dan sebuah sepeda motor mini, send. Telepon berdering, Rafa duduk di kursi belakang dengan lebih ceria. Dia bilang barusan makan bakso dekat rumah sakit, hanya di kasih obat-obatan dan bisa pulang. Indikasi pertama dia terkena radang tenggorokan.

Radang tenggorokan? Jujur aku sedikit pesimis saat dokter bilang radang tenggorokan. Beberapa pekan yang lalu Alfie di vonis radang tenggorokan. Sempat sehari minum antibiotik tapi tidak ada peningkatan, menjelang hari ke-4 langsung ke RS dan masuk UGD karna hari itu adalah hari minggu, semua poliklinik sedang tutup. Ketika di adakan test lab baru di ketahui secara pasti dia positif thypus. Karna diketahui lebih awal, thypus yang di derita Alfie masih tahap ringan, memungkinkan hanya rawat jalan.

Kasus radang tenggorokan selanjutnya adalah mas Kukuh sendiri. Sehari setelah menikah, dia terserang demam berkelanjutan. Beberapa hari kemudian periksa ke dokter di sebuah rumah sakit, dia di diagnosa mengalami radang tenggorokan. Walaupun telah di tembak antibiotik berdasarkan resep dari sang dokter, keadaannya semakin memprihatinkan. Kembali ke rs dan di lakukan test darah, positif terkena demam berdarah.

Sebenarnya beberapa tahun yang lalu, Rafa sempat juga di diagnosa mengalami peradangan pada tenggorokannya, entah benar atau tidak setelah minum antibiotik diapun sembuh.
****
Kulihat Rafa dengan santainya memakan pisang, sambil terus mengoceh dengan video call yang terus menyala. Sepertinya kekhawatiran akan test darah telah hilang dari pikirannya. Rafa mendapat resep sebotol tempra penurun panas di minum 3x sehari, dan SPORETIK Cefitixime untuk di minum 2x sehari selama tujuh hari.

Separuh jiwaku yang hilang kembali untuh bersamaan kepulangan ananda Rafa. Dia langsung membongkar mainannya. Sesaat hatiku lega, berdoa dan selalu berharap semuanya akan baik-baik saja, yah mungkin ini memang radang tenggorokan. Menjelang sore, harapan itu kembali runtuh, suhu tubuhnya kembali meningkat.

#OneDayOnePost
#edisiceritabersambung

1 comment:

Sasmitha A. Lia said...

waahh.. harus tetep selalu waspada sama radang tenggorokan ya kak?