Mar 10, 2016

Asapmu Membunuhku (part 2)

Pertengahan Desember 2011 
pukul 18.05

Rintik hujan masih membasahi tanah di sekitar rumah. Suasana begitu syahdu, Adzan magrib berkumandang. Setelah suami menunaikan solat magrib kami berangkat menuju klinik terdekat. Semua telah dipersiapkah, kakak di suapi ibu dan akan menyusul. Ku pamiti dia "yang nurut sama mbah ya le, mama pergi dulu" dia hanya menganguk polos.

Semakin lama intensitas kontraksi semakin cepat. Suamiku begitu setia di sampingku, menyemangati dan mengajakku berzikir, sesekali pijitan halus mengusap belakang punggungku. Ini pertama kali dia mendampingi proses kelahiran anak kami, ketika anak pertama dulu dia sedang tugas ke luar kota.

"Sudah pembukaan empat bu" kata bidan yang terus memantau keadaanku.

Tepat pukul 9 malam lahirlah malaikat kecil. Suamiku memeluknya erat, begitu takjub degan kebesaran yang Maha Pencipta. Perjuanganku berjam-jam terbayar sudah sesaat melihat sosok mungil nan rupawan. Perawat meletakkannya di dadaku,  seorang bayi mungil seperti merangkak naek, mengusap ngusapkan hidungnya, menjilat-jilati perutku, mencari puting ibunya.

Dia berhenti, mungkin kecapean. Tapi..., kurasakan badannya beberapa waktu lalu masih hangat sekarang mulai membeku, napasnya tak beraturan, tersenggal-sengal, ini tidak wajar.

Aku begitu cemas, mungkinkah suhu ruangan membuatnya seperti itu?
"Ayah, kok tole badannya semakin dingin?"
Suamiku membantu memperbaiki posisiku dan segera memanggil perawat.

Tidak berapa lama setelah itu, dokter memeriksa keadaan bayi kami. Ada aura kekhawatiran  terpancar dari raut wajah  sang dokter. Si kecil segera di pindah ke ruang pemeriksaan yang lebih intensif.

"Maaf, sepertinya ada masalah dengan jantung anak bapak dan ibu, harus segera di rujuk ke rumah sakit"

Seperti batu karang menimpa seluruh persendianku, bayiku beberapa menit yang lalu di gendonganku dalam keadaan sakit? Ini pasti mimpi, kenapa aku? Kenapa anakku? Ibu dibelahan manapun pasti akan meminta "ya Allah aku saja... jangan dia, dia masih terlalu kecil" rasanya ingin berteriak histeris, rasanya ingin memeluknya terus.. ini pasti mimpiii, mimpiiii... tolong bangunkan aku, ya Allah kuatkan anakku.

Kami hanya menangis, berpelukan dan terus berdoa "selamatkan anak kami ya Allah.. selamatkan, kami mohon"

Karena keadaanku yang belum begitu stabil pasca lahiran, hanya mas yang menemani bayi kami saat di bawa ke rumah sakit. Hatiku begitu gundah, berdoa dan terus berdoa, air mata tak hentinya mengalir. Detik terasa begitu lambat, bumi seakan berhenti berputar.

"Ibu, aku ingin menunggu di rumah saja" ku ajak ibuku untuk pulang. Tak kuasa menahan rasa, mencium obat obatan, ku harap di rumah bisa sedikit lebih tenang.

Pukul 23.15
"Ayah, tole gimana keadaanya?" - sms terkirim.

Kenapa belum ada jawaban, masih terlalu gentingkah di sana, apa yang terjadi? Tolonggggg kabari akuuu.... anakku, yang kuat sayang.

Pukul 23.35
"Ayah.... tole gimana?" - sms terkirim

Pukul 00.12
"Tole tidak apa apa, istirahatlah"- sms terbaca

Hatiku sedikit lega,  sesuatu yang menghimpit napasku terasa lebih longgar, ada secerah harapan menghapus lara di hati. Tak terasa mataku terlelap di iringi tubuh yang sangat letih.

Pukul 03.10
Keadaan cukup riuh, lampu ambulan memancar remang-remang dan berputar masuk di sela-sela dinding kamar. Dengan sedikit tertatih akibat jahitan di jalan lahir yang masih sangat basah, kupaksakan diri keluar kamar memastikan keadaan.

Suamiku berdiri di depan pintu, mempercepat langkah dan memelukku erat. Sesegukan, berusaha menenangkanku. Firasatku semakin tidak nyaman, ada apa? Kenapa semuanya terasa begitu kelabu? Bukankah beberapa saat yang lalu dia bilang anak kami tidak apa-apa?

"Tole dimana ayah....!!! ayahhh tole mana?" Air mata kembali menghujani pipiku.

 "sabar ya bu, too... leee sudah tiada"

"Toooooleeeeeeeee..... toleeeeeeeeeee.... toleeeeeeee......!!!" Tubuhku ambruk seketika Kerongkonganku tercekak, pandangan menjadi gelap.

Pusara mungil bertabur bunga, andai saja ibu bisa menggantikanmu, andai saja ibu diberi kesempatan sekali saja menemanimu. Mengapa umurmu begitu singkat? Belum puas rasanya menciumi aroma tubuhmu, belum sempat kau bermain dengan kakakmu. Tunggu ibu di surga ya... kami akan selalu menyayangimu.

Tak lupa ku tabur bunga dan doa di sebelah peristirahatan anakku.

"Bapak, titip tole yah... tolong jaga dia selalu untuk kami" rasanya baru kemaren peringatan 100hari kepergiaan ayahnda tercinta, karna penyakit yang sama "jantung"

true story from a best friend

*****

Asapmu membunuhku (part 1)

#OneDayOnePost

7 comments:

denik said...

Takdir memiliki jalannya sendiri. Apa pun itu cuma sabar pegangan terbaik.

Sasmitha A. Lia said...

jadi sedih sekali membacanya mbak..T_T apalagi ini berdasarkan true story.. semoga mereka selalu kuat dan tabah.. aamiin..

Andriyes Malini said...

Ya Allah, sedihnya. Semoga sahabat mba diberikan kelapangan hati. Aamiin

Ciani L said...

True story ? Ga kuat cuma bayangin nya aja..

lisa lestari said...

sediiihhh..langsung nangis...

Wiwid Nurwidayati said...

Mbrebes mb bacanya

siti janiah said...

Ga bisa mbayangin, jika aku yg mengalami sndiri.
Smoga tetep diberi ksabaran..